Friday, February 16, 2007

Macan-Macan Betina Muslim Indonesia


Tidak hanya Kartini. Banyak tokoh perempuan yang punya andil besar dalam perkembangan Islam Indonesia. Tapi sayang, nama mereka tak dikenal.

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Menelisik sejarah perempuan bukan perkara mudah. Apalagi, lebih khusus, ihwal perempuan yang berperan dalam gerakan dan pemikiran Islam. Penulisan sejarah di Indonesia masih dilingkupi hegemoni tradisi patriarkhi, laki-laki berkuasa atas perempuan.

Maka tak salah lagi, jika penyebutan peran kaum perempuan dalam buku-buku sejarah sekadar kosmetik belaka. Kalaupun ada, mereka hanya berkecimpung dalam wilayah domestik, seperti dapur umum para gerilyawan, dan tenaga medis luka ringan saat perang melawan penjajah. Tak lebih dari itu.

Bagaimana dengan “ibu kita” Kartini, bukankah punya kiprah besar? Ya, Kartini tak hanya dikenal publik, tapi juga diperingati saban tahun sebagai tokoh emansipasi, pejuang kesetaraan.

Kalau ditilik, banyak juga pejuang perempuan selain Kartini. Umumnya mereka bergerak di organisasi. Tahun 1912 berdiri organisasi perempuan Poetri Mardika. Ada juga Pawiyatan Wanito di Magelang tahun 1915, Aisyiah di Yogyakarta tahun 1917, Percintaan Ibu kepada Anak Temurun (PIKAT) di Manado tahun 1917, Wanito Hadi di Jepara tahun 1919, Poeteri Boedi Sedjati di Surabaya tahun 1919, Serikat Kaoem Iboe Soematra di Bukit Tinggi tahun 1920.

Di antara para aktivis perempuan itu, Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946) adalah salah satu aktivis Islam yang menonjol. Ia dari organisasi Aisyiah. Sebelum organisasi perempuan Muhammadiyah ini terbentuk tahun 1917, Nyai Dahlan, sapaan akrabnya, bergiat untuk memberdayakan perempuan sejak tahun 1914. Kala itu, istri pendiri ormas Muhammadiyah ini membangun perkumpulan Sopo Tresno (siapa suka), khusus untuk perempuan.

Baru pada tahun 1917, nama perkumpulan itu, berubah menjadi Aisyiah. Masyarakat Kauman, Yogyakarta, adalah sasaran pemberdayaan Nyai Dahlan. Waktu itu masyarakat di sana beranggapan, perempuan di bawah laki-laki dalam segala hal, baik urusan publik maupun domesik. Ini senada dengan adagium masyarakat jawa waktu itu, “Wong wadon iku suwargo nunut, nerakane katut wong lanang”, perempuan itu masuk surga karena mengikuti orang laki-laki, begitu juga masuk neraka secara otomatis ikut orang laki-laki.

Adagium ini ditentang Sopo Tresno yang dipelopori Nyai Dahlan. Menurutnya, perempuan adalah patner kaum lelaki. Mereka sendirilah yang harus menentukan dan mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah kelak, bukan malah ngekor kepada kaum lelaki. Metode pemberdayaan yang dilakukan adalah melalui forum-forum pengajian.

Perempuan yang bernama asli Siti Walidah ini juga menaruh perhatian pada pendidikan. Ia mencetuskan istilah “catur pusat”, yaitu pendidikan di empat pusat: lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan tempat ibadah. Gagasan inilah yang kemudian, pada tahun 1912, ia ejawantahkan dalam bentuk sekolah, yang bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, dengan menggunakan sistem pembelajaran ala Belanda.

Memang diakui, perjuangan Nyai Dahlan tak lepas dari ormas Muhammadiyah. Inilah yang membedakannya dengan Rahmah el-Yunusiah. Perempuan kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat, tahun 1900 ini bergerak atas inisiatif pribadi. Tak terkait organisasi apapun.

Ia bercita-cita mendirikan sekolah khusus kaum perempuan. Karena idenya itu, Rahmah kerap dicibir masyarakat. ”Mana pula orang perempuan akan mengajar, akan menjadi guru... mengepit buku... tidak ke dapur. Daripada buang-buang waktu, akhirnya akan ke dapur juga. Lebih baik dari kini ke dapur.”

