Tuesday, May 02, 2006

Perempuan Lebih Terpercaya Daripada Laki-laki

Andai tidak ada Aisyah binti Abu Bakar, istri Rasulullah,
berapa banyak hadis yang akan melayang begitu saja.
Dan apa benar, potensi kejujuran perempuan lebih besar
daripada laki-laki?


Oleh : Abdullah Ubaid Matraji

Di Malam yang hening, 17 Ramadan 41 H/6 Agustus 610 M, dengan tubuh gemetar dan menggigil, Muhammad, menyusuri gurun pasir menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Khadijah terkejut melihat kondisi suaminya yang waktu itu memang gemar menyendiri di gua Hira, sekitar 5 km sebelah utara kota Mekah.

Selimutilah aku, selimutilah aku!” pinta Muhammad kepada istrinya, Khadijah. “Ada apakah gerangan suamiku?” tanya istri Muhammad yang berasal dari kalangan bangsawan Quraisy itu, cemas.

Muhammad, putra Abdullah bin Abdul Muthalib, lalu bercerita panjang lebar tentang kejadian yang baru saja dialami di gua yang terletak di pinggiran tebing gunung Nur itu. Ia bertemu dengan sosok yang tak pernah ditemuinya yang mengaku sebagai Malaikat Jibril.

Oleh Jibril Muhammad diminta untuk membaca namun ia menampik. Jibril memegang tangannya kemudian merangkul Muhammad hingga merasa sesak dan mengulang permintaannya, kembali Muhammad menolak. “Dia memegangiku dan merangkulku ketiga kalinya hingga aku merasa sesak, kemudian melepaskanku, lalu berkata... (ayat 1-5 surat Al-Alaq),” kata Muhammad kembali bercerita.

Muhammad mengulangi ucapan itu dengan hati bergetar. Lalu ia buru-buru pulang.

“Aku khawatir terhadap keadaan diriku ini,” kata Muhammad usai bercerita. Ia tampak sock berat.

Usai mendengar cerita itu, Khadijah dengan lembut menenangkan. “Tidak. Demi Allah. Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan dan jujur dalam kata-kata. Kau yang memikul beban orang lain, menghormati tamu, dan menolong mereka yang dalam kesulitan,” katanya.

Kata-kata itu bagai air dingin yang menyejukkan hati Muhammad. Kegelisahannya berkurang.

Saat pertama Muhammad menerima wahyu memang menjadi momen yang paling berat bagi Rasulullah. Ia masih mengalami kegelisahan setelah itu. Tidak hanya berhari-hari, tapi berbulan-bulan. Namun Khadijah setia mendampingi dan menenangkannya. Bahkan, lebih dari itu, wanita yang dijuluki al-Thahiroh, wanita yang suci, ini berperan besar dalam dakwah Nabi di kemudian hari.

Tak terbayangkan kalau waktu itu tak ada Khadijah. Tapi nanti dulu, ada perempuan lain yang juga berandil besar dalam hal ini. Perempuan itu tidak lain adalah Aisyah, istri Nabi yang lain.

Mengapa? Karena dialah penutur utama hadis itu. Ia referensi paling valid terutama bagi Bukhari dan Muslim, dua Imam besar hadis dalam peristiwa ‘super penting’ mengenai wahyu pertama ini. Dibanding Abu Hurairah, sang mahaguru hadis itu, Anak perempuan Abu Bakar al-Siddiq yang dikenal sebagai wanita yang lincah dan cerdas ini hanyalah kalah banyak dalam meriwayatkan.

Aisyah tidak sendirian. Nama-nama perempuan menyebar dalam lembaran-lembaran kitab ilmu hadis dengan titel sebagai perawi. Ternyata, para ahli hadis (muhadditsin) begitu memberikan kepercayaan yang lebih kepada perempuan, dibanding para ahli fiqih (fuqaha).

