Thursday, July 13, 2006

19 Juli 711 M, Lembaran Baru di Spanyol

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Sejak tahun 597 M, daratan Eropa dikuasai oleh bangsa Gotic, bangsa barbar dari Jerman, Eropa Timur. Penguasa terakhirnya adalah raja Roderick, penguasa kerajaan Visigoth di Andalusia, kini disebut Spanyol. Ia dikenal sebagai raja yang kejam, sadis, dan otoriter. Akibatnya: kondisi sosial, politik, dan ekonomi negara yang terletak di Eropa Barat Daya itu tidak menentu.

Di tengah carut-marut itu, sebagian besar penduduk yang beragama Kristen dan Yahudi mengungsi ke daratan Afrika. Kala itu, Afrika adalah daerah yang terkenal makmur dan menjunjung semangat toleransi yang tinggi. Karena itu, mereka dapat berteduh serta mendapatkan keamanan dan ketentraman hidup di tanah nenek moyang sahabat Nabi yang berdarah Negro itu, Bilal bin Rabah.

Dari sekian banyak pengungsi, ada yang bernama Julian. Ia adalah Gubernur Ceuta, daerah di Andalusia, yang putrinya, Florida, telah dinodai oleh Roderick. Karena tak kuasa melawan, ia memohon kepada Musa bin Nushair, Gubernur Afrika Utara untuk membebaskan negerinya dari cengkraman raja yang culas itu.

Atas persetujuan Al-Walid bin Abdul Malik, Khalifah keenam Bani Umayyah yang berkedudukan di Damaskus (kini Syiria), Musa bin Nushair memerintahkan Thariq bin Ziyad untuk memimpin 7.000 pasukan menuju Andalusia. Thariq adalah budak yang dimerdekakan oleh Musa bin Nushair, kemudian masuk Islam dan dipercaya sebagai panglima perang.

Tanggal 3 Mei 711 M, Thariq menyeberangi selat Andalusia dengan kapal, kurang lebih sejauh 13 mil. Setelah mendarat, Thariq mengumpulkan seluruh pasukannya di atas sebuah bukit karang, tingginya 425 m dari permukaan laut. Kini bukit itu dinamai Jibraltar atau Jabal Thariq (bukit Thariq).

Di tempat ini Thariq memerintahkan pasukannya untuk membakar seluruh kapal yang mereka gunakan. Lalu ia berseru, “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya punya dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini, atau kita semua akan binasa.”

Seruan itulah yang membakar darah juang pasukan Thariq. Terbukti, pada hari Ahad, 28 Ramadhan atau 19 Juli 711 M, Thariq berhasil melumpuhkan pasukan musuh yang berjumlah 25.000 orang, dan menancapkan panji-panji keadilan di bumi Andalusia.

Peristiwa ini merupakan pintu awal berkembangnya peradaban Islam di Spanyol, dan Eropa pada umumnya. Negeri ini, kala itu, telah melahirkan tokoh-tokoh Islam terkemuka. Semisal, Al-Zahrawi: pencetus teknik operasi di dunia kedokteran, Al-Zarqalli: penemu alat pengukur jarak bintang dari horison bumi, Ibnu Rusyd: pemikir yang membangun relasi antara ilmu pengetahuan-agama-etika, dan lain-lain. Pemerintahan Islam di wilayah ini mampu bertahan selama 8 abad. [AUM/Kotasantri]

Syir'ah, Edisi 55, Juli 2006.

Kekerasan Terpuji dan Kekerasan Tercela

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Kendati mulanya tidak percaya hukum, kini FPI dan FBR mulai menggunakan jalur-jalur hukum. Betulkah ada sinyal-sinyal tobat dari aksi kekerasan?


Gugatan itu tercatat dengan nomor 3268/K/IX/2005/SPK Unit III tertanggal 22 September 2005. Tidak seperti biasanya memang. Respon FPI dalam kasus foto bugil
Anjasmara di pameran seni rupa CP Biennale 2005 itu tidak menggunakan kekerasan. Tapi dengan somasi.

Mungkin saat itu adalah hari baik bagi aktor pemeran Si Cecep ini. “Untung saja dia tidak langsung digrebek atau dihujani pentungan oleh lasykar FPI,” kelakar pengamat Intelijen Wawan H. Purwanto saat ditemui Syir’ah di Plaza Kalibata Jakarta Selatan. Pameran yang bertajuk Urban/Culture itu digelar di Museum Bank Indonesia Jakarta. Sedianya, pameran ini berlangsung selama satu bulan, mulai dari 5 September-6 Oktober, tapi karena ada masalah jadi terpaksa distop di tengah jalan.

Foto yang menjadi sumber masalah itu adalah hasil kolaborasi karya pelukis Agus Suwage dan fotografer Davy Linggar, dengan mengangkat tema Adam dan Hawa di Taman Eden. Dalam foto itu, Anjas yang berperan sebagai Adam tidak sendirian. Ia ditemani Hawa, yang diperankan oleh model jelita Isabela Yahya.

Saat mendatangi Polda Metro Jaya, Jakfar tidak sendirian. Selain bersama-sama puluhan lasykar, ia juga didampingi penasihat hukum FPI Amir Jusuf Ali SH. Ia menandaskan, visualisasi Nabi dengan foto telanjang telah menyesatkan dan menghina umat Islam karena Adam adalah Nabi pertama yang digelari alaihi al-salam, jaminan keselamatan dari Allah. Selain Anjas, FPI juga melaporkan Isabele, Dafy Linggar, dan penyelenggara pameran.