Meski dicemooh, putri seorang kadi (hakim) di Padang Panjang ini tetap kekeh pada pendirian. Ia lalu mengutarakan keinginannya itu kepada Zaenuddin Labay, kakaknya. Untuk menguji kegigihan adiknya itu, Labay bertanya.

”Apakah Amah benar-benar siap mendirikan sekolah putri? Tidak takut dengan tantangan kaum perempuan yang masih memegang teguh adat?”
”Insya Allah Amah siap dan sanggup. Saya akan menghadapi mereka. Saya harus memulainya meski memerlukan banyak pengorbanan.”

Pada akhir perbincangan, Amah, panggilan akrabnya, mempertegas, ”Jika kakanda bisa, kenapa saya tidak bisa. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa.” Melihat keseriusan itu, Labay akhirnya mendukung cita-cita adiknya. Tanggal 1 November 1923 berdirilah Madrasah Diniyah li al-Banat atau juga dikenal Diniyah School Putri.

Sekolah yang mulanya bertempat di masjid Pasar Usang, Padang Panjang itu, kini berkembang pesat menjadi perguruan besar yang memiliki kampus modern. Bagi Rahmah, pendidikan adalah nomor satu. Karena itu, sekolah harus independen, bebas dari afiliasi ormas atau aliran politik. Politik untuk murid adalah kecintaan pada tanah air, anti penjajah, dan dilandasi dengan iman.

Rasuna Said tidak sejalan dengan pendapat ini. Perempuan kelahiran Maninjau 14 September 1910 itu adalah tenaga pengajar Diniyah School Putri. Kawan seperjuangan Rahmah. Menurutnya, murid-murid itu perlu berpolitik dan mengambil jalur perjuangan lewat situ. Karena itu ia meninggalkan dunia pendidikan dan terjun ke dunia politik, dan meninggalkan Diniyah School Putri, pada tahun 1930

Ia dijuluki ”singa betina” karena keberaniannya mengkritik pemerintah Belanda. Juga, tercatat sebagai wanita pertama yang terkena speek delict, hukum Kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun bisa ditangkap karena omongan yang merugikan pemerintah.

Rasuna juga berguru pada Haji Rasul alias H. Abdul Karim Amrullah, ulama terkemuka di Minangkabau. Di sinilah ia memahami pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berfikir.

Pro kontra poligami pernah ramai dan kontroversi di tanah Minang tahun 1930-an. Ini berakibat pada meningkatnya angka kawin cerai. Rasuna menganggap, kelakuan ini bagian dari pelecehan kaum perempuan.

Tidak hanya dengan orasi mulut, ia juga berjuang dengan pena. Tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi majalah Raya. Dalam waktu singkat, tulisan-tulisannya mampu mengobarkan obor pergerakan dan api perlawanan rakyat Minangkabau terhadap penjajah. Ia juga menerbitkan majalah Menara Putri, yang khusus membahas seputar kewanitaan dan keislaman.

Perempuan dalam kultur pesantren juga tak mau kalah. Sholihah A. Wahid Hasyim adalah salah satunya. Ia adalah ibu Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ia hidup dalam lingkungan pesantren di Jombang, sebagai menantu Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (1926). Ia juga putri Bisri Syamsuri, pemangku salah satu pesantren di Jombang, Jawa Timur.

Sholihah ingin mendobrak tradisi perempuan-perempuan pesantren yang apatis dengan politik dan dunia luar. Dan juga menepis stigma-stigma miring seputar peran perempuan pesantren. Sepeninggal suaminya, tahun 1953, ia kian aktif di berbagai organisasi. Antara lain, menjadi pengurus Nahdlatul Oelama Muslimat (NOM), kini Muslimat.

Tahun 1955 ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta. Tak lama kemudian, ia terpilih sebagai anggota DPR gotong royong, tahun 1958. Dan pada tahun 1960, ia mendirikan Yayasan Bunga Kamboja. Melalui aktivitasnya tersebut, ia ingin menyadarkan kepada khalayak, ”Ini lho bukti bahwa perempuan pesantren tak kalah saing dengan perempuan kota ataupun laki-laki.”

Perempuan yang meninggal tahun 1994 ini juga pernah mendorong Pengurus Besar NU agar bersikap tegas dalam kasus tragedi 30 September 1965. Selaku ketua pusat Muslimat, ia adalah orang pertama yang membubuhkan tanda tangan di atas surat pernyataan yang berisi kecaman terhadap aksi kekerasan tersebut. Bahkan, ada yang mengatakan, ”Andai Sholihah tidak mengawali tanda tangan, sangat mungkin PBNU tidak mengeluarkan pernyataan sikap.”

