Saturday, September 30, 2006

Menghirup "Udara Surga"




Masjid Sunda Kelapa, yang terletak di kawasan Menteng Jakarta Pusat, adalah gerbang "surga dunia" bagiku. Di masjid yang tidak jauh dari Taman Suropati itu aku melepas masa lajangku. Selepas shalat Jum'at, tanggal 8 September 2006, acara mukaddimah pelepasan keperawanan dan keperjakaan digelar. Baru mukaddimah lho, belom sampai intinya. Ya kalau prosesi inti bertemu Tuhan via surga dunia kan tidak mungkin dilakoni di masjid.

Ubaid thanks to:

Kalau tak ada partisipasi orang-orang ini, acara perkawinanku, kayaknya, tak kan bisa digelar syahdu dan khusuk. Yang pertama, matur suwun kepada Pak Imam Subhi, dosen UIN Jakarta dan aktivis PPSDM, yang telah memberikan sambutan atas nama keluarga dari Sembayat, juga kepada Pak Edi "Cuk" Prasetio, Ketua Foksika PMII Ciputat, yang bersedia menjadi saksi dari pihak keluargaku. Kemudian, Pak Khatibul Umam, Guru Besar Bahasa Arab UIN Jakarta juga sesepuh PMII Ciputat, sebagai pemberi nasehat perkawinan, terima kasih atas wejangannya, meski agak konservatif.

Tak lupa kepada Bu Inji, ibu kosku, yang memberi tumpangan pengiring dengan dua mobilnya, sungguh kebaikan yang tak bisa aku balas, karena tak punya mobil he.. he... Pengarah acara Bejo, master of ceremony Suhud, bagian foto Gendol, dan Miftah, thanks atas bantuannya, kalian adalah teman-temanku yang terus membantuku sejak di kepengurusan PMII Cabang Ciputat 2004-2005. Spesial buat teman-teman padepokan Koweng dan Ciputat School, teruslah memeras otak dan berkarya.

Yang satu ini juga spesial bagi aku, kawan-kawan Syir`ah magazine, pinum pak Alamsyah, terima kasih atas bantuan segepok uang untuk kelancaran acara ini, Fathuri, Hamim, Nasrul, Adung, Adri, Ingwuri, dan lainnya yang belum ku sebut. Oh ya, Cak Mas'ud terima kasih atas uang pinjamannya, kalau aku uda punya pasti tak balikin, juga teman-teman Elsas, Paramuda, Image, PMII Ciputat, Lapis Budaya, Garda Nusantara, Bonjumonzu... tak kuasa aku membalas kebaikan kalian. []


Wednesday, September 20, 2006

Antara Idealisme dan Pasar

Oleh Abdullah Ubaid Matraji

Ada kepentingan dominan dalam bisnis majalah Islam: memilih idealisme atau lebih melayani pasar. Tak ayal, jika kompromi sebagai jalan keluar.

Rahasia Ilahi, Takdir Ilahi, Kuasa Ilahi, Titipan Ilahi, Astaghfirullah, Taubat, Hidayah, adalah tayangan yang beberapa waktu lalu laris manis ditonton. Tayangan-tayangan itu menyebar hampir di semua stasiun televisi. Begitu tombol power TV dipencet, pada parttime (waktu utama, jam 19.00-21.00) bisa dipastikan, sinetron-sinetron religius itu pasti akan muncul.

Membludaknya sinetron religius ini tak lepas dari kisah sukses Rahasia Ilahi yang ide ceritanya bersumber dari majalah Hidayah. Rating tayangan itu mengungguli berbagai tayangan. Kenyataan ini menurut hasil survey Ac Nelsen, sebuah lembaga survey dari Amerika Serikat.

Di luar tayangan televisi, dari segi oplah dalam waktu yang singkat (tidak lebih dari tiga tahun) majalah yang mengumbar jargon Sebuah Intisari Islam ini juga telah mampu merajai pasar industri majalah di Indonesia dan menyalip ‘pemain-pemaian’ lama yang cukup terkenal. Analisis ini diungkap majalah periklanan, promosi, dan kehumasan, Cakram, pada edisi Khusus Majalah dan Tabloid, Juni-Juli 2004.

Berdasarkan penelitian Nielsen Media Reserch tahun 2004, Hidayah bertengger di posisi teratas dalam kategori 10 majalah dengan pembaca terbanyak. Persis di bawahnya, ada majalah Aneka Yess. Sedangkan Tempo berada di posisi buncit. Paska itu, pertengahan tahun 2004, stasiun televisi swasta berbondong-bondong untuk menayangkan film yang ceritanya bersumber dari majalah-majalah Islam.

Fenomenal memang. Edisi perdana, Agustus 2001, Hidayah hanya mencetak 10 ribu eksemplar dan itu dipasarkan lewat masjid-masjid pada hari Jum’at. Belum setahun, melonjak menjadi 100 ribu eksemplar. Bahkan, tahun 2005 tirasnya mencapai 380 ribu eksemplar. “Perkembangan ini bisa dibilang bak meteor,” kata Ridwan selaku pemimpin redaksi majalah yang baru saja menerima penghargaan Indonesian Best Brand Award dari majalah SWA ini.

Sebelum Hidayah, majalah Islam yang pernah mendulang sukses adalah Sabili. Setelah beberapa tahun paska terbitnya menjadi majalah underground, terbit sembunyi-sembunyi tanpa Surat Izin Untuk Penerbitan dan Pers, tahun 1998 Sabili mengubah diri menjadi majalah yang profesional. Tirasnya pun melesat. Mulai dari 17 ribu, 20 ribu, 40 ribu, hingga sampai menembus angka 100 ribu eksemplar. Puncaknya yaitu saat berkecamuk konflik di Ambon, tahun 2000-an.

Ini adalah sejarah pertama majalah Islam menempati peringkat teratas dipentas nasional. “(Hal ini menunjukkan) kehadiaran Sabili tidak hanya disambut oleh tokoh-tokoh Islam, tapi juga umat Islam secara menyeluruh,” urai Aswin.