Kasus ini tidak berbuntut panjang, semuanya telah dibereskan melalui jalur hukum. Pada tanggal 13 Pebruari 2006, kuasa hukum FPI Sugito SH telah mengirimkan surat pencabutan gugatan ke Direktorat Reserse Kriminal Polda Metro Jaya bernomor 307/BHFPI/U/II/2006.

Mekanisme hukum seperti ini juga pernah ditempuh FPI saat bersitegang dengan majalah Playboy, tapi tidak semulus kasus FPI-Anjas. Bulan oktober 2005, sekelompok anak muda gaul dan enerjik menemui ketua FPI Habib Riziq di suatu tempat dekat seketariat FPI di Petamburan Jakarta Timur. Mereka ingin berkonsultasi secara baik-baik tentang rencananya untuk menerbitkan majalah Playboy.

Rizieq memberikan dua saran, tentang nama dan isi majalah. Soal nama, ia menganjurkan mereka agar tidak menggunakan nama Playboy karena konotasinya tidak bisa dipisahkan dari unsur pornografi. Sedang terkait dengan isi, Rizieq menganjurkan penggagas Playboy yang terdiri atas para anak muda berusia antara 20 hingga 30 tahun itu untuk tetap menjunjung tinggi norma-norma agama.

Tampaknya saran itu masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tanggal 6 April lalu, Playboy tetap terbit tanpa ada perubahan nama dan isi. Rizieq pun geram. Nasehatnya tidak digubris. Selang seminggu, Riziq menggerakkan ratusan massa FPI ke arah Maskas Besar Polri. Di tempat itu, ia mengadukan sembilan orang kepada polisi. Mereka adalah orang-orang yang terlibat dalam produksi Playboy Indonesia plus 26 perusahaan yang beriklan di majalah itu ke polisi.

Krak.. krak.. krak.! Di depan kamera para wartawan, Rizieq geram lalu menyobek majalah itu berkali-kali. “Ini majalah laknat.” Begitu teriaknya.

Matahari telah bergeser, sudah tidak tepat di atas kepala lagi. Massa bergerak ke Kejaksaan Agung, lalu menerangsek ke Jalan TB Simatupang Cilandak Jakarta Selatan. Begitu pas di depan kantor Playboy di gedung ASEAN Aceh Fertilizer (AAF), massa tak kuat menahan emosi. Tiba-tiba.. prang..!! tar.., prang..!! dar.. dar.. dar.. Batu-batu itu beterbangan dari kerumunan ratusan massa menghantam kaca gedung APP.

Para karyawan yang sebagian besar wanita itu tampak ketakutan. Diam-diam, sambil mengendap-endap, mereka meninggalkan Gedung AAF lewat pintu belakang. Untung saja tidak ada yang memergoki. Aksi pengerusakan ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar 20 menit. Setelah kaca-kaca gedung itu pada remuk, lasykar-lasykar itu membubarkan diri.

Kekerasan lagi.. kekerasan lagi.. Nampaknya, organisasi yang telah tersebar di 24 profinsi ini tidak punya niat untuk menjadi ormas yang baik-baik dan bertobat dari aksi-aksi kekerasan. Bagaimana sebenarnya fenomena ini?

“Lho.. anda jangan salah pengertian,” sela Ahmad Shabri Lubis. Kekerasan itu ada dua, kekerasan terpuji dan kekerasan tercela. Kekerasan yang dilakukan oleh FPI adalah kekerasan terpuji. Sebab, dalam rangka nahi munkar, mencegah kemungkaran.

Ia mengaku meniru kelakuan Rasulullah Muhammad. Saat peristiwa Fathu Makkah Rasulullah pernah menghancurkan 365 berhala di sekitar Ka’bah. Nabi juga pernah memimpin perang sebanyak 28 kali untuk membela agama. “Apakah ini dinamakan kekerasan?” tanyanya balik. Inilah yang dimaksud dengan kekerasan terpuji itu. Untuk membenarkan sikapnya, dia juga mengutip surat al-Taubah ayat 73. “Hai Nabi, lawanlah orang-orang kafir dan munafik itu, dan bersikaplah keras terhadap mereka.”

Selain FPI, Forum Betawi Rempug juga agak melunak belakangan ini. Sejauh mana keseriusan mereka? “Kita lihat saja nanti perkembangannya,” ujar mantan ketua umum PP Muhammadiyah A. Syafii Maarif .

Somasi berbalas somasi adalah kisah perseteruan ketua umum FBR Fadloli El Muhir dan Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Bermula dari talk show. Dialog yang digelar Metro TV 1 Mei lalu itu ternyata ada buntutnya. Pada acara itu, Fadloli berulang kali menyatakan, “Peserta pawai Bhineka Tunggal Ika pada 22 April 2006 sebagai perempuan iblis, bejat, dan perusak moral bangsa.” Mendengar ucapan itu, emosi mantan ibu negara Sinta Nuriyah sontak naik.

Merasa nama baiknya dicemarkan, Sinta pun mensomasi pria berdarah asli Betawi itu, 18 Mei lalu. Dalam waktu 3x24 jam, Sinta meminta Fadholi agar menarik pernyataannya dan meminta maaf. Tiga hari telah lewat, tapi tak ada perkembangan apa-apa. Somasi itu tak digubris. Karena tidak ada tanggapan, Sinta pun melaporkan pengasuh pesantren Ziyadatul Mubtadiin itu ke Polda Metro Jaya pada Senin 22 Mei. Fadloli dijerat dengan pasal 156 KUHP tentang penyebaran permusuhan dan kebencian atas ras, keturunan, dan agama.