Tokoh-tokoh di atas sebagai bukti, perempuan Islam Indonesia punya andil sejarah dalam pembentukan wacana keislaman, pendidikan, dan politik Sayangnya meraka tak dikenal, bahkan tak disebut dalam buku-buku sejarah di sekolah. []


Syirah/Edisi 62/Februari 2007.

Terhalang Cita-cita Pembangunan



Pro kontra seputar isu-isu perempuan tak hanya marak dewasa ini. Poligami, trafiking, kekerasan rumah tangga, pendidikan perempuan, pernah menjadi perdebatan dahsyat antaraktivis perempuan pada masa pra kemerdekaan. Corak pemikiran mereka begitu majemuk, karena berangkat dari perspektif yang berbeda-beda.

Tapi, mengapa fakta itu tak mengemuka? Lies Marcoes Natsir menyayangkan penulisan sejarah yang miskin perspektif perempuan. Medio Januari, aktivis perempuan alumnus Amsterdam University Belanda ini menerima Abdullah Ubaid Matraji, wartawan Syir`ah, dan fotografer Adri Irianto di tempat kerjanya, jalan Adityawarman No. 40 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Ia membeber gerakan perempuan Islam yang tertutup sejarah itu.

Benarkah perempuan punya andil besar?
Ya. Gerakan perempuan Islam waktu itu tak lepas dari konteks perjuangan untuk keluar dari penjajahan. Kalau mempelajari kiprahnya, berarti terkait dengan organisasi-organisasi yang berkembang saat itu.

Contohnya organisasi apa?
Di perkotaan ada Aisyiah, organisasi perempuan Muhammadiyah, yang dipelopori Nyai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Ia bergerak dalam isu pengentasan kemiskinan dan kesehatan. Misalnya mencetuskan program pra koperasi di daerah Yogyakarta dan Solo. Sedang untuk kesehatan, Aisyiah membuka rumah sakit yang bernama Balai Kesengsaraan Umat. Balai ini digunakan untuk menampung korban banjir, kebakaran, kelaparan, dan bencana lain. Jauh sebelum ada koperasi dan puskesmas di masa orde baru, Aisyiah lebih dulu di era kemerdekaan.

Bagaimana dengan di pedesaan?
Yang banyak berkiprah adalah Muslimat, sayap gerakan perempuan Nahdlatul Ulama (NU). Persoalan yang banyak ditangani adalah pendidikan. Ada diskriminasi secara kultural kala itu. Laki-laki di desa lebih banyak memperoleh kesempatan pendidikan. Perempuan belum bisa masuk pendidikan formal, paling sebatas mengaji saja, seperti ilmu tafsir dan ilmu alat bahasa Arab(nahwu dan sharaf).

Aktivis yang menonjol adalah Sholihah, ibu Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Ia berjuang sampai masuk partai politik dan aktif di legislatif. Ia adalah generasi terakhir, aktivis perempuan di lingkungan Islam, yang tidak terkooptasi politik orde baru dalam mendomistikasi perempuan (memposisikan perempuan dalam peran ibu rumah tangga). Seperti program PKK (Program Kesejahteraan Keluarga) dan Darma Wanita. Gerakan aktivis perempuan pada periode Sholihah masih bisa mempertahankan bahwa perempuan masuk dalam domain (persaingan) kaum lelaki.

Isu-isu apa, antara lain, yang menarik gerakan perempuan tempo dulu?
Isu poligami. Isu ini adalah tonggak pegangan yang digunakan untuk melihat agenda politik kaum perempuan. Tahun 1920-an kelompok Istri Sedar, sebuah organisasi gerakan perempuan kiri (sosialis), melarang poligami. Sikap ini dimaknai oleh aktivis perempuan Islam seakan menyerang kolompok agama. Ini ditentang Persistri, organisasi perempuan Perguruan Islam (Persis). Mereka ingin membuktikan, meski menerima poligami, Islam tidak memojokkan perempuan.