Terbukti di tahun 2005, berdasarkan survei Nielsen Media Reserch, Sabili adalah majalah dengan pembaca terbanyak umur 20 tahun ke atas, di bawah majalah Hidayah. Selain itu, majalah yang berkantor di Cipinang Cimpedak Jakarta Timur ini juga menyabet kategori media dengan pembaca laki-laki terbanyak.

Kenyataan ini, membuktikan bahwa Islam sebenarnya sudah tidak lagi pada wilayah periferal, kalangan pinggiran yang tidak laku ‘dijual’. Menurut pengamatan Ahmad Suaedy, Meski ada media-media umum, seperti Tempo, Gatra, juga Forum, media Islam tetap digemari oleh kelompok masyarakat yang membutuhkan informasi secara spesifik. “Pergerakan industri majalah Islam yang amat dominan ini merupakan pasar potensial sebagai lahan bisnis,” kata peneliti dan pengamat media Islam dari The Wahid Institute ini.

Maka sebuah kewajaran, jika fenomena Sabili kala itu mengilhami lahirnya media-media Islam yang lain. Majalah yang kali pertama terbit setelah tragedi Tanjung Periuk 1984 ini bisa dibilang pelopor, setelah media-media Islam yang lahir sebelumnya tidak mampu bersaing.

Kehadiran Sabili diikuti antara lain oleh Ummi dan Annida. Lalu, paska reformasi muncul pula Saksi, Tarbawi, El Fata dan Tatsqif. “Kehadiran media-media di atas bisa jadi karena kepeloporan Sabili, bahkan tidak menutup kemungkinan karena tidak puas pada sajian Sabili,” ujar Aswin yang juga pernah bekerja di harian Kompas dan Pikiran Rakyat.

Majalah-majalah yang seirama dengan Sabili ini menurut Eriyanto dan Amir dari Cakram orientasinya masuk kategori ideologis. Apa itu ‘media ideologis’? “Media yang berangkat dari idealisme untuk memperjuangkan misi tertentu. Seandainya ada perubahan tren, maka tetap konsisten dengan misi utama,” kata Eriyanto, analis media pada Institut Studi Arus dan Informasi. Sebut saja Annida. Media yang kali pertama terbit tahun 1991 ini diterbitkan sebagai media dakwah Islam untuk para pelajar dan remaja Islam. Awak redaksinya pun rata-rata adalah jebolan Lembaga Dakwah Kampus.

Begitu pula dengan Suara Hidayatullah dan Syir’ah, juga tergolong media ideologis. Misi Hidayatullah adalah mengusung pemurnian tauhid dan penegakan syariat Islam. Sementara Syir’ah, berkeinginan untuk menyebarkan ajaran Islam yang toleran, terbuka, dan anti kekerasan.

Untuk kategori yang kedua, adalah media-media yang berorientasi pasar. Di antaranya adalah majalah Paras, Alia, Hidayah, Al-Kisah, dan Noor. Lalu ada Nurani dan MQ untuk bentuk tabloid. Di antara media-media ini Hidayah yang paling fenomenal.

Menurut pengakuan Ridwan, kesuksesan majalah ini juga mengilhami terbitnya media-media Islam baru, semisal Hikayah, Sajadah, Alkisah, Ghoib, dan banyak lagi yang lain. Semuanya mengandalkan cerita-cerita mengikuti tren yang sedang populer.

Harun Musawa, pemimpin redaksi Alkisah, tak menampik. Majalahnya yang sudah memasuki tahun keempat ini juga berangkat dari tren. “Ya.. realistis sajalah, kita juga tidak mau ketinggalan tren..,” kata suami pemilik PT Aneka Yess ini.

Di sisi lain ada beberapa majalah yang memilih segmen tertentu, berbeda dengan yang lain. Lihat saja, saat Anggun terbit tahun 2005. Menurut pengakuan pemimpin redaksi Imam Ma’ruf, terbitnya majalah ini memang karena kecerdasan seorang pimpinan dalam menangkap pasar. “Maka, terbitlah Anggun yang mengambil segmen yang masih kosong, pernikahan Islam,” terangnya.

Walau berangkat dari sebuah tren, satu sama lain punya prinsip dasar. Majalah Muslimah satu misal. Pemimpin redaksinya, Irra Fachriyanthi, memegang prinsip, siapapun yang masuk majalah ini, pakaiannya harus menutup aurat. “Narasumber dan model iklan kalau perempuan ya harus pakai jilbab, meski sehari-hatinya dia tidak pakai jilbab,” tambah alumnus Politeknik Institut Teknologi Bandung ini.

Berbeda dengan Noor yang agak longgar dalam batasan. Kalau narasumber perempuan apakah harus berjilbab? “Tidak,” tegas pemimpin redaksi Noor Jetti Rosila Hadi. Narasumber akan ditampilkan apa adanya, tidak harus berjilbab. Hal ini bukannya tanpa alasan. Tila, panggilan akrabnya, menyitir sebuah pepatah, “Lihatlah apa yang dia katakan, janganlah melihat siapa yang berkata.”

Khusus untuk cover depan, Noor memilih figur yang memang saban harinya memakai jilbab. Untuk halaman-halaman Noor tak memberi patokan harus. “Mau berjilbab atau tidak, kalau dia pakar ya harus kita dengarkan pendapatnya,” kata ibu kelahiran Bukit Tinggi Sumatra Barat, tanggal 6 Januari 1956 ini.

Menurut Suaedy, Direktur Eksekutif Wahid Institut, yang cukup lama di penerbitan LKiS Yogyakarta, pada dasarnya media-media itu—baik yang ideologis maupun yang pasar—ketemu pada satu titik, Islam sebagai pasar yang dibidik. “Mereka semua berebut pasar,” katanya. Karena itu, isu yang dipilih pun bermacam-macam: mulai dari agama, politik, ekonomi, sampai dengan gaya hidup (life style). Demikian pula pada sisi segmen. Ada yang membidik anak, remaja, usia nikah, dan dewasa. Juga ada yang khusus diperuntukkan pembaca wanita. (Lihat tabel).

