Friday, October 06, 2006

Menapak Jejak Islam Indonesia

Islam masuk ke Indonesia dari jalur yang beragam. Karenanya, corak Islam Indonesia pun menjadi tidak tunggal.

Oleh Abdullah Ubaid Matraji

Menjelang diskusi usai, sosok berkulit putih dan berkaca mata mengangkat tangan kanan. Rupanya dia ingin bertanya. “Silahkan Mas yang berada di belakang,” kata moderator.

Pria pemilik nama Wandy Nicodemus Tuturong itu pun berdiri, menyambar mik di atas meja, lalu mulai angkat bicara. “Hingga sessi kedua ini, saya belum menemukan jawaban, atau sedikitnya rumusan, apa itu Islam Indonesia yang menjadi tema sentral diskusi ini,” kata pria tambun berusia 34 tahun itu, “Menurut saya, Islam Indonesia itu Islam yang sesuai dengan Pancasila, betulkah demikian?”

Ups.. ternyata dia tidak hanya bertanya, tapi juga mengkritik arah pembicaraan narasumber yang tidak karuan juntrungnya. Itulah cuplikan diskusi bertajuk Reinventing Islam in Indonesia, Menemu-Ciptakan Islam Indonesia, digelar di wisma Antara, Sepetember silam. Diskusi yang digelar dalam rangka milad Syir’ah yang kelima ini, bermaksud menemukan definisi, atau paling tidak, kategori untuk menjelaskan Islam Indonesia.

Deputi Rektor Universitas Paramadia Yudi Latif, mengkritik tema yang diusung panitia. “Tema yang berbahasa Indonesia itu sudah benar, tapi tema Inggrisnya yang menurut saya kurang tepat,” tandas narasumber yang duduk ditengah berdampingan dengan KH. Ma’ruf Amin, Muslim Abdurrahman, dan Zuhairi Misrawi itu. Menurutnya, yang lebih pas adalah Reinventing Indonesianis Islam. Jadi, harus dibedakan: antara istilah “Islam di Indonesia” dan “Islam Indonesia”.

“Islam di Indonesia” berarti sesuatu yang datang dari luar, tanpa ada proses akulturasi dengan budaya lokal. Jadi bentuk Islam itu satu dan seragam, di manapun berada. Berbeda halnya dengan Islam Indonesia. “Islam Indonesia” berarti Islam khas Indonesia, Islam yang sudah kawin dengan tradisi masyarakat lokal. “Jadi Islam itu bentuknya beragam: ada Islam Indonesia, Islam Mesir, Islam Iran, Islam Amerika, dan seterusnya,” katanya. Apa iya begitu?

Bisa iya bisa tidak, sebab pencarian itu belum berujung. Jangankan menemukan karakteristik paripurna Islam Indonesia, dari sisi sejarah masuknya saja, masih debatable. Kalau diteliti dalam buku-buku sejarah masuknya Islam di Indonesia, pasti ditemukan banyak versi. Setidaknya, yang pernah mengemuka ada empat teori. (1) Teori Gujarat, seperti yang meyakini, asal muasal Islam masuk di Indonesia dari Anak Benua India, bukan dari Persia atau Arabia.(2) Teori Persia, yang menitikberatkan pandangannya pada kesamaan kebudayaan masyarakat Indonesia dengan Persia.

(3) Teori Arabia, yang mendasarkan teorinya pada peranan dominasi pedagang Arab dalam perdagangan Barat-Timur sejak abad awal Hijriyah, atau pada abad VII dan VIII Masehi. Dan yang terakhir (4) teori Cina, yang berdasar atas bukti kesamaan mahdzab (Sunni-Syi’ah) kaum muslim Cina dengan bangsa-bangsa muslim sepanjang Jalan Sutera, termasuk Indonesia.

Manakah teori yang paling benar? “Teori itu benar semua, sebab Islam masuk tidak dari jalur tunggal, tapi dari berbagai arah,” cetus Jadul Maula. Menurut direktur Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) ini, dampak yang terpenting dari jalur yang tidak tunggal itu adalah multikultural, atau warna-warni wajah Islam di Indonesia.