Menariknya, Aisyiah muncul dengan pendapat progresif. Kalau ternyata poligami memunculkan mudarat, kenapa tidak dibaca ulang atau dipertanyakan kembali. Selain poligami, ada juga kasus trafiking. Di Medan, Sumatra Barat, ada kampanye besar-besaran penolakan perdagangan perempuan. Para aktivis perempuan muslim dulu begitu sensitif dalam isu-isu kemanusiaan. Inilah yang tidak terjadi di masa orde baru.

Memang, apa yang terjadi saat orba berkausa?
Pada masa orba, situasi menjadi susah. Orba punya cetak biru pembangunan. Bagaimana peran perempuan dalam pembangunan? Cetak biru orba terhadap peran itu menjadikan perempuan sebagai konco wingking (teman di dapur). Sejak itu, domestikasi perempuan dilakukan secara sistematis. Yaitu melalui program yang seakan-akan melibatkan perempuan, tapi sebenarnya adalah politis. Semisal PKK, Darma Wanita, dan lain-lain.

Mengapa itu dilakukan?
Orba punya cita-cita melakukan pembangunan. Pembangunan bisa dilakukan jika stabil. Stabilitas, menurut mereka, akan terjadi jika tidak ada pertentangan dan faksi-faksi. Namun, di tengah situasi ini, kita bisa mengatakan cukup beruntung, ketika Soeharto mengambil jarak dengan kelompok Islam, terutama NU. Mereka menjadi terpinggir. NU akhirnya punya dunia sendiri. Berwacana dan bekerja di masyarakat, serta tidak mau cawe-cawe (ikut campur) dengan politik Golkar.

Apa wujud keuntungan itu?
Di balik itu, pemikiran perempuan NU menjadi maju. Mereka lebih artikulatif dan maju karena menghadapi fakta kekerasan perempuan di desa-desa, kantong-kantong pesantren. Itulah yang menantang mereka untuk memperjuangkan hak-hak prempuan. Tingkat kematian perempuan di desa-desa akibat reproduksi itu dihadapi langsung aktivis Fatayat dan Muslimat. Begitu juga dengan isu trafiking. Justru yang merespon cepat dengan melahirkan buku Fiqh Anti Trafiking itu teman-teman NU.

Beda aktivis perempuan dulu dan sekarang?
Sama saja, yang beda hanya konteks. Misal soal trafiking. Dulu disikapi dari sudut kolonialisme. Kini dilihat dari sudut pandang globalisasi. []



Syirah/Edisi 62/Februari 2007. 

Rahmah el-Yunusiah, Perempuan bergelar "Syaikhah"

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Jum`at pagi tanggal 20 Desember 1900 ia dilahirkan di Bukit Surungan Padang Panjang. Anak bungsu dari lima bersaudara ini adalah buah cinta pasangan Muhammad Yunus dan Rafi`ah. Latar belakang keluarganya, tak hanya taat bergama, tapi aktif dalam gerakan pembaharuan Islam di Sumatra Barat.

Ayahnya dikenal sebagai seorang hakim, ahli ilmu falak (astronomi) dan ulama besar pemimpin tarekat Naqsabandiyah. Dan kakaknya, Zaenuddin Labay, dikenal sebagai ulama besar sekaligus tokoh pembaharu sistem pendidikan Islam model surau di Padang.

Secara genetis, Rahmah berasal dari suku Sikumbang. Kepala sukunya bergelar Datuk Bagindo Maharajo. Selama hidupnya, ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Kemampuannya dalam membaca dan menulis Arab dan Latin diperoleh dari kakaknya, Zaenuddin Labay dan Muhammad Rosyid.

Jasanya terbesar adalah mendirikan Diniyah School Putri, yang bertujuan untuk mencerdaskan kaum perempuan agar menjadi pendidik yang cakap dan bertanggung jawab. Keberhasilan Rahmah ini ternyata menarik perhatian Syaikh Abdurrahman Taj, Rektor Universitas al-Azhar Cairo Mesir waktu itu.

Pada tahun 1955, Syaikh Abdurrahman mengadakan kunjungan ke sekolah yang terletak di Padang Panjang ini. Rektor tertarik dengan sistem pembelajaran khusus yang diterapkan kepada putri-putri Islam Indonesia. Ia menimba pengalaman dari sekolah yang didirikan pada tahun 1923 itu.

Waktu itu, al-Azhar belum memiliki lembaga pendidikan khusus perempuan. Tak lama setelah kunjungan, kampus Islam ternama itu membuka pendidikan khusus perempuan yang bernama kulliyyât al-banât.