Begitu tahu dirinya dilaporkan, mantan aktivis Himpunan Mahasisswa Islam ini akhirnya naik pitam juga. Ia pun merasa nama baiknya sebagai kiai dan ketua ormas dicemarkan oleh istri Abdurrahman Wahid itu. Ia pun bermaksud membalas.

Selang sehari, ormas yang berkantor di Wisma Nusantrara Kuningan ini melaporkan wanita kelahiran Jombang itu ke Polda Metropolita Jaya. Pelapornya adalah Sekretaris Korwil VIII FBR Ahmad Irsan. Dalam laporan bernomor LP 1942 itu dinyatakan, istri tokoh NU tersebut dinilai pelapor telah menghina dan mencemarkan nama baik Fadloli, seperti dalam Pasal 310 dan 311 KUHP.

Terkait dengan laporan istri Gus Dur, pria yang juga wakil ketua Badan Musyawarah Betawi itu diminta hadir ke Polda Metro Jaya, Kamis 8 Juni lalu. Tapi, ia menampik panggilan itu. Para pengacaranya menilai, polisi tidak memiliki dasar memanggil kliennya. Sebab, Fadloli tidak melakukan tindak pidana. “Seharusnya polisi juga tidak menerima laporan dari Sinta karena laporan itu harus cukup bukti,” ujar Suhana Natawilwana, salah seorang kuasa hukum Fadholi.

Perbincangan somasi bak bola salju. Walhasil, 12 Juni lalu Fadloli datang ke markas Polda Metro Jaya untuk memenuhi panggilan polisi. Ia tidak sendirian. Ia bersama 2 pengacara, 3 saksi, dan 7 pengikutnya. “Kami dimintai keterangan atas laporan yang sebelumnya telah kami buat,” kata Pengacara FBR, Suhana Natawilana, di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta. Hingga kini perkara ini belum tuntas.

Hal serupa juga dilakukan FBR dalam kasus penghinaan al-Qur’an oleh mantan presiden RI Abdurrahman Wahid, 13 Juni lalu. Jam 10.15 WIB rombongan orang-orang dengan mengenakan pakaian serba putih dan bersorban tiba di Mabes Polri untuk menggugat Gus Dur. Selain bos FBR, juga ada perwakilan dari FPI, Majelis Mujahidin Indonesia, dan Hizbit Tahrir Indonesia, serta kiai-kiai dari Jateng, Jatim dan Jabodetabek.

Mereka ditemui Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komjen Pol Makbul Padmanegara di aula Bareskrim Mabes Polri. Gugatan ini adalah reaksi atas pernyataan Gus Dur pada acara Kongkow Bareng Gus Dur di Kantor Berita Radio 68H Jakarta, yang mengudara saban Sabtu pukul 10.00 sampai 12.00 WIB, lalu ditulis di situs Jaringan Islam Liberal dan dimuat kembali oleh koran Duta Masyarakat 6 April 2006. Saat itu Gus Dur berkelakar. “Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al-Qur’an, ha-ha-ha…,” ia tertawa terkekeh-kekeh.

Soal ini, Syir’ah bertanya kepada Fadloli. Mengapa dalam kasus Sinta Nuriah dan Gus Dur, FBR cenderung tidak anarkis? “Jangan salah sangka, FBR itu tidak selalu pakai cara-cara kekeran,” tegas Fadloli. Dalam bertindak, FBR menggunakan dua tahapan. Pertama FBR melalui jalur hukum. Tapi, jika jalur ini tidak sesuai dengan yang diharapkan, atau bertolak belakang dengan kenyataan dan keadilan, maka tidak ada jalan lain kecuali menggunakan cara kedua, dengan kekuatan massa.

Wakil penasehat pusat pengurus Pencak Silat Putra Setia ini yakin, FBR tidak pernah melakukan tindakan anarkis, tapi hanya sekadar menghajar orang-orang yang pro kezaliman. “Dalam penegakan kebenaran, tidak dikenal istilah anarkis.”

Khusus untuk menghadapi orang-orang semisal Gus Dur dan Sinta Nuriyah, yang kita lawan adalah pemikirannya bukan fisiknya. “Gimana kita lawan Gus Dur secara fisik, dia kagak bisa ngeliat... Begitu juga dengan Sinta, kalau pakai fisik kagak mungkin.. kan orangnya uda gempor...,” cetusnya enteng dengan logat Betawi. []

Tulisan ini adalah tulisan awal saya sebelum diedit oleh Redaksi Syir'ah, Edisi 55, Juli 2006.

"Polisi Swasta" di "Negeri Barbar"

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Aneh tapi nyata. Semua agama bermuara pada satu tujuan, perdamaian. Tapi, atas nama agama pula telah terjadi begitu banyak aksi kekerasan.


Allâhu akbar..! prang..ng..!!! Allâhu akbar..! tar.r..r..!!! Gemuruh dan suara sahut-menyahut takbir itu memecah keheningan sepanjang Jl. Latuharhari Jakarta, lima tahun silam. Percis suasana jamaah haji saat adegan lontar Jumrah di Mina Makkah. Ada kerumunan massa berpakaian serba putih dan mereka melemparkan batu ke arah yang sama. Bedanya, mereka ini tidak menyandang pakaian ihram dan sasaran lontarnya adalah kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (komnas HAM).