Berarti, sejak dulu, keberadaan Islam Indonesia itu multikultural (majemuk), tidak mengacu pada satu tradisi tertentu, Arab atau Gujarat sentris misalnya. Apalagi kalau kita baca naskah kuno semisal Hikayat Semaun, Amir Hamzah, atau serat menak. Serat dan hikayat itu membuktikan, latar awal Islam Indonesia itu tidak langsung mengacu ke Arab, tapi campur baur dengan budaya Persia, Arab, Cina, dan yang lainnya.

Seiring perkembangan zaman, ada tiga gambaran Islam di Indonesia. Pertama, model sufistik. Ini berkembang sejak abad ke 13-15 dan arsiteknya adalah Wali Songo. Islam model ini berupaya untuk mengakomodir tradisi lokal. Waktu itu, Wali Songo sadar bahwa sebelum Islam datang, Indonesia dikuasai kerajaan Hindu dan Budha. Karenanya, mereka tahu diri, akhirnya tradisi dua kerajaan tersebut tidak digerus, tapi dikawinkan dengan ajaran Islam. Model ini banyak melahirkan organisasi-organisasi sufi yang biasa disebut tarekat: Syattariyyah, Naqsyabandiyah, Rifaiyyah, Qadiriyah dan lain-lain.

Kedua, model puritan. Model ini cenderung anti-tradisi lokal. Pemahaman Islam yang disebarkan mengacu pada alquran dan hadis secara murni, serta menolak bid’ah. Model yang berkembang pada abad ke-19 ini menamakan gerakannya dengan istilah pembaruan. Di sini, Muhammadiyah disebut-sebut sebagai motor penggerak. Di abad ini pula lahir Nahdlatul Ulama, sebagai anti-tesa Muhammadiyah.

Terakhir, model Islam radikal. Berkembang sejak 1980-an sampai sekarang. Tumbuhnya gerakan ini kebanyakan didasarkan kekecewaan politik atau diskriminasi umat Islam oleh pemerintah. Gagasan utamanya adalah menolak Pancasila dan penegakan syariat Islam. Kelompok yang ada di barisan ini antara lain Majelis Mujahidin Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia, Front Pembela Islam dan Jama’ah Tarbiyah.

Begitulah ragam Islam di Indonesia. Jelas sudah, hingga kini, warna dasar Islam Indonesia masih tetap seperti semula, majemuk dan tidak tunggal. Jika ada kelompok-kelompok tertentu yang menghendaki keseragaman, maka ia sejatinya tercerabut dari akar dan jati diri Indonesia. []

Syir'ah/58/Oktober/2006.

Islam Indonesia Bukan untuk Memilah-milah

Belakangan ini mengemuka gagasan Islam Indonesia, yang dikampanyekan sebagai bentuk kesadaran historis masyarakat lokal Indonesia. Apa dan bagaimana sejatinya Islam Indonesia itu? Berikut ini petikan wawancara Abdullah Ubaid Matraji dengan Jadul Maula, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Islam dan Sosial, yang pernah melakukan penelitian seputar Islam Indonesia.


Berbagai seminar dan diskusi digelar untuk menelusuri Islam Indonesia, konsep apakah itu?
Ini adalah bagian dari pencarian identitas keislaman di Indonesia, dengan mempertimbangkan aspek geografi dan sejarah. Juga merupakan pencarian identitas untuk melawan keterasingan.

Melawan keterasingan itu maksudnya apa?
Maksudnya adalah bagaimana mengelola masalah-masalah di Indonesia, tapi tidak membuat kita tercerabut dari akar budaya. Misalnya, sekarang kita ribut-ribut soal Islam dan terorisme. Kalau kita ribut di situ, kita merasa terasing toh? Sebagai bangsa Indonesia kita tidak bisa menjawab itu. Itu adalah agenda internasional, bukan masalah bangsa Indonesia.

Berarti kita gagap, karena tidak bisa merespons globalisasi?
Bukan begitu. Tapi bagaimana kita menjawab masalah-masalah itu dengan logika kita sendiri, berdasarkan sejarah dan tradisi yang kita miliki. Kalau kita masuk wacana “terorisme” misalnya, lalu kita tidak punya satu pengertian ala Islam Indonesia, maka kita tidak punya logika sendiri, tapi justru didekte agenda luar atau kepentingan asing.