Dalam kajian fiqih, menurut kritik beberapa kalangan, perempuan sering dijadikan makhluk nomor dua setelah laki-laki. Misal, dalam kasus warisan atau persaksian (menjadi saksi), perbandingan laki-laki dan perempuan adalah dua banding satu. Bahkan, menurut al-Suyuti (w. 911 H) dalam Tadrib al-Rawi (pembelajaran untuk profesi perawi), perihal penyampaian berita, ahli fikih menyaratkan harus laki-laki (dzukurah) dan merdeka (bukan budak). Perempuan tidak boleh.

Ini berbeda jauh dengan ahli hadis. Mereka tidak mengenal perbedaan antara perawi laki-laki dan perawi perempuan. Jenis kelamin tidak menjadi pertimbangan, apakah kabar itu bisa diterima atau tidak, yang terpenting adalah personalitinya: dapat dipercaya atau pembual.

Sikap ahli hadis yang cenderung moderat ini bisa dilihat dalam kitab-kitab hadis. Sebut saja kutub al-sittah (kitab enam), yaitu Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan al-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah. Dari beberapa kitab tersebut, semuanya tak terlepas dari perawi perempuan.

Bukan hanya menyetarakan, lebih dari itu, di banding laki-laki, ahli hadis lebih mengakui perempuan dalam hal integritas dan kepercayaan (tsiqah). Hal ini bisa dibuktikan dalam kitab-kitab yang memaparkan kajian kritis tentang kualitas seorang perawi (jarah wa ta’dil).

Contoh, Al-Nasâi (w. 303 H) dalam al-Dhu’afa wa al-Matrukin (perawi-perawi yang lemah dan ditolak) berusaha untuk meneropong para perawi yang disinyalir masuk kategori dhaif (lemah) dan hadisnya ditolak. Dalam penelitiannya, ternyata, hanya ditemukan satu orang perawi perempuan yang masuk kategori dhaif. Meski dhaif, menurut Al-Nasai, hadisnya tidak masuk kategori hadis yang harus ditolak dan ditinggalkan, hanya saja penggunaannya tidak dianjurkan. Perlu diketahui, al-Nasai adalah kritikus masyhur serta dikenal jeli dan tajam dalam mengkritik.

Selain itu, kita juga dapat meneliti kitab-kitab kritik riwayat hadis yang berbicara tentang biografi para perawi yang lemah dan tertolak. Antara lain: al-Dhu’afa al-Shaghir (perawi hadis dha’if yang kecil) dan al-Du’afa al-Kabir (perawi hadis dha’if yang besar) karya al-Bukhari, al-Dhu’afa (perawi-perawi yang lemah) karya al-Uqaili (w. 323 H), Ma’rifat al-Majruhin min al-Muhadditsin (pengetahuan tentang para ahli hadis yang cacat) karya Ibnu Hibban al-Busti (w. 354 H), al-Kamil fi Dhu’afa al-Rijal (buku lengkap tentang perawi yang lemah) karya Ibnu Adi (w. 365 H), Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal (ukuran keadilan dalam mengkritik perawi) karya al-Zahabi (w. 748 H), dan Lisan al-Mizan (penunjuk keseimbangan neraca/timbangan) karya Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H).

Di antara kitab-kitab tersebut, Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal adalah lazim disebut sebagai karya terlengkap, yang mengungkap para perawi yang tergolong dhaif. Selain itu, kitab ini juga dianggap sebagai referensi paling dipercaya dalam mengungkap kelemahan dan kepercayaan para perawi. Menurut pandangan Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), salah seorang kritikus hadis, karya al-Zahabi ini memuat kurang lebih 11.053 biografi perawi hadis yang dianggap tidak layak.

Menariknya, dari sekian banyak biografi itu, tak ditemukan satu pun perawi perempuan yang tertuduh dusta (tidak tsiqah) dan ditinggalkan hadisnya. Kalaupun ditemukan beberapa perawi perempuan yang dikategorikan lemah, itu hanya semata-mata tidak ditemukan informasi yang jelas tentang latar belakang dan tindak-tanduk kehidupan mereka, tak lebih dari itu.