Bagaimanakah mereka meladeni pembaca? Harun Musawa punya pengalaman menarik. Usai solah Jum’at, tanggal 11 Agustus lalu, HP-nya berbunyi. Ternyata, ada SMS masuk dari nomor yang tak dikenal. Saat Syir’ah berkunjung ke kantornya di Jalan Salemba Tengah Jakarta Pusat, ia menunjukkan isi SMS itu.

“Assalamu’alaikum, Pak Harun. Tidak ada doa taubat para Nabi, yang benar adalah doa wasilah para Nabi. Poster dasar syekh Imam Maliki jangan merah dong...” Begitu bunyi pesan pendek itu. Ini adalah respon pembaca Alkisah edisi Agustus 2006. “Respon ini saya tanggapi dengan baik. Lain kali saya harus menghindari warna merah sebagai warna dasar poster,” kata pria berusia 49 kelahiran Semarang ini.

Ada lagi cerita dari majalah ekonomi Islam Modal Syariah Business. Pada mulanya, majalah ini bernama Modal. Majalah yang terbit sejak Oktober 2002 ini mengupas soal ekonomi Islam. Dengan nama yang umum itu, publik merasa canggung dan responnya minim. Akhirnya, Januari 2006 berganti nama menjadi Modal Syariah Business. Nama baru ini akhirnya membawa respon yang baik di pasar. “Meski kelihatannya sepele, ternyata nama membawa pengaruh yang luar biasa pada pembaca,” kata Guntur Subagja Mahardika, pemimpin redaksi Modal Syariah Business.

Beberapa cerita di atas adalah contoh kecenderungan media yang meladeni pasar. Ini juga terjadi pada media-media yang mulanya tergolong ideologis. Di awal terbit, Annida memang berdiri sendiri dan dibidani oleh keluarga yang berlatar Lembaga Dakwah Kampus. Karena tak kuasa menghadapi pasar, tahun 1993 mereka memutuskan untuk bergabung dengan manajemen Ummi Group. Kontennya pun dirubah. “Mulanya lebih banyak artikel dan feature. Saat bergabung dengan UMMI, spesifik pada sajian fiksi dan cerpen,” kata pemimpin redaksi, Ahmad Abrori.

Suara Hidayatullah pun demikian. Majalah yang digawangi oleh para ustad di pesantren yang ingin menegakkan syariat Islam ini, kini juga mengalami perubahan-perubahan akibat laju perkembangan pasar. Majalah yang pada mulanya diperuntukkan untuk santri dan alumni pesantren Hidayatullah kini diperluas pembacanya.

Demikian juga ihwal iklan. “Mulanya kita memang tidak ada iklan, namun kini iklan memakan tempat sekitar 10 sampai 15 halaman,” aku Saiful Hamiwanto, pemimpin redaksi. Karena perubahan itu, sebagian pembaca ada yang tidak puas. “Suara Hidayatullah komersil... kapitalis…” kritik salah seorang pembaca, yang diceritakan kembali oleh Saiful kepada Syir’ah.

Nampaknya, kompromi dengan pasar adalah suatu hal yang tak terhindarkan. Karena itu, tak ada lagi majalah Islam yang murni ideologis atau murni pasar. Kini, tergantung masyarakat, mau pilih yang mana? Kalau ingin tahu kontroversi ‘perda syariah’ dalam perspektif Sabili, belilah Sabili. Kalau ingin perspektif Syir’ah, belilah Syir’ah. Menurut Ibnu Hammad, kalau memang ditemukan perbedaan pendapat, ya dianalisis saja. “Ini milik siapa, dan yang itu punya siapa,” sarannya. []

Syir'ah/57/September/2006.

Mengintip Dapur Majalah Islam

Oleh Abdullah Ubaid Matraji

Masing-masing punya aktor dan latarbelakang yang tak bisa disamaratakan. Siapakah wajah-wajah di balik majalah-majalah Islam itu?

Duapuluh dua tahun silam. Ratusan umat Islam dibantai dan dibrondong peluru. Tanpa ampun. Massa kocar-kacir, jerit histeris, dan cucuran darah melumuri bumi Tanjung Priok. Tepatnya tanggal 12 September 1984, tragedi berdarah di daerah Jakarta Utara itu meletus. Peristiwa ini bermula dari ketidakpuasan umat Islam atas pemberlakuan Pancasila sebagai asas tunggal. Pada akhirnya, berujung pada pembantaian ratusan umat Islam di Tanjung Periok.

Suara umat Islam benar-benar terbungkam kala itu. Bahkan, forum pengajian keislaman dan majlis-majlis taklim harus mendapat izin dari pihak keamanan terlebih dahulu. Atas kegelisahan ini, beberapa anak muda mencari format ideal untuk menyuarakan dengung Islam yang ditutup rapat. Akhirnya, mereka merasa bersepakat perlu membuat media sebagai penunjang misi dakwah. Selang setahun lebih setelah tragedi itu, terbitlah sebuah majalah bernama Sabili.

Kisah ini diceritakan oleh Aswin Jusar, Pemimpin Redaksi Sabili, pertengahan Agustus lalu.

Karena manajemen yang belum rapi, edisi ini sekaligus menjadi edisi terakhir. Baru pada tahun 1988 Sabili kembali terbit. Sayang, Sabili hanya mampu bertahan sampai tahun 1993. Tak lama, angin reformasi berhembus. Pertengahan tahun 1998, Sabili terbit kembali di bawah PT. Bina Media Sabili. “Ini adalah edisi kebangkitan,” kata Aswin.

Di antara penggagasnya adalah Zainal Muttaqin dan Rahmat Abdullah. Zainal Muttaqin lahir di Labuan Banten, tanggal 13 Agustus 1963. Tahun 1988, ia menjabat sebagai pemimpin redaksi Sabili. Sebelum itu, ia tercatat sebagai reporter majalah Kiblat, salah satu majalah Islam yang terkemuka pada 1980-an. Pernah kuliah ilmu politik di Universitas Indonesia. Kemampuan jurnalistiknya juga diasah di majalah Risalah dan tabloid Salam di Bandung.