Kalau begitu, apa definisi terorisme ala Islam Indonesia?
Satu misal. Menurut kita ekspoitasi sumberdaya alam tanpa kaedah itu adalah terorisme, itu amcaman yang nyata. Jadi terorisme bukan perang antar peradaban atau perang agama seperti yang didefinisikan orang luar.

Setelah sekian lama mencari, hasil temuan Islam Indonesia itu bagaimana?
Adalah suatu spirit untuk dandani menungso, masyarakat, lan negoro (memperbaiki manusia, masyarakat, dan negara). Ini adalah komitmen paling dasar Islam Indonesia. Konsep ini juga mengembangkan ajaran keagamaan yang orientasinya bukan menaklukkan manusia dalam ajaran agama, tapi membuat manusia itu tumbuh wajar dan alami. Sehingga terciptalah masyarakat yang egaliter dan toleransi.

Secara rigid, apa definisi Islam Indonesia?
Pencarian Islam Indonesia itu tidak bermaksud mencari definisi yang baku dan kaku. Lalu dengan definisi itu digunakan untuk memilah-milah, ini bukan Islam Indonesia, ini Islam Indonesia. Bukan begitu menurut saya.

Lalu apa?
Yaitu spirit untuk mengintegrasikan (Islam dengan) Indonesia, bukan malah menserabut diri kita dari akar tradisi dan sejarah Indonesia. Sekarang ini banyak kelompok yang justru melakukan dehistorisasi, melupakan sejarah lokal. Misalnya Ahmadiyah. Pada satu sisi, saya bela dia karena didiskriminasi. Tapi, sisi lain saya tidak setuju. Karena Ahmadiyah mengasingkan orang Indonesia. Sebab orientasinya lebih ke India sentris. Begitu pula dengan Hizbut Tahrir Indonesia yang cenderung Arab Sentris. []

Syir'ah/58/Oktober/2006.

Potret dari Mimbar ke Mimbar

Dakwah yang seharunya berorientasi pada edukasi dan pencerahan, kini berubah menjadi sebuah komoditi, bahkan ajang menebar kebencian.

Oleh Abdullah Ubaid Matraji

Cendekiawan muslim Indonesia Jalaluddin Rakhmat, ketika ziarah ke tanah suci Makkah, beberapa tahun lalu, bertemu seorang kiai. Kang Jalal, begitu biasa disapa, berniat memberi hadiah kitab berjudul Wasiyyah al-Nabiyy, Wasiat Nabi, kepada kiai yang juga berasal dari Indonesia itu.

“Ini pak.. kitab dapat digunakan sebagai bahan dakwah,” kata Kang Jalal. Pemberian buku tanpa diminta itu ternyata ditolak oleh Sang Kiai.

“Wah..! dakwah sekarang tidak perlu yang seperti ini, yang diperlukan adalah bagaimana membuat dagelan, kalau bisa ada nyanyian dan tarian-tariannya sedikit,” jawab kiai itu berargumen.

Kisah itu diceritakan Kang Jalal dalam tayangan program talkshow Islam Indonesia yang bertajuk Metode Dakwah Kontemporer di Metro TV, hari Kamis tanggal 21 September.

Apa yang dikisahkan Kang Jalal hanyalah sebuah ilustrasi kecenderungan sebagian para da’i sekarang yang lebih banyak menampilkan sisi lucunya. Hanya ingin membuat mad’u atau audiens senang tertawa terpingkal-pingkal, namun esensi dakwahnya kabur entah kemana.

Pembicara lain yang tampil sore itu, Khoirul Huda Basyir, itu mengamini. Menurut sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) ini, pendekatan dakwah di Indonesia memang banyak menggunakan cara-cara ala srimulat, melawak. Karena itu, mimbar dakwah masih diwarnai khitâbah, sekedar orasi atau pidato, belum sampai pada peran sebagai media dakwah, menyeru umat pada kebaikan sekaligus mencegah kemunkaran.

Bagi Kang Jalal, fenomena dakwah model ini tak ubahnya entertainment, hiburan, yang setiap hari menyapa di televisi. Tak pelak lagi, gelak tawa, sikap lucu, dan musik, adalah prasyarat wajib sebuah acara hiburan. “Ini adalah bagian dari industrialisasi dakwah,” tegas ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia ini.

