Tuesday, December 26, 2006

Pak Ustad Melarang Haji

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Dzul Hijjah, dalam penanggalan Hijriyah, biasa juga disebut bulan Haji. Pada bulan ini, umat Islam berbondong-bondong menuju kota suci Mekkah untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Abdul Munir dan Istrinya tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dua sejoli yang baru dikarunia satu anak ini berniat naik haji. Sebelum melakoni niatnya itu, ia berkonsultasi dengan orang pintar di kampungnya. Ustadz Rahmat, begitu dia biasa disapa warga.

“Apa benar, katanya kamu mau naik haji?” tanya ustad Rahmat.
“Iya ustadz.”
“Syaratnya sudah dipenuhi?”
“Alhamdulillah sudah. Saya punya kelebihan harta, karena itu saya gunakan untuk menyempurnakan rukun Islam.”
“Baiklah. Saat ini, berapa jumlah tetanggamu yang masih miskin?”
“Banyak….”
“Anak-anak yang putus sekolah?”
“Juga tak kalah banyaknya.”
“Kalau begitu, jangan naik haji dulu deh!”
“Lho kok…? Munir terperanjat dan seketika kepalanya dipenuhi tanda tanya.

Ustadz jebolan lembaga pendidikan di Timur Tengah itu lalu menjelaskan dengan santun dan penuh wibawa. Ia menyitir hikayat Abdullah bin Mubarak, tokoh generasi tabi’in yang terkenal dengan kesalihan ilmunya.

Saat memimpin rombongan kafilah haji berangkat ke Mekkah, Abdullah bertemu seorang wanita di tengah perjalanan. Ia tertegun, wanita itu ternyata menyuapi anaknya dengan daging bangkai.

“Apakah kamu tidak tahu kalau bangkai itu haram dimakan?” tanya Abdullah.
“Saya mengerti,” jawab wanita itu.
“Lalu mengapa kamu makan?”
“Ini sudah terpaksa. Tidak ada makanan lain.”

Mendengar penjelasan tersebut, tokoh yang wafat tahun 181 H itu mentitahkan kepada rombongan untuk mengurungkan perjalanan dan menyerahkan perbekalan kepada wanita malang itu. “Tak wajib haji selagi ada yang melarat,” ungkap Abdullah seperti ditulis Ibnu Abi Syaibah Al-Kufi (159-235 H) dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, kompilasi Ibnu Abi Syaibah.

Melalui kisah ini, ustad Rahmat menghimbau Munir, ibadah itu tidak hanya berorientasi ketuhanan tapi juga kemanusiaan. Membantu pendidikan anak-anak yang putus sekolah dan menyantuni fakir-miskin itu juga anjuran agama yang juga mesti ditunaikan. “Masak kamu enak-enakan naik pesawat, sementara tetanggamu kelaparan,” sindir ustad Rahmat.

Munir pun manggut-manggut. Ia lalu mengurungkan niat Haji, dan memanfaatkan hartanya untuk memberi beasiswa kepada anak-anak putus sekolah, dan pembinaan keterampilan, serta santunan keluarga fakir-miskin. [AUM]


Syir`ah, Edisi 60, Desember 2006.

28 Desember 1999, Homo Homini Lupus di Halmahera

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Konvoi truk bergerak memadati jalanan di Halmahera, Maluku Utara. Iring-iringan kendaraan yang mengangkut ribuan massa itu mengelilingi desa demi desa. Tak ada reaksi apa-apa saat mereka melewati desa yang dihuni mayoritas kristiani, atau yang biasa dinamakan “desa kristen”. Paling, hanya suara yel-yel yang terdengar nyaring.

Tapi, begitu melewati “desa muslim”, massa turun dari truk. Dan sekelompok kawanan tiba-tiba menyiram rumah penduduk dengan bensin lalu membakarnya. Suasana seketika berubah menjadi kacau, riuh, dan gaduh. Penduduk pun berhamburan keluar rumah. Sejak itu, yang bertepatan tanggal 28 Desember 1999, tragedi pembantaian manusia atas manusia di Halmahera meletus.