Hampir tidak ada kaca yang tersisa di gedung itu. Semuanya luluhlantak. Mulai dari jendela lantai satu dan dua, lampu-lampu taman, serta pos pengamanan depan. Lasykar-lasykar itu datang dengan mengendarai tiga truk, beberapa mobil bak terbuka, serta puluhan sepeda motor. Begitu sampai di depan kantor komnas HAM, tanpa ba bi bu mereka langsung turun dari kendaraan, dan menghajar gedung bercat putih dan berkaca riben hitam itu.

“FPI menuntut agar Komnas HAM dibubarkan,” tegas Alwi Usman, wakil kepala staf laskar FPI kepada wartawan. Dari Komnas HAM, mereka meluncur ke kantor Kepolisian Sektor Mampang. Lalu mampir ke Kafe Jimbani.

Lho FPI kok nongkrong di kafe? Bukan begitu. Lasykar-lasykar itu mengobrak-abrik bagian luar dan dalam kafe yang terletak di Jalan Kemang Raya Jakarta Selatan itu. Lalu, mereka juga merusak belasan papan iklan Bir Bintang atau Anker Bir yang mereka temui di sepanjang Jalan Wijaya I Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Sekali dayung, dua sampai tiga pulau terlampaui. Begitu kata pepatah yang sesuai dengan rentetan aksi FPI ini. Dari tahun ke tahun, sejak berdirinya 1998, FPI tak lekang dari aksi-aksi semacam ini.

Misal, dua tahun silam, Lasykar FPI menyerbu dan merusakkan pintu gerbang depan pekarangan Sekolah Katolik Sang Timur Tangerang Banten. Mereka datang sambil mengacung-acungkan senjata, berteriak-teriak, dan memerintahkan para Suster agar menutup sekolah Sang Timur. Baru-baru ini, akhir Mei lalu lasykar FPI Bekasi merusak warung remang-remang di Kampung Kresek Jatisampurna Bekasi. Dengan modal senjata pentungan kayu, mereka mengobrak-abrik sebelas warung. Saat petugas keamanan setempat berusaha menghadang penyerangan itu, mereka malah ditantang.

Ahamad Syafii Maarif mantan ketua umum PP Muhammadiyah muak melihat tingkah organisasi kemasyarakatan (ormas) model begini. Apalagi tindakan mereka mengaku-ngaku berlandaskan perintah agama. Ia menjuluki mereka sebagai “preman berjubah”. Kostumnya boleh pakai jubah dan berpeci putih, tapi kelakuannya percis preman: suka berantem, egois, dan merasa paling berkuasa.

Sedang jika mereka bertindak dengan mengatasnamakan membantu aparat kepolisian karena dianggap lamban dalam bertindak, ia menjulukinya sebagai “polisi swasta” yang kerjaannya main hakim sendiri. Begitulah tutur pria yang kini menjabat sebagai direktur eksekutif Maarif Institute ini.

Gara-gara tindakan yang selalu main hakim sendiri itu, ketua umum FPI Habib Rizieq kena getahnya. Tanggal 11 Agustus 2003, ia divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dengan hukuman tujuh bulan penjara. Bukti kuat kesalahan Rizieq adalah adanya surat tertanggal 5 Mei 2000 yang ditandatanganinya selaku ketua umum. Dalam surat itu, tertulis instruksi yang ditujukan pada seluruh anggota FPI untuk melakukan gerakan anti maksiat dengan menutup dan memusnahkan tempat maksiat.

Nasib sama juga dialami amir Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) Abu Bakar Ba’asyir. Tanggal 3 Maret tahun kemarin, ia dinyatakan bersalah atas konspirasi serangan bom tahun 2002 di Bali, yang memakan korban sedikitnya 202 orang meninggal dan 209 orang cedera. Ia didakwa sebagai pemimpin besar Jama’ah Islamiyah (JI) yang memotivasi sejumlah pemboman di tanah air. Karena itu, ia dijatuhi hukuman dua tahun enam bulan (30 bulan) penjara. Dan baru tanggal 14 Juni lalu, ia dibebaskan.

Jama’ah Islamiyah ini berdiri sekitar Januari 1993, setelah organisasi Negara Islam Indonesia (NII) atau DI/TII pecah. Tokoh gerakan NII Abdullah Sungkar bersama Ba’asyir pernah melarikan diri ke Malaysia, Februari 1985. Pada saat itulah mereka mulai merintis JI. Menurut pengakuan salah seorang mantan pimpinan JI Nasir Abbas yang juga veteran pejuang Afganistan, Sungkar adalah pemimpin besar JI sebelum Abu Bakar Ba'asyir.

Hingga kini, keberadaan organisasi ini terbilang masih misterius. Orang-orang JI disinyalir punya hubungan dekat dengan kelompok Al-Qaeda pimpinan Osamah bin Laden di Afganistan.

Ormas MMI yang juga dikepalai oleh Ba’asyir tidak jarang terlibat dengan aksi-aksi kekerasan. MMI tercatat, antara lain, pernah terlibat konflik antar-agama di Ambon. Joko Wibowo alias Abu Sayaf, yang Januari lalu ditangkap oleh tim Detasemen 88 Antiteror, adalah anggota Laskar Mujahidin yang pernah dikirim ke Ambon pada tahun 2000 lalu. Selain itu, belakangan ini MMI juga melakukan sweeping majalah Playboy di sejumlah toko buku di solo dan penyegelan Fahmina Institute di Cirebon.

Nama ormas, selain FPI dan MMI, yang pernah disebut presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono suka main kekerasan adalah Forum Betawi Rempug (FBR). Demikian seperti dikutip oleh Sekjen Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Sonny T. Danaparamita usai bertemu presiden di istana negara kepada wartawan.