Kalau bicara realistis, tambah Kang Jalal, manusia sekarang hidup di era globalisasi, berbarengan dengan itu, kapitalisme international menguasai media yang digunakan sebagai alat ideologi. Jadi, dakwah sekarang telah diwarnai kecenderungan kapitalistik, bagaimana meraup untung sebesar-besarnya dengan berdakwah. Karena itu, dakwah harus patuh pada hukum-hukum marketing atau pemasaran: dakwah akan didengar jika mengikuti selera pasar. Untuk menjaring pasar, seorang dai harus pintar packizing, mengemas pesan-pesan agama agar laku di pasaran.

Pengemasan ini, menurut Huda yang alumnus Universitas al-Azhar Mesir ini, adalah sebuah keniscayaan. Dakwah bukan berarti tidak boleh dikemas atau dimodifikasi. Kemasan itu harus, agar dapat menarik audiens. Tapi yang perlu diperhatikan adalah porsi dakwah sebagai tuntunan itu harus lebih dominan daripada sekadar sebagai tontonan.

Ini adalah satu soal. Pada sudut lain, kata Huda, pola dakwah juga masih diwarnai gaya penyampaian yang provokatif, membakar semangat massa. Misalnya dengan mengkhotbahkan, si fulan itu kafir, sesat, murtad, dan masuk neraka. Atau, kelompok anu itu tidak Islami, keluar dari jalur Islam, makanya harus diserang, dan seterusnya.

Belakangan kasus seperti ini terjadi pada seorang dai yang dalam ceramahnya mencaci-maki KH Abdurrahman Wahid di atas mimbar, saat menjadi khotib shalat Jumat di sebuah masjid di Jakarta, akhir Agustus lalu. Ia pun menuai protes dari sejumlah jamaah. Kalau sudah begini, “Dakwah yang seharusnya berpesan edukatif berbalik arah menjadi ajang justifikasi, bahkan fitnah,” terang Huda.

Sebagai akademisi yang consern di bidang komunikasi massa, Kang Jalal melihat dari sudut pandang ilmunya itu. Untuk menarik pendengar, ceramah model ini memang cespleng. Sebab, menurutnya, yang menarik perhatian publik itu ada dua, bloods (darah, adegan kekerasan) dan bras (kutang, sesuatu yang berbau porno). “Untuk kategori kedua, saya tidak akan bahas di sini,” kelakarnya yang disambut gelak tawa kru Metro TV sore itu.

Yang berdarah-darah dan provokatif itulah yang menyenangkan orang. Ia lalu memberikan tamsil. “Coba tawarkan ke televisi program pendidikan yang serius dan mencerahkan, pasti akan ditolak, karena tidak menarik, tidak ada unsur blood tadi,” papar Kang Jalal.

Agar penceramah tidak terjebak dalam gaya dakwah yang keras dan provokatif, Huda menjelaskan strategi LDNU, yaitu dengan sertifikasi dakwah. Setiap dai yang hendak terjun ke lapangan hendaknya memiliki sertfikasi standar yang diberikan LDNU. “Ini tidak dimaksudkan untuk memformalkan seorang dai. Tapi, memberikan standar kompetensi,” katanya. Sertifikasi ini tidak diberikan begitu saja. Agar standar kompetensi tercapai, seorang dai harus melewati fase-fase pendidikan dan pelatihan. Selain materi keislaman, seorang dai juga harus dibekali etika gaul dalam bermasayarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dengan begitu diharapkan dai yang digodok di LDNU memiliki kemampuan yang memadai. Secara garis besar, LDNU ingin mengembangkan dakwah yang sejuk dan humanis. Metode ini seperti tercermin dalam surat Thaha ayat 43 sampai 44. Allah memerintahkan kepada Nabi Musa dan Harun untuk berdakwah kepada Raja Firaun, yang dikenal otoriter dan keras kepala.

Apa perintah Allah? “Faqûlâ lahû qaulan layyinan..” sampaikan dakwah itu dengan kata-kata yang lembut, supaya dia ingat atau takut. Meski menghadapai Fir’aun yang kejam dan suka menindas Musa dan Harun tetap diperintahkan untuk lemah lembut dan santun. “Saya kira, di sinilah dakwah harus ditempatkan,” tegas Huda. []

Syir'ah/58/Oktober/2006.