Pernyataan ini semakin jelas jika kita baca Nail al-Authar (menggapai tujuan) karya Al-Syaukani (W-1255 H). “Tak satu pun ulama yang menolak hadis yang disampaikan seorang perempuan hanya karena alasan bahwa ia adalah perempuan,” tegas Al-Syaukani. Bahkan ia juga mengatakan, betapa banyak hadis Nabi yang sampai kepada umat karena riwayat sahabat perempuan.

Jelas, seandainya ahli hadis mensyaratkan harus laki-laki dalam suatu riwayat, maka kita akan kehilangan banyak informasi. Terutama soal-soal yang menyangkut kewanitaan, hubungan suami istri, rumah tangga, dan lain-lain. Persoalan-persoalan semacam itu mayoritas dikabarkan oleh perempuan-perempuan yang dekat dengan Nabi.

Misal lain, Musnad al-Imam Ahmad (kitab Imam Ahmad) karya Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H), salah seorang imam fiqih mahdzab empat. Kitab ini memuat satu volume hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat perempuan. Di antaranya adalah Aisyah. Ia meriwayatkan sebanyak 2210 hadis.

Jika dihitung keseluruhan, selain istri nabi yang dijuluki ummul mukminin (ibunya orang-orang yang beriman), ditemukan 125 sahabat perempuan dari 700 orang yang meriwayatkan hadis. Berarti, ada sekitar 18% perempuan dari jumlah perawi keseluruhan.

Hal serupa juga dapat kita tilik dalam Al-Tabaqat Al-Kubra (strata yang besar) karya Ibnu Sa’d (w. 230 H). Ia memberikan ruang satu jilid khusus untuk mengulas biografi para sahabat perempuan yang meriwayatkan hadis, berikut hadis-hadis yang berbicara seputar perempuan.

Kitab-kitab lain yang juga memuat biografi perawi adalah Al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashab (pemahaman tentang bagaimana mengetahui tujuan) karya Ibnu Abdil Barr al-Andalusi (w. 436 H), Usud al-Ghabah fi Ma’rifah al-Shahabah (Mengungkap hal yang tersembunyi tentang para shahabat) karya Izzuddin Ibnul Atsir al-Jaziri (w. 630 H) dan Al-Isabah fi Ma’rifah (tujuan dalam pengetahuan) karya Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H).

Di antara kitab-kitab tersebut, yang sering dikaji adalah karya Ibnu Hajar al-Asqalani. Menurut perhitungan Mahmud Atthahan (1978), dalam kitab tersebut ditemukan 1.522 perawi perempuan dari jumlah keseluruhan 12.267 orang. Lain dengan Ruth Roded (1994). Ia menemukan 1.551 perawi perempuan dari jumlah keseluruhan 12.304 orang. Terlepas dari perbedaan itu, minimal kita dapat mengukur, seberapa besar peran perempuan dalam merekam ucapan, perbuatan, dan kebijakan Rasulullah Muhammad saw.

Sayang, prestasi ini tidak berlangsung lama. Di era tabi’in, generasi setelah sahabat, terjadi penurunan jumlah perawi perempuan secara drastis. Dari 18 % di era sahabat menurun darastis menjadi 1,9 % di era tabi’in. Perhitungan ini bisa ditilik dalam al-Tsiqat (orang-orang yang terpercaya) karya Ibnu Hibban (w. 354 H). Penurunan ini kemudian ditaksir oleh beberapa kalangan sebagai kemunduran kiprah perempuan karena perempuan dibatasi perannya terutama oleh para ahli fikih. Sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh ahli hadis. Siapa yang salah? []

Syirah, Edisi 53, Mei 2006.

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger by Pemuda - Premium Blogger Themes