Belum lama ini, Pebruari tahun lalu, puluhan orang berseragam FBR mengkroyok pedagang Pasar Senen Jakarta Pusat. Korbannya bernama Waridin, salah seorang pedagang. Insiden ini bermula dari salah paham urusan jual beli. Terus berkembang pada cekcok dan adu fisik. Adu jotos itu terjadi pagi hari antara pedagang dengan tiga anggota FBR.

Karena tidak ingin berlarut-larut, si pedagang itu ingin menyelesaiakan permasalahan secara damai. Tapi, sore harinya sekitar 30 orang berseragam FBR datang lagi. Dan .. tiba-tiba Praa..a..k.!! pukulan-pukulan maut itu mendarat di kepala Waridin. Selain itu, tangannya juga tertusuk benda tajam cukup dalam dan parah. Akibatnya, salah satu otot lengan kanannya putus, sehingga jari tengah tangan kanannya tidak bisa digerakkan ke atas.

Aisul Yanto, warga masyarakat Ciledug Jakarta ini punya pengalaman pribadi dengan organisasi yang bermula dari kumpulan majlis taklim ini. Bulan Maret lalu, ia sedang menggelar pameran tepat di samping kantor Akademi Jakarta (AJ) di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Saat itu, ia duduk bersandar dinding di samping lukisan-lukisan karyanya. Namun, sontak ia terperanjat. Ratusan orang bergerombol sambil berteriak-teriak menerangsek ke arahnya. “Bakar Akademi Jakarta... bakar sarang anjing-anjing Zionis itu...”. Begitu koar-koar yang sempat mampir di telinganya.

FBR kecewa dengan hasil pemilihan anggota Dewan Kesenian Jakarta yang digelar oleh AJ. Mereka ingin mengobrak-abrik kantor AJ dan sekitarnya. Aisul pun geram. “Hei jangan ngawur kalian! Ini lagi ada pameran lukisan, awas kalau ada lukisan yang rusak!” ancam Aisul sambil memegangi tangan salah satu anggota FBR yang sudah menyentuh lukisannya.

Untung, FBR tidak jadi mengobrak-abrik AJ dan segera menarik diri. Hanya pot bunga saja yang dipecah dan kantor AJ disegel silang dengan kayu. Akhirnya, massa bergerak di depan gedung bioskop 21 TIM dan merusak kantor Dewan Kesenian Jakarta. “Saya baru ngeh, ternyata mereka benar-benar preman,” tambahnya.

Nada ini juga disuarakan oleh Iwan Nuryan pekerja wiraswasta yang tinggal di Ciampelas Bandung. Ia tidak setuju dengan aksi-aksi kekerasan yang liar. “Mereka semua harus segera ditertibkan,” usulnya.

Di tengah stigma miring terharap ormas-ormas itu, Ngadimen punya pendapat berbeda. Warga Ciputat Tangerang yang biasa jualan mie pangsit ini mendukung langkah FPI cs. “Siapa yang berani memberangus kemaksiatan dan orang-orang mendem (mabok) di jalanan kalau bukan FPI,” ujarnya. Menurut pengakuannya, saat jualan ia sering dipalakin preman yang lagi mabok. Nah, “Kalau ada FPI kan kita jadi aman,” katanya sambil terkekeh.

Meski begitu, ia mengaku sedikit kecewa dengan FPI. Ia pernah menyaksikan lasykar FPI membubarkan secara brutal acara Dangdutan yang digelar warga kampung Ciputat Molek Tangerang, dua tahun lalu. “FPI seharusnya tidak sekasar itu..., masak kita nggak boleh goyang-goyang dikit, joged kan gak pa pa buat refresing,” katanya.

Bagi Buya Syafii, panggilan Syafii Maarif, tindakan ormas yang mengandalkan fisik dengan legitimasi dalil-dalil al-Qur’an dan hadits justeru akan ‘membunuh’ masa depan Islam. Pria berdarah Sumatera Barat ini juga mengamati perubahan orientasi dalam ormas-ormas itu.

Ormas yang dulu dikenal garang dan selalu melakukan kekerasan kini mulai menggunakan cara-cara lembut. Misal: saat merespon pernyataan Gus Dur, al-Qur’an itu kitab porno. FPI bersama FBR, MMI, dan HTI berbondong-bondong mengadukan Gus Dur ke Polri. Selain itu, saat menyikapi kasus logo yang dipakai grub band Dewa dan juga kasus foto bugil Anjasmara, FPI menggunakan jurus somasi.

FBR dan MMI pun demikian. Baru-baru ini, Fadloli bersedia mendatangi markas Polda Metro Jaya untuk diperiksa, terkait dengan ‘somasi balik’ yang diajukan kepada Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Yang juga menarik adalah respon MMI atas pro-kontra di masyarakat soal RUU APP. MMI dengan jitu mengirimkan somasi kepada Gubernur Bali dan menyampaikan legal opinion kepada Pansus RUU APP.

Syafii Maarif kembali berkomentar. Lama-kelamaan mereka juga sadar dan letih dengan kekerasan yang selama ini mereka agung-agugkan. Sebab, Aksi-aksi kekerasan pasti akan bertemu pada satu muara, kegagalan.

Bahkan, Shabri Lubis juga menyadari, di FPI memang ada penyesuain kira-kira sejak dua tahun terakhir ini. “FPI tidak lagi menekankan pada metode perjuangan melalui gerakan massa dan kelaskaran,” paparnya.