“Menyepi” dari Gemerlap Dunia

Dulu lelakon zuhud dilakukan dengan menyepi di gunung. Nampaknya tak relevan lagi. Kini, zuhud berarti menyingkirkan hati dari gejolak nafsu.

Oleh Abdullah Ubaid Matraji

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Muhammad SAW ia bertanya, “Ya Rasul, perbuatan apakah jika aku melakukannya maka Allah dan manusia akan mencintaiku?” “Zuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu; dan zuhudlah engkau terhadap segala kegemaran manusia, niscaya manusia akan mencintaimu,” jawab Nabi seperti dikisahkan dalam Sunan Ibn Majah karya Ibn Majah, ahli hadis kelahiran kota Qazvin, Iran (w. 273 H)

Zuhud biasa diartikan meninggalkan urusan dunia. Akar katanya dari zahada artinya tidak suka atau tidak menginginkan. Kamus Arab al-Munjid (penolong) mengartikan, zuhud adalah meninggalkan urusan duniawi guna beribadah dengan menyepi. Orang yang melakukan zuhud disebut zâhid. “Meninggalkan keluarga, menyepi di goa, mengasingkan diri, berpakaian compang-camping, lusuh, dan miskin,” demikian seorang zahid acap diidentikkan.

Kalau dulu, faktanya memang ada yang begitu. Ini setidaknya pernah dilakoni imam al-Ghazali (1058-1111 M), yang selama bertahun-tahun mengurung diri di tanah Syam atau yang sekarang disebut Syiria. Ibrahim bin Adham (seorang tokoh sufi yang wafat tahun 165 H/782 M) juga pernah melakukan. Ia meninggalkan keluarganya selama 18 tahun untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan, Nabi Muhammad SAW meninggalkan istri tercinta Khadijah guna melakukan zuhud selama berbulan-bulan dalam goa Hira, di Jabal Nur, dan akhirnya mendapatkan wahyu dari Allah.

Kenyataan ini tidak bisa ditampik. Dalam kitab hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim ada riwayat lain. Alkisah, Rasulullah ditanya seseorang, “Manusia bagaimana yang paling utama, ya Rasul?” Nabi menjawab, “Lelaki yang berjuang dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah.” Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” “Lelaki yang tinggal di sela-sela gunung untuk beribadah menyembah Tuhannya,” sabda Rasul.

Hadis-hadis itulah yang dijadikan landasan melakukan zuhud dengan cara menyepi, menjauh dari kehidupan masyarakat. Berzuhud model ini biasanya dijadikan alasan orang untuk takut menekuni dunia tasawuf, dan akhirnya zuhud menjadi tidak relevan lagi.

Padahal sejatinya tidak demikian. Zuhud tetap memegang peran penting. Dalam kitab al-Luma’ (Sebuah Berkas Cahaya), Abu Nashr al-Sarraj (w. 378 H) memandang, zuhud merupakan kedudukan spiritual yang mulia dan tapak kaki awal bagi orang-orang yang hendak menuju Allah azza wa jalla, Dzat yang Maha Agung dan Mulia. Jadi, sayang sekali jika zuhud dianggap model ibadah yang telah usang.

Zuhud dalam perkembangannya dijalankan dengan dua model. Model pertama, dengan memisahkan total antara perkara dunia dan akhirat. Kelompok ini memandang, dunia dan akhirat adalah sesuatu yang berbeda dan harus dipisah. Ini seperti digambarkan dalam kitab yang cukup populer di pesantren, Minah Al-Saniyyah, pemberian yang bagus, karya sufi kelahiran Mesir Abdul Wahab al-Sya’rani (898-973 H). Menurutnya, model ini efektif dijalankan dengan cara uzlah, menyepi dan menyendiri dari keramaian.

Model kedua adalah tidak semata-mata memisahkan dunia dan akhirat. Tapi, bagaimana menerapkan keduanya tanpa ada ketimpangan. Dunia dan akhirat, dalam konteks ini, dijalankan secara selaras, serasi, dan seimbang. Meski hidup dengan gelimang harta, tak secuilpun keinginan untuk menguasainya. Justru nikmat yang berupa harta itu dibagi-bagikan untuk kepentingan sosial dan kemaslahatan umum. Cara ini dinilai lebih realistis dan menjawab kebutuhan kekinian. Ini sebagaimana dipopulerkan Abu Nashr al-Sarraj dalam kitab al-Luma’.