Penduduk muslim yang terjepit mencari perlindungan di masjid. Tanpa ampun, massa yang sedang kalap itu lalu menyiram masjid dengan bensin dan membakar hidup-hidup penduduk yang menyelinap di dalamnya. Akibatnya, tak kurang 800 pria dewasa muslim tewas di tiga desa di kecamatan Tobelo, Halmahera Utara.

Aksi massa ini disinyalir beberapa kalangan berasal dari kelompok yang beberapa hari sebelum penyerbuan melakukan perayaan Natal di Tobelo, tanggal 25 Desember. Halmahera adalah pulau terbesar di kepulauan Maluku. Prosentase pemeluk agama penduduk pulau yang terletak di provinsi Maluku Utara ini sekitar 80 persen beragama Islam, dan sisanya beragama Kristen.
Jika ditilik, praktik homo homini lupus, pembantaian manusia atas manusia, bukanlah kali pertama di pulau yang memiliki tanah seluas 17.780 kilometer persegi itu. Tragedi ini adalah runtutan aksi kekejaman kemanusiaan yang sebelumnya terjadi. Bisa dikatakan, ini adalah aksi balas dendam.
Tanggal 3 sampai 4 November 1999 tercatat, warga minoritas Kristen di Tidore kabupaten Halmahera Tengah dibantai oleh pasukan jihad. Tak kurang dari 240 rumah penduduk kristiani dirusak dan dibakar. Tak lupa, gereja-gereja di wilayah itu juga dibumi-hanguskan pasukan yang terdiri dari umat Islam itu.
Kerusuhan Tidore belum reda, kejadian serupa menimpa warga Kristen kecamatan Payahe Kabupaten Halmahera Tengah. Dari tanggal 7 sampai 11 Nopember 1999 tercatat, 300 orang meninggal dunia, serta gereja dan sekolah Kristen diobrak-abrik oleh pasukan Jihad.
Apa pasal kok jadi runyam begini? Tak ada alasan jelas hingga kini, masih sebatas telaah dan dugaan. Pada permukaan, memang ada kesan perang antaragama. Sejatinya, konflik di Halmahera tidak bisa dipandang parsial, tapi terkait erat dengan perseteruan di kepulauan Maluku secara lebih luas, terutama karena persoalan politik dan ekonomi.
Dan anehnya, menurut keterangan beberapa saksi, aksi-aksi kekerasan dan pembantaian di Halmahera itu terjadi sepengetahuan aparat keamanan. Tapi, aparat tinggal diam. [AUM/BERBAGAI SUMBER]


Syir`ah, Edisi 60, Desember 2006.

"Sumbu Pendek" Sang Teroris

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Aksi teror tak selalu bertautan dengan keyakinan atau ideologi pelaku. Kasus peledakan bom di restarurant cepat saji A&W Plaza Kramat Jati Jakarta Timur bulan lalu setidaknya membuktikan tesis ini. Pelakunya, Muhammad Nuh, diduga kuat tak ada hubungannya dengan jaringan Nurdin Mohammad Toop. Bahkan, menurut keterangan penyidik, Nuh dinyatakan kurang waras.

Nuh, dalam insiden tanggal 11 November itu, tidak punya motivasi yang jelas. Ia termasuk kategori "orang sakit". Orang yang sedang sakit, dalam kaca mata psikologi, biasanya bertingkah aneh dan tidak logis. Misal, mati bunuh diri di tempat keramaian untuk mencari sensasi. Ia tidak punya tujuan besar, kecuali untuk mencari kepuasan.

Itulah hasil analisis Guru Besar Psikologi Islam Ahmad Mubarok, yang diungkap saat tayangan Talkshow Islam Indonesia, pertengahan November. Ia menambahkan, orang yang teralienasi dan berpendidikan rendah gampang sekali mencari jalan pintas semacam itu.