Pengamat Intelijen Wawan H. Purwanto menyambut positif perubahan itu. Harus berubah memang. Jika tidak, mereka akan mudah disusupi oleh kepentingan pihak ketiga atau oknum. Jadi, perbuatan mereka tidak murni lagi. “Kalau sudah tidak murni berarti ada kelompok yang berkepentingan, bila ada kelompok yang berkepentingan pasti ada benturan kepentingan, dan jika ada benturan kepentingan maka yang terjadi adalah aksi-aksi anarkisme,” tuturnya.

Karena itu, bila masyarakat tidak percaya dengan hukum dan masih saja suka main hakim sendiri, maka negeri ini akan menjadi ‘negeri barbar’, yang kuat menindas yang lemah. Bahkan dia memprediksi, dalam jangka panjang negeri ini akan dikuasai oleh kelompok-kelompok ‘geng’, seperti yang kini terjadi di Brazil. []

Tulisan ini adalah tulisan awal saya sebelum diedit oleh Redaksi Syir'ah, Edisi 55, Juli 2006.

Allah Memberi "Bunga" Kepada Ali

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Beberapa tahun lalu umat Islam pernah disibukkan soal pro-kontra ‘bunga bank’. Satu pihak menghukumi boleh (mubah), pihak yang lain justru mengharamkannya. Entah mana yang lebih benar. Ya.. perbedaan pendapat itu kan wajar dalam Islam. Nabi bilang, “Ikhtilafu ummati rahmatun,” perbedaan adalah rahmat.

Di sini tidak bermaksud untuk mengorek-ngorek soal lama itu, apalagi terlibat dukung-mendukung pendapat. Sama sekali tidak. Berikut ini hanyalah penggalan kisah yang pernah terjad di zaman Rasulullah saw. yang terkait dengan ‘bunga pinjaman’ uang, seperti dirilis dalam Al-Mawa'izh al-Ushfuriyah karya Syaikh Muhammad bin Abu Bakr al-Ushfuri.

Alkisah, istri Ali bin Abi Thalib Fatimah sedang memintal bulu-bulu domba untuk ditenun. Beberapa saat kemudian, Ali datang dari rumah baginda Rasulullah.

“Adakah makanan yang bisa saya makan, wahai wanita mulia?” tanyanya kepada Fatimah.
“Demi Allah aku tak memiliki apa-apa. Hanya ada uang enam dirham, yang sebenarnya akan saya belikan makanan untuk anak-anak: Hasan dan Husain.”
“Ya udah, mana uang itu. Biar saya yang membelikannya.”

Begitu Fatimah memberikan uang, Ali langsung ngacir keluar rumah untuk membeli makanan. Di tengah perjalanan, Ali ketemu dengan seorang pengemis.“Ya tuan, kasihanilah kami, semoga Allah membalas kebaikan tuan,” rintih pengemis itu.

Karena iba dan niat tulus untuk menolong, Ali memberikan seluruh duit yang dipegangnya. Lalu, Ali pulang dengan tangan hampa. Ketika Fatimah tahu suaminya tidak membawa pulang makanan, ia menangis.
“Mengapa engkau pulang tanpa membawa apa-apa?” tanyanya sambil sesenggukan.
“Wahai wanita mulia, saya telah memberikan uang itu kepada pengemis.”
“Baiklah kalau begitu,” Fatimah mengangguk.

Ali kemudian bermaksud keluar untuk menemui Rasulullah. Tapi, tiba-tiba ada orang menuntun unta.
“Ya Abu Hasan—panggilan lain Ali—belilah unta ini,” tawarnya
“Saya tidak punya duit,” jawab Ali.
“Gampang itu.. uangnya bisa belakangan..”
“Berapa kau jual.”
“Seratus dirham.”
“Baiklah, saya beli.”

Selang beberapa langkah, ada orang lain yang menemui Ali. Lalu menawar unta yang barus saja dibelinya itu.
“Berapa kau jual unta itu?”
“Tiga ratus dirham,” jawab Ali.
“Baiklah.” Orang itu memberikan uangnya lalu membawa unta itu.

Ali melanjutkan perjalanan menemui Rasulullah di masjid. Ia bercerita kepada Nabi tentang peristiwa yang baru saja dialami. Kemudian Nabi bersabda:
“Berbahagialah engkau, Ali. Engkau telah meminjamkan uangmu kepada Allah. Kemudian Allah telah memberikan ‘bunga pinjaman’: tiap satu dirham menjadi 50 dirham.”

Memberi harta kepada orang yang membutuhkan, dalam Islam, itu ibarat meminjamkan harta kepada Allah. Lain kali... Allah pasti mengembalikannya plus ‘bunga pinjaman’.[]

Syir'ah, Edisi 55, Juli 2006.

Menembus Sekat-sekat Islam dan Hindu

Dunia sufi adalah dunia keseimbangan. Spiritualisme dan intelektualisme merupakan perantara ampuh untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dara Sikhoh telah membuktikan itu.


Oleh Abdullah Ubaid Matraji

“Siapakah nanti yang akan menggantikan singgasanaku ini?” pikir Shah Jehan suatu ketika. Ia adalah raja kesohor penguasa kerajaan Mughal di India. Hingga kini, peninggalannya menjadi salah satu keajaiban dunia, Taj Mahal. Wajar jika ia berpikiran demikian, ia memang belum dikaruniai anak dari istri tercinta Mumtaz Mahal.

Karena itu, ia berkeinginan dikaruniai Allah seorang putra sebagai penerus kerajaan. Hasrat yang menggebu-gebu itu mendorongnya untuk aktif berziarah serta berdoa, bertawasul mencari berkah, ke makam seorang sufi besar Hazrat Moinuddin Christi di Ajmer India.