Menurut al-Sarraj, zâhid itu terbagi menjadi tiga rangking. Pertama, orang yang tidak punya harta sepeser pun, begitu pula hatinya yang kosong dengan syahwat duniawi. Kedua, orang yang bisa melepaskan dirinya dari syahwat duniawi, padahal di sekelilingnya bergelimang harta, tahta, dan urusan dunia lain. Ketiga, bagi orang yang seandainya segala sesuatu di dunia ini menjadi miliknya dan nanti dia tidak akan dihisab di akhirat, tapi dia lebih memilih jalur zuhud: tidak mementingkan urusan dunianya, tapi memanfaatkan seluruhnya untuk kepentingan kemaslahatan umum.

Untuk menjalankan zuhud model kedua ini, manusia tetap harus “menyepi”, tapi dalam pengertian lain: menyingkirkan hati dari nafsu beserta bisikan dan bujuk-rayunya. Jelas, menyepi di sini bukan menjauhkan diri dari kehidupan manusia, tapi menjauhkan diri dari nafsu. Nafsu itu kan selalu mengajak kesenangan, karena itu menyepi dari nafsu berarti tidak bersenang-senang dan terjerumus dalam gelimang dunia.

Di era sekarang, menyepi dengan mengasingkan diri adalah suatu kenaifan. Kini, “menyepi” berarti menyingkirkan hati dari nafsu. Yaitu dengan cara mengenalinya lalu berperan sebagai pemegang kendali.

Berdasarkan pemaknaan ini, salah satu imam mahdzab empat dalam fiqih Ahmad bin Hanbal menyatakan, ada 3 macam zuhud. Pertama, menjauhi perkara-perkara yang haram, zuhud seperti ini adalah zuhud ala orang awam. Kedua, menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam hal yang dihalalkan, ini merupakan zuhud ala orang-orang khusus. Ketiga, menjauhi apapun yang memalingkan hamba dari Allah, inilah model zuhud orang-orang makrifat.

Mengenali Nafsu dan Memegang kendali

Ada banyak jenis nafsu dalam al-Qur’an, antara lain: pertama, hawa nafsu. Seperti dijelaskan dalam surat al-Nâzi`at ayat 40. “..wa naha al-nafsa an al-hawâ..” jika orang-orang takut kepada Tuhan dan menahan diri dari hawa nafsu, maka surga adalah tempat tinggalnya. Hawa nafsu di sini adalah nafsu dalam pengertian umum, keinginan yang menyenangkan. Nafsu jenis ini juga sering disebut “nafsu hewani”, seperti makan, minum, syahwat, harta, kekuasaan, dan lain-lain.

Kedua, nafsu ammarah. Surat Yusuf ayat 53 mengisyaratkan, “...innâ al-nafsa laammâratun bi al-sûi..” sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan. Ammarah artinya menarik, mendorong, dan menyuruh. Berarti, nafsu yang hanya menyuruh kepada kejelekan dan kejahatan. Misal, ketika orang dikarunia harta yang melimpah, nafsu amarah memerintah menyimpannya untuk diri sendiri, atau digunakan untuk berfoya-foya.

Ketiga, nafsu musawwilah, artinya ahli mempesona atau ahli memukau. Tugasnya hanya satu, menyulap tiap-tiap yang jelek menjadi kelihatan bagus dan sesuatu yang terlarang kelihatan menjadi perintah. Misalnya, pamer, hasud, iri hati, rakus, tidak puas, sombong, mau menang sendiri, dan iri hati. Al-Qur’an mengisyaratkannya dalam surat Yusuf ayat 83, “Qâla bal sawwalat lakum anfusukum amran,” Ya’qub berkata, hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu.

Nafsu-nafsu itu tak lain laksana kuda tunggangan yang liar: kita yang akan pegang kendali, atau justru kita akan diombang-ambingkan? Jawabnya tentu ada pada diri kita masing-masing. Ingat pesan Rasulullah, “Jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu, bukan menghunus pedang di medan perang,” kata Rasul, seperti ditulis dalam Faidl al-Qadir, cucuran kekuatan, karya ahli hadis yang wafat tahun 911 H Abdurrauf al-Manawi.