Pernyataan ini dibantah narasumber kedua Al Chaidar, dosen dan peneliti dari Universitas Malikussaleh Aceh. Menurutnya, aksi-aksi teror itu semuanya bermuatan ideologis, tak terkecuali yang dilakukan Nuh. Bisa dibilang, ada motivasi keagamaan yang diyakini sebagai pembenar aksi teror yang dilancarkan. "Ada ayat-ayat al-Quran atau hadist Nabi yang selalu dijadikan dasar legitimasi," paparnya.

Imam Samudra, misalnya, dengan jelas mengutip ayat al-Quran dan hadis Nabi sebagai pijakan aksinya. Baca saja buku Aku Melawan Teroris karyanya, semua akan tampak jelas. Keyakinan keagamaan menjadi motivasi yang kuat. Atau, bisa juga dilihat dalam vcd hasil rekaman pengakuan para pelaku.

Untuk meredam terorisme, Al Chaidar punya tiga resep. Pertama, menghadapi dengan kekuatan fisik atau perang. Cara ini biasanya menuai kegagalan, karena akan menambah masalah baru. Kedua, dengan negosiasi dan perjanjian damai. Model ini belum pernah diterapkan. Dan terakhir, caranya dengan debat atau dialog terbuka. Forum ini untuk menjembatani gagasan yang berbeda, tapi merasa saling benar.

Di ujung acara, Al Chaidar juga membenarkan, keyakinan agama bukan dalih semata wayang, faktor psikologis juga punya andil melahirkan teror-teror baru. [AUM]


Syir`ah, Edisi 60, Desember 2006.

Menghakimi Pemikiran Sesat

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Belum genap seminggu ditinggal bulan Ramadhan, warga kampung Bobojong desa Petir kecamatan Darmaga kabupaten Bogor menjadi kalap. Di hari yang masih fitri itu tanah Bobojong dilumuri darah Muhammad Alih Sobari, tanggal 26 Oktober. Usai menjalankan shalat Isya di masjid Uswatun Hasanah, tak jauh dari rumahnya, Alih tiba-tiba dihadiahi bogem, pukulan, dan tendangan oleh massa hingga ajal menjemput.

Apa pasal? Alih dituduh menyebarkan aliran sesat di kampung pedalaman yang jauh dari jalan raya itu. Tuduhan itu berakhir harus dibayar dengan nyawa.

Aksi main hakim sendiri ini, bukan kasus kali pertama. Sebelumnya, kejadian serupa juga menimpa, antara lain, Jamaah Ahmadiyah Indonesia di Bogor, Lia Eden di Jakarta, tarekat Siratal Mustaqim di Nusa Tenggara Barat. Tindakan massa yang brutal itu acap berdalih memberantas pemikiran atau aliran sesat.

Atas kejadian yang menimpa Alih, pembina Yayasan Kharisma Usada Mustika (Yaskum) M. Hasiri Muttaqien yang hadir saat Talkshow Islam Indonesia menyayangkan. Ia kecewa dengan tuduhan-tuduhan sepihak yang tidak beralasan itu. Mestinya, jika Alih dinyatakan sesat, paling tidak ada konfirmasi ke level pusat. "Kami tak tahu apa-apa, tiba-tiba saja dengar kabar Alih telah meninggal," sesalnya. Alih adalah salah seorang anggota Yaskum ranting Bobojong.

Abdul Muqsith Ghazali, konsultan rubrik fikih majalah Syir`ah, berpendapat bahwa devinisi "sesat" sebenarnya sering kali terjadi bias, antara tafsir mayoritas dengan kelompok minoritas. Kasus di Bogor itu lebih menggambarkan dominasi mayoritas terhadap kaum minoritas. Artinya, belum tentu ajaran yang diajarkan oleh Alih itu sesat. Itu hanyalah persepsi mayoritas.