Sebagai rasa terima kasih, Syaikh Abdurrahman mengundang Rahmah ke Universitas al-Azhar. Tahun 1957 Rahmah menunaikan haji, dan pulangnya mampir ke Kairo untuk menghadiri undangan Sang Rektor. Tak diduga sebelumnya, Rahmah ternyata mendapat anugrah yang luar biasa. Ia dianugrahi gelar Syaikhah oleh Universitas itu.

Gelar Syaikah bukanlah sembarang gelar. Ini hanya untuk orang-orang ahli dalam bidang tertentu dan menguasai khazanah ilmu-ilmu keislaman. Gelar yang baru disandangnya itu setara dengan gelar Syeikh Mahmoud Syalthout, salah seorang mantan rektor al-Azhar. Bahkan, Buya Hamka pernah berkata ”Selama beberapa ratus tahun ini, hanya Rahmahlah yang memperoleh anugrah gelar tersebut.”

Rahmah hidup hingga usia 69 tahun. Tepat pada jam 18.00 tanggal 26 Februari 1969, aktivis perempuan pelopor pendidikan itu menutup mata. Satu-satunya saikhah Indonesia meninggal dunia. [AUM/BERBAGAI SUMBER]


Syirah/Edisi 62/Februari 2007.


Akhlak Dulu, Baru Fikih

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Kampung itu dihuni warga Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Mereka hidup berdampingan. Dalam hal mu`amalah, hidup bermasyarakat, perbedaan itu tak pernah mengemuka. Tapi jangan bilang kalau soal ibadah. Mereka punya pedoman fikih masing-masing yang tak bisa diganggu gugat.

Saking fanatiknya, ada dua masjid di kampung itu. Masjid ala NU dan ala Muhammadiyah. Rizal adalah warga Muhammadiyah. Pada bulan Januari lalu, ia kedatangan tamu, teman lamanya. Syamsul, nama pria itu. Ia seorang santri Langitan Jawa Timur, pesantren yang kental dengan NU.

Saat shalat Subuh, Syamsul bertindak sebagai Imam. Pada rakaat kedua, setelah iktidal, Syamsul mengangkat dua tangan seraya berdoa. “Amin… amin… amin…,” suara Rizal mengiringi doa qunut yang dipanjatkan Syamsul.

Usai shalat. Ayah Rizal masuk ke ruangan shalat di sudut belakang rumah. Ia menegur anaknya itu.

“Mengapa kamu tadi bilang amin… amin… ketika iktidal?”
“Saya mengamini doa qunut yang dibaca Syamsul.”
“Kenapa kamu shalat subuh pakai qunut? Ikut-ikutan Syamsul! Itu bid`ah. Nabi tak pernah melakukan itu. Kamu shalat subuh ulang. Shalat kamu tadi batal.”

Perdebatan terus berlangsung. Rizal melakukan itu dengan dalih “menghormati tamu”, tak lebih dari itu. Ayahnya masih tak mau terima. Rizal lalu menyitir kisah pada zaman sahabat. Alkisah, Utsman bin Affan berada di Mina dalam rangkaian ibadah haji. Ketika dhuhur tiba, ia shalat empat rakaat. Begitu pula dengan Ashar.

Peristiwa ini diceritakan sahabat Ibnu Yazid kepada Abdullah ibnu Masud. Menurut Ibnu Masud, tindakan Utsman itu adalah “musibah”. Sebab, Utsman telah meninggalkan sunnah Rasul dan Sunnah Abu Bakar dan Umar. Mereka mengajurkan shalat qashar ketika berada di Mina.

Anehnya, saat Ibnu Masud menjalankan haji. Ia tidak mengqashar dhuhur dan ashar. Mengapa? “Sekarang ini, Utsman adalah pemimpinku. Aku melakukan ini sebagai rasa hormatku kepadanya. Aku tidak menginginkan ada pertengkaran akibat perselisihan,” dalih Ibnu Masud.

“Apa benar cerita itu?” tanya ayah Rizal kepada Syamsul.
“Betul Pak, kisah itu termaktub dalam Sunan Abi Daud dan Sunan al-Baihaqi,” jawabnya. Sunan Abi Daud adalah kompilasi hadis karya Abu Daud (w. 889 M). Sedang Sunan al-Baihaqi adalah Sunan al-Baihaqi al-Kubra karya al-Baihaqi (w. 1066 M).