Setelah kita mengenali nafsu, sekarang tinggal bagaimana cara mengendalikannya? Ada sebuah resep yang diberikan ulama untuk itu. Pertama, berbuat tanpa disertai keterikatan. Kedua, berbicara tanpa diikuti ambisi. Dan ketiga, kemuliaan tanpa adanya dominasi kekuasaan duniawi. Lebih lugas lagi, tiga resep itu berarti: berbuat tanpa pamrih, tidak mengumbar janji dan sombong, serta tidak mudah terbawa arus keduniaan.

Sikap ini tidak hanya diterapkan dalam hal ibadah, tapi juga dalam rangka mengelola pergaulan hidup di masyarakat, bahkan dalam memenej sebuah perusahaan.

Alkisah, sebut saja Joko, seorang pemimpin perusahaan di bidang media cetak. Media ini dikenal kritis dan menyuarakan kepentingan rakyat. Tapi sayang, tirasnya belum maksimal. Di tengah-tengah perjalanan, Joko mendapat tawaran menggiurkan. Ada inverstor besar yang mau membeli seluruh saham, dengan menawarkan iming-iming: kenaikan pangkat dan gaji berlipat.

Investor ini dikenal publik sebagai “pemain” politik, atau biasa disebut broker (calo politik). Joko pun memutar otak: jika inverstor sudah tidak berkepentingan, maka ia akan mencabut sahamnya, lalu perusahaan gulung tikar dan akan menambah angka pengangguran. Dan bisa jadi, media tersebut akan ditinggalkan pembacanya, sebab isi beritanya mengarah pada kepentingan si investor tadi.

Demi kelangsungan hidup karyawan dan menjaga iklim demokratisasi di Indonesia, Joko tetap pada pendirian semula, ia menolak. Dan berkat usaha kerasnya, akhirnya Joko mampu mengajak investor-investor kecil untuk bergabung di perusahannya. Beberapa tahun kemudian, Joko sukses membawa kemajuan pesat.

Ini adalah sepenggal kisah pemimpin perusahaan yang zuhud. Ia teguh berjuang demi tegaknya kedaulatan rakyat tanpa pamrih, mementingkan nasib karyawan daripada dirinya sendiri, dan tidak tergiur dengan iming-iming pangkat dan harta. []


Syir'ah/58/Oktober/2006.

Dakwah Bukan dengan Gaya Keras

Setelah lama berdakwah dengan gaya keras dan ekstrim, dai muda ini sadar bahwa dakwah bukanlah berbentuk hujatan tapi mengajak pada Islam yang damai.

Oleh Abdullah Ubaid Matraji

Dai muda ini tinggal di Klender, Jakarta Timur. Sosoknya yang kalem dengan kacamata membuatnya terlihat adem. Sepanjang karirnya berdakwah ia masih teringat kisah yang membuatnya berubah hingga sekarang.

Waktu itu hari Sabtu malam Minggu, masjid Nahdlatul Muslimin Cakung Jakarta Timur mulai ramai dikunjungi masyarakat sekitar. Tidak jauh dari masjid itu, ada Gereja. Di tempat itu, digelar acara Tabligh Akbar dalam rangka peringatan Maulid Nabi. Nurul bertindak sebagai penceramah agama. Kira-kira pukul 11.00 Nurul mulai berkhotbah di atas mimbar. Tema yang diangkat adalah soal reaksi umat terhadap kristenisasi.

“..Kristen adalah musuh nyata umat Islam. Mereka telah memurtadkan saudara-saudara kita yang miskin. Neraka adalah tempat yang layak baginya. Karena itu, gereja harus dibakar karena menghancurkan umat Islam..” Ungkapan itu keluar dari mulut Nurul, yang masih diingatnya, seperti diceritakan kepada Syir’ah di Wisma Antara Jakarta Pusat. “Waktu itu, saya memprovokasi masa untuk menolak kehadiran gereja di sekitar masjid,” aku alumnus IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Tepat pukul 01.00 dini hari, dai kelahiran Jakarta tanggal 17 Mei 1975 itu turun dari mimbar. Hari minggu sore, ia ditelpon seseorang. “Pak ustad, sebagian teman Bapak dan pengurus masjid berada di kantor Polisi karena telah merusak greja,” kata penelpon itu dengan suara tergopoh-gopoh. Sungguh peristiwa yang tak terduga, “kok bisa sampai brutal begini?” pikir Nurul saat itu.