Kalau begitu, siapa yang punya otoritas untuk mengatakan sesat atau tidak sesat? "Sepeninggalan Nabi Muhammad tidak ada lagi orang yang punya otoritas untuk menyatakan sesat atau tidak," tegas Muqsith. Terlebih dalam kasus Bobojong ini, tidak ada hal-hal yang dilanggar menyangkut prinsip-prinsip dasar ajaran Islam. Muqsith bahkan menduga, ini bukan murni persoalan agama, bisa jadi dipicu oleh persoalan sosial, ekonomi, atau politik.

Agar tak terulang lagi, tambah Muqsith, untuk menyelesaikan kasus semacam ini harus ditempuh dengan jalur hukum, dan jangan sekali-kali main hakim sendiri. Usul ini pun diamini Hasiri. [AUM]


Syir`ah, Edisi 60, Desember 2006.

Menarik Agama dalam Konflik

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Kekerasan demi kekerasan tampak terus menerus menetes membasahi tanah air Indonesia. Kekerasan di Poso Sulawesi Tengah yang mulai mereda, kini kembali terusik. Bulan Oktober lalu, aparat Brimob bentrok dengan warga dan mengakibatkan dua warga sipil tewas. Kekerasan di Poso, selintas, tampak akibat pertikaian dua kubu, Islam dan Kristen.

Benarkah adegan kekerasan itu terjadi karena sentimen agama? Mengapa agama sangat mudah dipelintir dan dipolitisir? Awal November lalu, Syir`ah mengangkat topik ini dalam Talkshow Islam Indonesia di Metro TV.

"Agama itu sangat melekat pada manusia sehingga mudah sekali ditarik dalam konflik," kata Rohaniawan Katolik Frans Magnis-Suseno mengawali pembicaraan. Pemahaman keagamaan yang melekat pada seseorang sangat berpengaruh pada cara pandang dalam menghadapi realitas. Karena itu, agama mampu memberikan dorongan psikologis kepada seseorang untuk melakukan sesuatu yang dianggap baik.

Problemnya adalah terletak pada pemahaman keagamaan yang sempit dan fanatik, yang kadung kaprah dianggap baik. Menurut Romo, pemahaman model ini mampu membentuk dorongan psikologis seseorang untuk membatasi diri dari kelompok lain dan merasa benar sendiri. Di sinilah benih-benih konflik bercokol. Maka, tak begitu sulit membangunkan segala macam prasangka dan kecurigaan yang jauh-jauh hari sudah tertanam itu. Begitu disulut, segeralah meletup.

Orang-orang seperti di atas, menurut pandangan Said Aqil Siradj, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, sejatinya belum memahami betul misi agama. "Percuma saja masjid dan gereja di bangun besar-besar, menghabiskan puluan milyar, tapi tingkah laku umatnya masih jauh dari nilai-nilai agama yang sebenarnya," katanya. Kalau ada fanatisme dan kekerasan kok dilakukan orang yang beragama, berarti ia jauh dari hakikat agama.

Tak ada agama manapun yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan. Tak terkecuali, Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi cinta dan kasih sayang. Said lalu menyitir kisah tauladan dari sebuah hadis.

Said mengisahkan ada orang Islam bertengkar dengan orang Yahudi. Lalu, orang Islam tadi berhasil membunuhnya. Mendengar kejadian itu, Nabi pun geram dan berkata, "Man qatala dzimmiyyan fa`ana khosmuhu, siapapun yang sekali lagi membunuh non-muslim maka ia akan berhadapan dengan saya," kata Nabi seperti ditirukan Said.

Pada akhir diskusi, Romo dan Said senada, agama bukan faktor utama penyebab konflik. Agama hanya ditarik ke wilayah konflik untuk memperkeruh dan mendramatisir suasana. Ada faktor utama sebenarnya yaitu politik dan ekonomi. [AUM]


Syir`ah, Edisi 60, Desember 2006.

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger by Pemuda - Premium Blogger Themes