Ayah Rizal baru memahami. Ternyata, fikih itu tidak kaku seperti yang dibayangkan. Tapi, bisa saja berubah karena pertimbangan akhlak atau etika. Paska kejadian itu, Syamsul kerap diajak jalan-jalan oleh ayah Rizal.

“Mau ke mana Ayah, pagi-pagi kok mau naik mobil bareng Syamsul?” tanya Rizal.
“Saya kan mau menghormat tamu juga...” Gerrrr... [AUM]

Syirah/Edisi 62/Februari 2007.

21 Februari 1965, Pejuang Anti Rasisme Tertembak

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Pemuda kulit hitam, rambut kriting, dan berbadan tegap dijebloskan ke penjara. Ia terbukti terlibat beberapa aksi kriminal: perampokan, perusakan toko, pengedaran narkoba, dan perjudian. Saat itu, usianya baru 20 tahun, ia menjadi manusia liar, abai aturan, dan akrab dengan senjata api.

Malcolm X, nama pria yang masih belia itu. Lahir pada tanggal 19 Mei 1925 di Omaha Amerika Utara. Nama aslinya, Malcolm Little. Ayahnya seorang pendeta baptis, bernama Reverend Earl. Waktu itu, di negeri Paman Sam sentimen ras sangat kental. Diskriminasi acap dialami warga keturunan Afrika-Amerika, yang disebut kaum negro. Ketika ia berusia enam tahun, ayahnya menutup mata, dibunuh kelompok rasis kulit putih.

Kehilangan ayah bagai kehilangan segalanya. Malcolm lepas kendali, putus sekolah, dan jauh dari etika agama. Puncaknya, tanggal 12 Januari 1946, ia tertangkap pihak berwajib dan harus meringkuk kurang lebih selama tujuh tahun.

Dua tahun berlalu. Reginald, saudara lelakinya masuk agama Islam. Ia getol mengenalkan pemikiran Elijah Muhammad kepada Malcolm. Elijah adalah pendiri Nation of Islam (NoI), organisasi perjuangan kesetaraan hak warga muslim kulit hitam di Amerika. Selama di penjara, ia kerap berdiskusi dengan Elijah melalui surat.

Ia dinyatakan bebas tanggal 7 Agustus 1952. Tak lama, ia menjumpai Elijah di Chicago dan menjadi anggota NoI. Karena kepiawaiannya, ia kemudian tenar sebagai figur pejuang anti diskriminasi ras. Ia menjadi orang nomor dua setelah Elijah di NoI.

Tapi, di tengah perjalanan, terjadi perselisihan antara Malcolm dan Elijah, ihwal prinsip NoI yang terlalu ekstrim. NoI menolak bantuan apapun dari kalangan kulit putih, meski mereka mendukung perjuangan anti rasisme. Bahkan, mereka dianggap iblis, dan yang terhormat adalah Elijah Muhammad, utusan Allah.

Menurut Malcolm, pandangan tersebut justru bertentangan dengan ajaran Islam. Agama Islam tidak membeda-bedakan kehormatan dan kehinaan seseorang berdasarkan ras dan warna kulit, serta tidak ada nabi lagi sesudah Muhammad SAW Karena itu, ia keluar dari NoI.

Ia lalu menunaikan haji ke Makkah, tahun 1964. Sepulang dari tanah kelahiran Nabi, ia mendirikan Organization of Afro-American Unity, Organisasi Persatuan Afro-Amerika, 28 Juni 1964. Di perkumpulan ini, ia tidak lagi sekadar menyampaikan pesan Islam untuk pembebasan kaum kulit hitam, melainkan untuk semua ras.

Ulah Malcolm ini ternyata membuat gerah beberapa kalangan. Tanggal 21 Februari 1965, ia berpidato di sebuah hotel di New York. Ia baru saja memulai, tiba-tiba kericuhan terjadi. Para pengawalnya berlari ke arah keributan. Malcolm sendirian di mimbar. Seorang kulit hitam kelam mengarahkan pistol ke dada Malcolm dan pelatuk pun dilepas. Dua orang lagi, dari arah berbeda, juga melepaskan tembakan. Ia meninggal dan jasadnya dikebumikan di Ferncliff Cemetery di Hartsdale, New York. [AUM/WIKI/IRIB]

Syirah/Edisi 62/Februari 2007.


 
Design by Free WordPress Themes | Blogger by Pemuda - Premium Blogger Themes