Jika Zainal lebih dikenal sebagai jurnalis, Rahmat Abdullah lebih akrab dengan dunia dakwah. Pria berdarah Betawi lahir tanggal 3 Juli 1953 ini wafat dalam usia 52 tahun. Mantan pemimpin umum Sabili ini adalah salah satu pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Saat pemilu tahun 2004, ia terpilih sebagai Anggota DPR RI dari PKS.

Sembari duduk santai di ruang tamu kantor Sabili, berukuran 3 x 4 dan bercat kuning muda, dengan penuh keakraban Aswin bercerita kepada Syir’ah. “Pada awal-awal berdiri, pembiayaan majalah Sabili dengan cara patungan, dan belum dikelola secara profesional.”

Model ‘pembiayaan awal’ dengan patungan ini juga dialami media-media Islam yang lain. Semisal Suara Hidayatullah, Annida, Wildan, dan Tatsqif. Media-media ini tergolong mandiri dalam mengembangkan usahanya. Mandiri maksudnya tidak punya grup atau kelompok usaha, dan tidak gabung dengan manajemen perusahaan lain.

Suara Hidayatullah, misalnya terbit pertama kali awal tahun 1988. Bentuknya buletin. Dan bulan Mei 1988 formatnya berubah menjadi majalah. Menurut keterangan Saiful Hamiwanto, pemimpin redaksi Suara Hidayatullah, majalah ini dibuat sebagai sarana komunikasi pesantren Hidayatullah pusat dengan cabang-cabangnya di berbagai propinsi.

Nama majalah diambil dari nama pesantren Hidayatullah di Balikpapan Kalimantan Timur. Berdiri pada tanggal 7 Januari 1973. Pendiri dan pengasuh pertamanya bernama Abdullah Sa’id (alm.). Ia aktif di bidang dakwah Islam. Di ormas Muhammadiyah, ia terlibat dalam kegiatan dakwah dan pengkaderan. Kegiatan dakwah ini dilakoninya sejak kecil.

Saat merintis pesantren Hidayatullah, ia didukung lima orang ustad: Usman Palese dari pesantren Persatuan Islam Bangil Jawa Timur, Hasan Ibrahim dari pesantren Krapyak Yogyakarta, Hasyim HS dari Gontor Ponorogo Jawa Timur, Nazir Hasan dan Kisman dari Akademi Tarjih Muhammadiyah. Pada akhirnya, melalui Musyawarah Nasional I tahun 2000, Hidayatullah mengubah bentuknya: menjadi organisasi kemasyarakatan. Dan, “Suara Hidayatullah menjadi salah satu badan usaha di bidang pers,” ujar Saiful kalem.

Di kota Solo Jawa Tengah, ada juga kantor redaksi majalah Islam. Namanya Wildan. Sayangnya Syir’ah tak sempat bertamu ke sana. Akhirnya, wawancara dilakukan via telepon dengan pemimpin redaksinya, Hadid Saiful Islam. “Wildan diterbitkan berlatar kekecewaan atas perkembangan dunia berbukuan dan media elektronik yang cenderung mengarah pada pornografi, pornoaksi, dan tayangan-tayangan tahayyul,” aku pria kelahiran 3 Juli 1973 ini.

Hadid Saiful Islam dan Misbah Abu Zakaria adalah dwi tunggal pada majalah yang terbit pertama kali bulan Juli 2001 ini. Hadid berperan sebagai pemimpin redaksi. Pria yang lahir di Salatiga Jawa Tengah ini jebolan jurusan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Surakarta. Ia berkecimpung di Yayasan Lajnah Istiqamah (YLI) dan Pesantren Imam Bukhari di Surakarta, dibawah pimpinan Ahmad Faiz Asifuddin. Ia juga aktif membendung gerakan kristenisasi di lembaga tersebut.

Sementara Misbah adalah pemimpin perusahaan. Selain merintis Wildan, ia punya andil di majalah remaja Islam El Fata yang terbit di Sukoharjo Solo dan majalah Islam dewasa As-Sunnah. Ia juga aktif di YLI. “Hingga kini, saya dan Misbah Abu Zakariya selalu bekerja sama untuk memajukan Wildan,” tegas Hadid.

Setahun belakangan ini, masih banyak bermunculan media-media Islam baru. Sebut saja Tatsqif. Keberadaannya ditopang oleh keinginan penggagas untuk bisa menyebarkan wawasan keislaman, khususnya di lingkungan sekolah dan kampus. Majalah yang edisi perdananya terbit pada bulan Februari 2005 ini digagas oleh empat orang: Ahmad Mukhlis alumnus Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta, Danang Wicaksono alumnus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Yuniarto alumnus Universitas Nasional, dan Marahnaik Harahap. Semuanya adalah mantan aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK), kecuali Marahnaik Harahap, dari kalangan pebisnis dan wiraswasta.

Dari mana mereka dapat modal untuk menerbitkan majalah? Ternyata jawabannya sama: patungan. “Modal awal bersumber dari empat penggagas itu. Lalu kita putar hingga saat ini,” terang Mukhlis selaku pemimpin redaksi majalah yang bisa dibilang baru seumur jagung ini.

Tak jauh berbeda, Annida juga digawangi oleh mantan aktifis LDK. Mulanya digagas oleh Dadi Kusradi (pemimpin umum), dan Dwi Septiawati (pemimpin redaksi). Dadi dan Septi adalah pasutri yang konsen pada dakwah. Mereka melihat ada kekosongan di segmen remaja Islam. Akhirnya berinisiatif untuk menerbitkan majalah di segmen remaja Islam. Septi alumnus Universitas Negeri Jakarta jurusan bahasa Arab dan Dadi dari fakultas Ekonomi Universits Krisna Dwipayana Jakarta.

Saat ditemui Syir’ah di bilangan Utan Kayu, pemimpin redaksi Annida Ahmad Mabruri berkisah. Awalnya, tahun 1991-1993, Annida dikelola oleh kelompok keluarga. Akhirnya September 1993 Annida bergabung dengan majalah Ummi, Ummi Group Media. Mengapa harus bergabung? “Biasalah.. kalau terbit sendiri kan kekurangan modal, jaringan, tenaga ahli, dan lain-lain,” terang alumnus jurnalistik IISIP itu.