Usaha keras itu akhirnya berbuntut sukses. Tahun 1615 M ia dikarunia seorang putra. Hari itu adalah hari yang paling bahagia dalam hidup Sheh Jehan. Ia sengaja membagi kebahagiaan itu kepada pegawai kerajaan dan rakyat-rakyatnya. Di Delhi ibu kota kerajaan, raja secara spesial menggelar acara perayaan atau tasyakuran akbar untuk menyambut kelahiran putranya.

Sang pangeran itu adalah Dara Shikoh. Nama ini berasal dari bahasa Persia Dârâ Syikûh, artinya penguasa kemuliaan. Sejak kecil, ia dikenal sebagai putra raja yang alim. Cocok dengan namanya. Ia pun belajar agama dari tokoh-tokoh agama yang tersohor di negara itu. Pelajaran yang ditekuni adalah al-Quran, sastra Persia, dan sejarah. Dari sekian guru-gurunya, yang paling berpengaruh yaitu Mullah Abdul Latif Saharanpuri. Dialah yang mengantarkan Dara berkenalan dengan khazanah sufisme dalam tradisi agama-agama.

Bagi Dara, Abdul Latif adalah guru yang membetot kesadaran dan memompa adrenalinnya untuk terus belajar dan bersemangat dalam mengarungi samudra ilmu pengetahuan. Hingga akhirnya ia jatuh cinta dan menaruh perhatian pada kajian-kajian sufistik, bahkan banyak berhubungan secara langsung dengan pakar-pakar ilmu tasawuf dari agama Islam dan Hindu.

Antara lain: Shah Muhibullah, Shah Dilruba, Shah Muhammad Lisanullah Rostaki, Baba Lal Das Bairaqi, dan Jagannath Mishra. Diantara tokoh-tokoh ini, yang paling digandrunginya adalah Hazrat Miyan Mir, seorang sufi Qadiriyah dari Lahore India. Tokoh ini dikenal sebagai pembangun pondasi The Golden Temple atau Kuil Emas di Amritsar Punjab India.

Kuil ini adalah kuil terbesar milik kaum Sikh di India. Kaum Sikh adalah kaum yang menganut agama Sikh, agama yang muncul sekitar lima abad lalu. Berbeda dengan agama Hindu, Sikh tidak mempercayai banyak dewa, melainkan hanya satu Tuhan yang ucapan-ucapan-Nya disampaikan oleh orang suci yang disebut sebagai Guru.

Bersentuhan dengan Miyan Mir, membuat Dara kian ketagihan dengan ilmu tasawuf. Ia pun kemudian bergabung dengan kelompok sufi tarekat Qadiriyah. Tarekat ini dikembangkan, bahkan ada yang berpendapat didirikan, oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani (w. 1166 M). Komunitas ini adalah kawah candradimuka atau tempat pergulatan intelektual Dara Shikoh. Ia tumbuh dan berkembang menjadi sosok sufi yang tidak hanya terlena dengan keagungan Tuhan, ia menjadi pemikir yang haus ilmu pengetahuan.

Sufi yang Produktif
Menginjak usia 25 tahun, Dara meluncurkan buku Safînah al-Auliyâ, perahu para wali. Dalam buku perdananya itu, ia menekankan pentingnya ‘petunjuk’ dalam lelakon ajaran-ajaran sufi.

Ia meyakini, seseorang itu dapat memperoleh pengetahuan tasawuf hanya lewat bimbingan guru spiritual. “Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya tanpa pembimbing. Karenanya, setelah Nabi, tidak ada lagi orang yang dekat dengan Tuhan kecuali para wali.”

Buku kedua karyanya adalah Sakînah al-Auliyâ, ketentraman para wali. Di sini ia banyak berbicara seputar kelompok tarekat Qadiriyah di India. “Tidak ada yang menarik saya melibihi Qadiriyah, yang memenuhi semua aspirasi spiritual saya,” katanya. Karya ini dirampungkan Dara saat berusia 28 tahun.

Ia juga menulis Hasanah al-‘Ârifîn, aforisme atau teladan para mistikus. Dara mengupas 107 tokoh sufi dari berbagai kelompok spiritual. Pada sisi lain, ia mengkritik ulama-ulama egois yang hanya fokus pada ritual yang formalis. Para ulama saat itu banyak yang mempolitisasi agama demi kepentingan diri sendiri, kepentingan duniawi.

Lewat buku ini, dara ingin membuka kedok ‘kebohongan’ orang-orang yang berjubah agama, serta mereka yang kerap menjual-belikan fatwa untuk kepentingan kelompok tertentu atas nama agama. Dara menulis:
Semoga dunia terbebas dari kebisingan para ‘ulama’,
Tak ada seorangpun yang harus membayar untuk setiap fatwa!

Salah satu karyanya yang mengejutkan adalah koleksi puisi, yang berjudul Iksîr al-`Azam, eliksir atau obat ketetapan hati. Sajak-sajak berikut ini setidaknya menggambarkan pemikirannya tentang Tauhid, keesaan Tuhan.
Lihatlah di mana pun kamu melihat, semuanya adalah Dia
Wajah Tuhan ada di mana pun wajahmu kau hadapkan.