Waktu itu Nurul masih duduk di bangku Madrasah Aliyah Al-Falah Klender Jakarta Timur. Ia sosok dai yang masih muda dan gagah. Mukanya bersih, tak satu helai rambut pun tumbuh di atas dan di bawah bibirnya. Badannya tegap, kurang lebih 170 cm. Rambutnya selalu rapi tak kelihatan kering. Ada kaca mata tipis di depan matanya.

Saat ditemui Syir’ah ia memakai lengan panjang bermotif batik kotak-kotak berwarna hitam dan kuning emas. Ia bercerita panjang lebar kejadian yang pernah menimpa dirinya itu.

Peristiwa ini terjadi tahun 1991. Paska tragedi itu ayah dari empat orang anak ini sering berfikir reflektif, “Apakah benar apa yang selama ini saya dakwahkan?” gundahnya. Akhir tahun 1993, ia mulai berani mengambil kesimpulan, “Saya harus merubah orientasi dakwah saya,” tandasnya.

Kok bisa berubah begitu? “Perubahan orientasi ini tidak asal berubah, tapi hasil dari sebuah pencarian,” akunya. Ia mengkaji kembali buku-buku sejarah Islam, tafsir alquran, sebab turunnya ayat Alquran (asbab al-nuzul), dan sebab turunnya hadis (asbab al-wurud). Setelah itu ia baru sadar, setiap kali ayat turun, itu pasti ada konteksnya. “Jadi, ini yang menarik saya,” katanya. Ia dulu memahami, Alquran turun tak ubahnya tablet yang harus ditelan bulat-bulat, dan harus diikuti oleh semua umat manusia, bagaimanapun kondisinya.

Latar belakang pendidikan Nurul Huda dijuluki temannya dengan istilah “track surga”. Bagaimana tidak, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, ia tempuh di madrasah, pondok pesantren, dan IAIN. Pesantren yang pernah disinggahi antara lain: Al-Falah Ploso Kediri Jawa Timur, Mambaul Huda Magelang Jawa Tengah, Darul Hadis Malang, dan Al-Wathaniyah Bekasi Jawa Barat.

Selain mengisi majlis taklim di beberapa tempat di Jakarta dan sekitarnya—masjid Baitus Salam Cakung, masjid Nurul Yakin Buaran, Musalla Alhidayah Cakung, masjid Baitul Mukminin Depok—sejak Tahun 2000, ia juga menjadi penghulu di Kantor Urusan Agama Pancoran Jakarta Selatan.

Paska perubahan orientasi itu, bukan berarti dakwah Nurul menjadi mulus. Peringatan Maulid Nabi dua tahun silam, Nurul diundang sebagai penceramah di mushalla Al-Taqwa di Klender Jakarta Timur. Waktu itu, ia mendapat giliran terakhir. Ustad pengagum Nur Cholis Madjid (alm.), budayawan Mh. Ainun Najib, dan Jalaluddin Rakhmat ini mengusung tema Islam Rahmatan lil Alamin. Sepuluh menit pertama suasana hadirin masih tenang.

Nurul mengutip surat Al-Imran ayat 159, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu (orang Islam) berlaku lemah-lembut terhadap mereka (orang kafir). Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka..”

Tatakala mengupas ayat itu, tiba-tiba ada segerombolan orang masuk musholla dan meminta Sang Penceramah turun. “Dia sudah anti-islam, dia sudah anti perjuangan,” tuduh mereka kepada Nurul. Untung saja mereka segera diamankan panitia. “Jangan rusak suasana maulid ini,” himbaunya. Keesokan harinya, mereka datang ramai-ramai bersama lasykarnya ke rumah Nurul yang juga di daerah Klender.

Hanya empat orang yang masuk rumah, sementara yang lain menunggu di luar. Tapi sayang, dialog belum usai mereka pergi dengan ungkapan, “Perintah pimpinan kami tidak ada dialog dengan orang seperti Anda,” ujar salah satu dari empat orang itu. Menurut pengakuan Nurul Huda, mereka adalah kelompok Front Pembela Islam. []

Syir'ah/58/Oktober/2006.

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger by Pemuda - Premium Blogger Themes