Lika-liku berjuang sendirian memang berat, seperti yang pernah dialami media-media di atas. Karena itu, perlu usaha ekstra keras untuk bisa meraih sukses. Kenyataan ini berbeda halnya dengan media-media Islam yang punya grup dan modal lumayan gede. Contoh majalah Hidayah, Muslimah, Paras, Variasari, Anggun, dan Didik.

Media-media itu bersumber dari satu penerbit, PT. Variapop Group. Menurut pemimpin redaksi Hidayah Ridwan, grup ini berasal dari negeri jiran Malaysia, berdiri sekitar 30 tahun yang lalu.

Mustafa bin Haji Ton adalah orang di balik perusahaan yang bergerak di media massa Islam ini. Sosok praktisi dan pebisnis media ini berasal dari Malaka Malaysia dan Besar di Singapura. Ia menikah dengan Wirdaningsih Aminuddin Yunus, wanita asal Padang Sumatra Barat. Tahun 2000, ia mulai mengepakkan sayap bisnis media Islam di Indonesia, dengan menerbitkan tabloit Berita Indonesia, untuk para Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia.

Tahun 2001 ia meraup sukses dengan menerbitkan majalah Hidayah. Lalu disusul berurutan oleh majalah Muslimah (2002), Paras (2003), Variasari (2004), Anggun (2005), dan yang terakhir Didik (2006). Dengan model begini, mekanisme pendanaan awal bersumber dari perusahaan. Biasanya, “Ada mekanisme subsidi silang dari majalah lain yang lebih dulu,” terang pemimpin redaksi Anggun Imam Ma’ruf.

Hal yang sama terjadi pada majalah Alkisah. Majalah Islam yang pertama kali terbit tahun 2002 ini satu grup dengan majalah remaja Aneka Yess dan Keren Beken. Semuanya dibawah bendera PT. Aneka Yess. Penggagasnya antara lain Nunik Harun Musawa selaku direktur perusahaan dan Harun Musawa, suaminya, selaku pemimpin redaksi. Nunik terbilang lama bergelut di dunia jurnalistik. Pernah bekerja di majalah Mode, dan manager iklan di majalah wanita Femina. Harun Musawa pun demikian. Alumnus IISIP jurusan publisistik ini adalah mantan wartawan Tempo tahun 1970-1990.

Menurut Harun, Alkisah terbit dilatarbelakangi oleh pesatnya media-media Islam di pasar. Karena itu, PT. Aneka Yess juga harus menerbitkan majalah Islam. “Maka terbitlah Alkisah,” paparnya.

Pinpoin Publication juga tidak mau ketinggalan. Sebuah perusahaan yang bergerak di media massa pada bulan Mei 2003 ini menerbitkan majalah Noor, dengan segmen wanita muslimah. Ingin merangsang kaum perempuan agar bergairah untuk belajar agama Islam. Itulah ide awal mengapa Noor harus terbit. Penggagasnya adalah Mario Alisyahbana, Ria Alisyahbana, Ratih Sanggarwati, dan Jetti Rosila Hadi.

Mario dan Ria adalah putra pujangga angkatan ‘45 Sultan Takdir Alisyahbana. Ratih Sanggarwati adalah Artis dan aktivis perempuan. Dan Jetti adalah alumnus Planologi Institut Teknologi Bandung, dan pemimpin redaksi yang sekarang. “Selain Noor, grup Pinpoint Publications yaitu: Warta Ekonomi, Perkawinan, Lisa, Salon, Info Linuk, Indonesia Tatler, Audiopro, PC Media, Audia Video, Audio Interior, Audio Mobil, dan Mobil Motor,” kata Tila, panggilan akrab Jetti Rosila Hadi.

Majalah Modal Syariah Busines, yang fokus pada ekonomi, juga tidak berdiri sendiri. Media yang ingin menebar informasi seputar ekonomi Islam ini satu grup dengan Global Comm. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang marketing, komunikasi, dan public relation. Mempunyai tiga anak perusahaan. Pertama, Modal Multimedia, bergerak dalam bidang media-media Islam dan spiritual. Kedua, Ekbis Komunikasi, orientasinya pada bidang periklanan dan komunikasi pemasaran. Ketiga, Global Mahardika Netama, bergelut dalam bidang public relation, konsultasi, penerbitan.

Guntur Subagja Mahardika adalah direktur utama perusahaan yang berdiri sejak tahun 2000 itu, sekaligus pemimpin redaksi Modal Syariah Business. Pria kelahiran Purwakarta tanggal 2 Februari 1969 ini kenyang makan garam di harian Republika. Kurang lebih selama 10 tahun. Desk yang digelutinya ialah ekonomi dan politik.

Pendidikan terakhirnya ditempuh di program pasca sarjan Ekonomi Islam Universitas Indonesia. “Selain saya, Achjar Ilyas juga berperan sebagai penggagas Modal Syariah Busines,” paparnya. Waktu itu, Achjar Ilyas masih menjabat sebagai deputi gubernur Bank Indonesia. Ia lahir di Maninjo 10 Februari 1948.

Melihat kenyataan itu, tak ada salahnya kata pakar ilmu komunikasi dari Unversitas Indonesia Effendi Ghazali, “Meski sama-sama Islam, media-media itu satu sama lain punya identitas dan karakter masing-masing,” ungkapnya kepada Syir’ah usai mengisi acara dialog publik di Gedung Badan Sensor Nasional Jakarta Selatan. []

Syir'ah/57/September/2006

Melawan Arus, Terbentur Tembok!

Oleh Abdullah Ubaid Matraji

Media-media Islam yang aktif menyuarakan keterbukaan, keragaman, dan anti kekerasan kini kian himpit. Masihkah ada harapan?

Sebelum sampai buletin disodorkan, pengurus masjid itu menolak mentah-mentah.
“Anda dari mana?” tanya salah seorang pengurus masjid.
“Dari P3M Pak... saya mau mengedarkan buletin Jumat-an di masjid ini...” Jawab Kholid (bukan nama sebenarnya).