Apapun yang kau miliki, selain diriNya adalah obyek semata
Apapun selain dirinya memiliki keberadaan yang fana
Keberadaan Tuhan sebagaimana Lautan tak bertepi
Manusia ibarat busa dan gelombang di airNya

Pertemuan ‘Dua Lautan’
Pemikiran Dara yang cukup berpengaruh dan menyedot perhatian khalayak adalah tentang confluence of the two oceans, pertemuan ‘dua lautan’, Islam dan Hindu. Sebelum mengkaji agama Hindu, ia mempelajari bahasa Sanskerta, bahasa kitab suci agama Hindu Weda. Garis demarkasi atau jurang pemisah antara Islam dan Hindu, kala itu, memang begitu mencolok. Keduanya merasa paling benar sendiri dan menyalahkan satu sama lain. Itulah ibarat dari dua lautan yang dimaksud.

Ia menerjemahkan kitab-kitab induk agama Hindu, yaitu Bhagavad-Gita, Yoga Vasishtha, dan Upanisad. Terjemahan ini merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi pengembangan kajian-kajian spiritualitas dan filsafat Hindu di hari kemudian. Di antara ketiga kitab tersebut, Dara banyak menemukan hal-hal menarik di Upanishad.
Upanisad yaitu intisari filosofi dari kitab Weda. Suatu tema yang menonjol dalam kitab ini adalah ajaran tentang hubungan Atman dan Brahman. Atman adalah segi subyektif dari kenyataan, diri manusia. Brahman adalah segi obyektif, makro-kosmos atau alam semesta. Upanisad mengajar bahwa manusia mencapai keselamatan (moksa atau mukti) kalau ia menyadari identitas Atman dan Brahman. Konon, di masa silam diperkirakan ada 1008 karya Upanishad ini, namun kini tinggal beberapa saja.
Minat Dara untuk meneliti agama Hindu tidak tanggung-tanggung, ia menerjemahkan 52 Upanishad ke dalam Bahasa Persia. Ia menjelaskan, rahasia terbesar dalam Upanishad adalah pesan ke-esa-an Tuhan (monoteisme), yang identic dengan ajaran tauhid dalam al-Quran.

Pencarian pesan monoteisme dalam agama Hindu ini berawal dari keyakinan Dara pada al-Quran yang menyatakan, “Tuhan telah mengutus para Nabi sejak dahulu kepada setiap bangsa untuk menyembah hanya kepada-Nya.” (QS. 13: 7). Maka tak heran jika—dalam Sirr al-Akbar, rahasia agung—dia melihat kemungkinan, adanya tokoh Hindu yang sesungguhnya dia adalah Nabi, begitu pula dengan kitab suci Hindu juga berasal dari wahyu Tuhan.

Nah, hasil kajiannya ini ia tuangkan dalam buku berjudul Majma al-Bahrain, himpunan dua lautan. Tepatnya, saat ia berusia 42 tahun. Buku yang terdiri dari 22 bab ini merupakan klimaks dari pergolakan pemikiran sufistik di benak Dara.

Ia menemukan kesamaan konsep antara Hindu dan Islam dalam bingkai sufistik. Misal, Istilah Hindu tentang ‘mukti’, identik dengan konsep sufi Islam tentang ‘peleburan diri’ dalam Tuhan. Juga, konsep sufisme Islam tentang `isyq (Cinta), identik dengan maya pada monotheisme Hindu. Menurut Dara, dari cinta lahirlah Jiwa Agung: dalam tradisi Sufi dikenal sebagai Muhammad, dan dalam Hindu dikenal nama Mahatma atau Hiranyagarba.“Mistisme dalam Islam dan Hindu adalah seimbang,” tulisnya.

Jelas, Dara ingin menunjukkan keindentikan doktrin-doktrin Hindu dan Islam tentang tawhîd dalam buku tersebut. Ia juga memandang, bahwa kebijaksanaan terdalam dalam Upanisad dan al-Quran adalah sama, karena berasal dari sumber yang sama, yaitu Tuhan. Baginya, Upanisad adalah kitab yang oleh al-Quran disebut sebagai sebuah kitab yang tersembunyi (Q 56: 78). Jadi ia adalah salah satu kitab suci yang harus diketahui oleh seorang Muslim, sebagaimana ia harus mengetahui Taurat, Zabur, dan Injil.
Dara Shikoh menulis, “Semua kitab suci, termasuk Weda, berasal dari satu sumber. Kitab-kitab suci itu adalah suatu komentar terhadap satu sama lain. Bahkan, kedatangan Islam tidak membatalkan kebenaran keagamaan yang terkandung dalam Weda atau menggantikan pencapaian-pencapaian orang-orang Hindu.”
Sayang sekali. Pada puncak perkembangan intelektualnya ia justru menjumpai batu sandungan. Tahun 1657 ayahnya terjangkit penyakit serius, sehingga tampuk kekuasaan harus segera berganti. Ini menjadi pemicu sengketa perebutan kekuasaan antara putra-putra Shah Jehan, Dara Shikoh dan adiknya, Aurangzeb.

Pertikaian ini berujung pada 8 Juni 1658, dan kemenangan ada di pihak Aurangzeb. Setelah berkuasa, Aurangzeb memfitnah kakak tertuanya itu, dengan tuduhan kafir dan pelaku bid`ah, akibat pikira-pikirannya yang dinilai nyeleneh atau ngawur itu. Dara akhirnya dieksekusi mati melalui keputusan pengadilan yang dikeluarkan adiknya sendiri tahun 1659, dan dikubur di komplek pemakaman kerajaan di Humayun Delhi India. [Dari berbagai sumber].

Syir'ah, Edisi 55, Juli 2006.

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger by Pemuda - Premium Blogger Themes