Begitu dengar nama P3M, pengurus masjid itu langsung emoh (Jawa. tidak mau Mengapa menolak? “Buletin ini bukan dari Majelis Ulama Indonesia atau lembaga Islam resmi yang lain,” terang pengurus itu.

Buletin yang bernasib nahas itu bernama al-Nadhar. Buletin yang terbit saban Jumat ini diterbitkan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, disingkat P3M, yang berkantor di Cililitan, Jakarta Timur. Hanya gara-gara bukan diterbitkan oleh lembaga Islam resmi, buletin ini terganjal. “Mungkin juga dikarenakan stigma beberapa kalangan, P3M dinilai sebagai lembaga Islam yang sesat, liberal, tidak islami, dan seterusnya,” kenang pemimpin redaksinya, Agus Muhammad, kepada Syir’ah.

P3M sejak awal berdiri, tahun 1983, dirancang sebagai wahana pemberdayaan masyarakat pedesaan dan pesantren, serta berupaya untuk meningkatkan kualitas kehidupan sosial masyarakat yang demokratis, adil, dan bermartabat. Pertengahan tahun 2002, lembaga ini menerbitkan buletin al-Nadhar, sebagai media dakwah yang bervisi menebarkah ajaran Islam anti-kekerasan, menerima perbedaan, dan memberi rasa aman kepada orang lain. Segmen yang disasar adalah umat Islam di masjid usai shalat Jumat. Orang-orang biasa menyebutnya ‘buletin jumatan’.

Serupa tapi tak sama, Warkah al-Basyar juga buletin jumatan. Kantor redaksi buletin yang pertama kali terbit bulan Juni 2002 ini terletak di Cirebon Jawa Barat. Wilayah distribusinya pada tahun pertama hanya di wilayah Cirebon, dengan daya jangkau sebanyak 20 masjid. Kini sudah berkembang pesat, hampir merata di beberapa kabupaten di propinsi Jawa Barat. “Sekarang perkabupaten ada 20 masjid yang sudah terjangkau,” papar Rosidin, Redaktur Pelaksana.

Namun, pada tahun ketiga buletin empat halaman ini menuai batu sandungan. Ada kelompok tertentu yang mengkampanyekan anti Warkah al-Basyar. Buletin itu dituding media perusak aqidah Islam. Kampanye itu disampaikan saat khutbah Jumat di masjid-masjid, “al-Basyar telah merusak agama,” kata sang khotib seperti yang diceritakan Rosidin.

Warkah al-Basyar berusaha menghembuskan wawasan keagamaan yang progresif: kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya dalam martabat, dan berkeadilan dalam tatanan kehidupannya. Cita-cita itu senada dengan keinginan Fahmina Institute, lembaga yang menerbitkannya. Berdiri sejak tahun 2001, digawangi KH. Husein Muhammad, pengasuh pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon.

Tuduhan yang sama juga menimpa al-Wasathiyyah, majalah yang terbit hasil kerjasama International Center for Islam and Pluralism (ICIP) dan Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI). BKSPPI memiliki ratusan jaringan pesantren se-Indonesia. Lewat tangan BKSPPI, majalah bertiras 3000 eksemplar itu dituding menjadi media yang berupaya menularkan paham ‘syirik modern’ di pondok-pondok pesantren. Langkah BKSPPI itu dinilai tak sejalan dengan fatwa MUI tentang keharaman sekularisme, liberalisme, dan pluralisme, biasa disingkat ‘sepilis’.

ICIP adalah lembaga yang menekuni isu-isu soal Islam dan pluralisme. Dikomandani doktor alumnus University of Melbourne, Australia dan mantan pemimpin redaksi Majalah Umat, Muhammad Syafii Anwar. Sementara BKSPPI lebih memfokuskan kegiatannya pada urusan kepesantrenan. KH Kholil Ridwan, salah satu ketua MUI pusat dan mantan kandidat Presiden RI yang diusung Partai Keadilan KH. Didin Hafiduddin tercatat sebagai pengurus organisasi ini.

Februari 2006 menjadi edisi perdana majalah yang terbit triwulanan ini. Melalui media ini ICIP ingin mengangkat tema-tema pemikiran keagamaan yang terbuka, toleran, dan menghargai keberagaman. Hadirnya media ini, menurut redaktur pelaksananya Ahmad Fuad Fanani, diharapkan menjadi media penyeimbang. “Sebab, selama ini, media Islam dikuasi oleh kalangan Islam fundamentalis,” kata Koordinator Jaringan Intelektual Muda Muhamadiyah (JIMM) itu.

Beberapa bulan sebelum al-Wasathiyyah terbit, lembaga yang dikepalai putri mantan presiden Abdurrahman Wahid Yenny Zanuba Wahid, The Wahid Institute (WI), menerbitkan buletin catur wulanan. Edisi pertamanya November 2005-Februari 2006. Buletin berukuran 25 x 30 centimeter itu bernama Nawala. Kehadirannya tak lepas dari visi WI. Sejak didirikan september 2004, WI becita-cita untuk mengembangkan demokrasi, pluralisme, dan Islam damai di Indonesia.

Nawala lebih mengangkat tema-tema yang aktual di masyarakat. Antara lain, isu agama dalam pemilihan kepala daerah, kontroversi perda syariat Islam di beberapa daerah, juga menyoroti perkembangan otonomi daerah. Menurut Gamal Ferdhi, buletin ini juga mengawal proses demokratisasi di daerah-daerah. “Jangan sampai agama dipolitisir untuk kampanye kemenangan salah satu parpol,” kata Pemimpin Redaksi buletin setebal delapan halaman itu.

Secara gratis, Nawala didistribusikan ke perusahaan, ormas Islam, partai politik, Dewan Perwakilan Rakyat, dan jaringan WI lainnya. WI juga aktif melakukan kampanye nilai-nilai pluralisme di majalah Gatra, majalah mingguan yang bermarkas di Kalibata Timur Jakarta, dengan menyisipkan ‘suplemen Islam’.

Media-media yang berusaha menggaungkan perdamaian, menghargai perbedaan agama, ras, dan identitas itu memang punya keunggulan tersendiri. Mereka punya visi yang kuat dalam menciptakan iklim demokratisasi dan kerukunan antar umat beragama. Indonesia sendiri bukanlah negera berpenduduk homogen. Masyarakatnya terdiri dari berbagai ragam suku, adat istiadat, agama, dan kepercayaan. Sebagian masyarakat percaya, masyarakat muslim Indonesia lebih moderat di banding negeri muslim di Timur Tengah. Media-media ini punya ceruk pasar sendiri. Media ini ingin menjadi penyemai damai, bukan malah menyulut konflik.

Ketika konflik bernuansa agama dan etnis meletus di Ambon (1999), Poso (2000), Sampit (2001), dan Aceh (1989-2005), sejumlah media massa memang tak jarang menjadi media penyebar kebencian dan propaganda. “Alih-alih menempatkan diri sebagai mediator dan agen transformasi konflik, sebagian media malah terlibat dalam penyebaran bahasa perang dan kebencian,” kata Eko Maryadi, Koordinator Advokasi Aliansi Jurnalis Independen.

Wartawan lepas di sejumlah media internasional ini berharap media-media penyebar damai itu terus tumbuh subur dan berumur panjang. Tapi itu masalahnya? Kebanyakan media ini tak seperti nasib media Islam pada umumnya. Beragam kelemahan menggelayut perjalan mereka. Misalnya soal kemasan yang tak tergarap maksimal. Desain dan tata letak masih dirasakan amat konvensional. Belum lagi soal isi dan bahasa yang disajikan yang masih “melangit”.

Ini dialami jurnal keagamaan dan kebudayaan Taswirul Afkar, jurnal yang terbit sejak 1997. Jurnal ini mengusung visi menebar wacana keagamaan dan kebudayaan yang lebih inklusif, toleran, dan pluralis. Seperti dituturkan Redaktur Pelaksana Ahmad Fawaidl Syadzili, dari sekian respon pembaca yang masuk ke meja redaksi, rata-rata komentar berputar soal sajian yang dinilai terlalu berat, susah dimengerti, dan kurang nge-pop. Kendala ini bukan kasus khusus Taswirul Afkar. Ghalibnya jurnal-jurnal lain, pasar media ini tersegmen di kalangan berpendidikan menengah ke atas. “Kita sadar, jurnal ini susah dimengerti oleh masyarakat akar rumput,” kata pria berdarah Madura itu.

Jurnal terbitan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) itu mensasar segmen pembaca dari kalangan pesantren, akademisi, dan pengamat Nahdlatul Ulama. Lakpesdam NU didirikan bertepatan dengan ulang tahun NU yang ke-61, yakni tahun 1985. Organisasi itu diniat bisa menjadi kanal penggemblengan sumber daya manusia yang konsisten pada visi kerakyatan, demokratisasi, dan gerakan civil society.

Kendala penyajian bahasa dialami Swara Rahima. Buletin yang mengusung isu-isu perempuan ini bercita-cita mewujudkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dalam penyajian bahasa, buletin yang terbit tahun 2001 ini terkesan ekstra hati-hati. Terutama paskafatwa MUI tentang vonis haram pluralisme.

“Kita tidak menggunakan istilah pluralisme lagi, tapi dengan istilah keragaman,” kata Leli Nurrahmah, salah satu dewan redaksi. Mengapa? Masyarakat sering salah faham dalam mengartikan istilah yang digunakan Swara Rahima. Misalnya istilah pluralisme. Gara-gara beda pemaknaan, terjadi salah paham. Akhirnya pluralisme divonis haram. Menurut Leli, sekarang ini Swara Rahima berusaha untuk tidak mengangkat hal-hal yang bisa membikin kontroversi.

Seperti nama akhirnya, buletin ini diterbitkan Rahima, lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dalam perspektif Islam. Segmen yang dibidik, kalangan pesantren, perempuan secara umum, dan akademisi.

Terutama untuk buletin jumatan, kendala yang dihadapi lebih banyak soal sempitnmya jaringan distribusi. Mereka yang dicap agen-agen Barat itu kesulitan masuk masjid. Sebagian besar masjid “dikuasai” jaringan media-media Islam yang disebut-sebut berkarakter fundamentalis. Umumnya para pengurus masjid beralasan, isi media-media ini tak sejalan dengan ajaran Islam. Belum lagi soal stigma liberal, pluralis, sekuler seperti disebut dalam fatwa MUI. “Kelemahan kita adalah, kita tidak mampu menangkis serangan fitnah itu, akhirnya kita yang jadi korban,” kata Rosidin yang kantornya pernah disatroni beberapa ormas Islam gara-gara dianggap tak mematuhi fatwa MUI soal pluralisme.

Kalau begini, bagaimanakah prospek media-meda itu? Mampukah media-media itu bertahan? Me¬nu¬rut pengamat media Islam dan Direktur Uta¬ma PT. Mizan Haidar Baqir, laju perkem¬bang¬an itu tergantung pada media yang ber¬sangkutan. Kalau memang media itu be¬¬¬nar-benar terbuka dengan segala bentuk kha¬zanah pemikiran dan peka terhadap aspi¬rasi masyarakat, maka masa depannya akan ce¬rah. “Jika tidak, jangan berharap ada masa depan,” ujar alumnus Harvard University ini. []

Syir'ah/57/September/2006

Apel, Buah Ajaib

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Pernahkah anda makan buah apel? Bagaimana rasanya, enak bukan? Ghalibnya orang doyan buah ini karena lezat dan legit, serta terasa nyes.. nyes.. kalau digigit. Namun, jarang yang tahu apakah keistimewaan dibalik buah itu.

Tidak sekadar enak dimakan. Kasiat apel tak kalah dengan yang lain. Zat yang terkandung di dalamnya mampu melarutkan garam dan air yang berlebihan di dalam tubuh. Karena itu, apel sangat cocok mengobati tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan stroke. Sari buah apel juga mengandung kalsium yang menjaga kesehatan tulang, membantu mengalirkan gerak syaraf, mengatur kontraksi otot, dan berperan aktif sebagai agen anti kanker.

Dibanding yang lain, buah ini telah menjadi saksi sejarah sejak zaman bahala. Konon, buah ini menyebabkan Nabi Adam dan Siti Hawa terusir dari surga. Dalam al-Qur’an diistilahkan dengan syajarah al-khuld, buah khuldi, buah keabadian. Kamus-kamus Arab mengistilahkan, buah yang dimaksud adalah tuffâhah, buah apel. Tuffâhah âdam artinya jakun atau kalamenjing.

Bahkan, ada riwayat yang unik. Alkisah, malaikat Jibril bercerita kepada Rasulullah saw. Pada mulanya, Nabi Adam diciptakan Allah dari tanah, lalu ditiupkan ruh kepadanya. Selepas itu, Allah memerintah Jibril untuk mengambil buah apel, kemudian memeras saripatinya dalam mulut Adam.

Nah, “Tetesan yang pertama itu adalah engkau wahai Muhammad,” kata malaikat pembawa wahyu itu. Dan.. tetes kedua sampai kelima secara berurutan adalah Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali. Kemudian, Allah berfirman, “Lima orang itulah yang aku anggap mulia dibanding yang lain.” Begitulah riwayat dari Anas bin Malik dalam kitab al-Riyad al-Nadlrah, ibadah untuk kebugaran spiritual.

Sepanjang zaman, apel begitu dekat dan terus memberikan kontribusi bagi kehidupan manusia. Misalnya, gara-gara melihat apel jatuh dari pohon, seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi dan juga ahli kimia dari Inggris, Sir Isaac Newton menemukan ‘teori gravitasi’.

Ada juga, Steve Jobs, seorang publik figur dalam bidang komputer dan industri entertainment dari California. Ia memilih buah apel sebagai sebuah merek komputer, yang hingga kini masyhur di dunia. Dan sekitar tahun 80-an, penyanyi asal Malaysia Anita Sarawak pernah sukses mempopulerkan lagu Tragedi Buah Apel di Indonesia.
Apel memang buah ajaib. [AUM]

Syir'ah/57/September/2006

16 September 1931, 'Singa Padang Pasir' Dihukum Gantung

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Selama 20 tahun, kehidupan pria yang lahir tahun 1858 itu dihabiskan untuk berjuang menentang penjajah di Libya, Afrika Utara. Cobaan bertubi-tubi dan getar-getir perjuangan adalah menu tiap hari, yang mau tak mau harus ditelan. Keteguhan prinsip dan keteladananan sikapnya itu menggugah produser film di Amerika Serikat Musthafa Aqqad, untuk mengangkat kisahnya dalam film yang berjudul Lion of the Desert, singa padang pasir, yang dirilis tahun 1981.

Lelaki tegap dan gagah perkasa itu bernama Umar Mukhtar. Bulan Oktober 1911 adalah kali pertama Umar Mukhtar mengobarkan semangat perlawanan rakyat Libya terhadap bangsa Italia. Waktu itu, orang-orang Italia menginjakkan kakinya di Libya untuk menjajah dan menguasai aset-aset rakyat. Pertempuran demi pertempuran tak terelakkan lagi. Antara lain di daerah Al-Hani dekat Tripoli, Al-Rmaila dekat Misrata, dan Al-Fwaihat dekat Benghazi.

Selang setahun, Maret 1912, pertempuran meluas ke wilayah Al-Fwaihat dekat Benghazi dan Wadi Ash-Shwaer dekat Derna. Kemenangan terbesar perjuangannya adalah saat bertempur di Al-Gherthabiya, dekat Sirt, pada bulan April 1915. Italia kedooran, terbirit-birit, bahkan kehilangan ribuan bala tentara.

Meski begitu, wilayah yang dikuasai rakyat Libya satu per satu akhirnya jatuh ke tangan penjajah. Sebagai strategi perlawanan balik, tahun 1922 Umar membentuk kelompok pejuang anti-penjajah Italia, yang berpusat di The Green Mountain atau disebut Al-Jabal Al-Akhdar (gunung hijau), bagian Tenggara Libya. Perlawanan pun berkobar kembali.

Untuk meredam bara perlawanan, pemerintah pusat Italia mengutus panglima Badolio. Pria bengis yang terkenal haus darah itu diizinkan pemerintah untuk membunuh rakyat sipil, baik di desa maupun di pegunungan, yang dicurigai membantu Umar dan bala tentaranya. Tak lama kemudian, diktator Italia, Bennito Musolini, juga mengirimkan panglima Rodolfo Grasiani, yang tak kalah kejamnya seperti Badolio.

Pertempuran yang tidak seimbang itu, mengakibatkan para pejuang kedodoran. Hampir semua warga Libya dipaksa penjajah Italia untuk hidup di kamp-kamp konsentrasi, tempat kumpul para tahanan perang. Dan pada akhir tahun 1930, sebanyak 55 persen dari 80 ribu rakyat Libya meninggal di kamp-kamp tersebut. Sementara, pada tahun 1931, kondisi para pejuang yang bermarkas di pegunungan kehabisan stamina, stok makanan dan obat-obatan pun ludes. Dan sang pemimpin gerilya Umar Mukhtar jatuh sakit.

Usia senja dan kondisi tubuh yang menurun membuatnya tak kuasa untuk memanggul senjata dan meneruskan perlawanan. Akhirnya, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Tepat tanggal 16 September 1931 di kota Solouq, lingkaran tali tiang gantung itu menjerat leher Sang Pahlawan dihadapan ribuan rakyat Libya. Atas kegigihan dan kebaraniannya, pahlawan yang lahir di kota kecil Zawia Janzour Libya itu digelari ‘singa padang pasir’.

Italia mampu berkuasa di Libya hingga tahun 1943 saja, akibat kekalahannya di Perang Dunia II. Lalu, Libya jatuh ke tangan Inggris dan Perancis. Dan baru pada tanggal 24 Desember 1951 Libya kembali meraih kemerdekaannya. [AUM/WIKI/IRIB]

Syir'ah/57/September/2006

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger by Pemuda - Premium Blogger Themes