Saturday, June 10, 2006

Ormas-Ormas Islam Terbentur Tembok

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Saat membuka acara International Conference of Islamic Schoolar (ICIS) II, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono melontarkan statemen tegas soal hubungan Islam dan Barat. Presiden SBY, begitu dia biasa disapa, berangkat dari suatu kenyataan bahwa Indonesia adalah negara yang berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Karena itu, menantu almarhum Letjen TNI Sarwo Edi Prabowo ini menganjurkan umat Islam Indonesia agar mencerminkan nilai dan prinsip Islam yang cinta damai, dan tidak memandang Barat dengan pendekatan sentimentil.

Mengapa SBY sampai berbicara begitu? Hemat saya, Sang Presiden ingin memaparkan kepada peserta konferensi, bahwa tindakan terorisme dan aksi-aksi kekerasan yang belakangan ini marak di Indonesia memang benar-benar terjadi dan tidak mungkin ditutup-tutupi. Ini adalah persoalan riil problem kebangsaan. Masyarakat Indonesia yang dulu dikenal akur, bersatu, dan toleran, kini berubah wajah menjadi momok yang sangar dan menakutkan.

Dengan mencatut legitimasi agama, orang dengan seenaknya menghakimi orang lain, merusak tempat ibadah, menebar kebencian, saling fitnah, saling tikam, dan saling bunuh-membunuh. Tregedi demi tragedi terus bergiliran. Mulai dari tragedi berdarah di Maluku, Sulawesi, Aceh, sampai dengan teror bom bunuh diri di tempat-tempat khalayak. Sekejap, pandangan mata dunia Internasional tertuju pada Indonesia yang berubah menjadi negara seram dan sangar. Negara-negara Barat berebut mengeluarkan travel warning kepada warganya agar tidak melancong ke Indonesia.

Anehnya, begitu beberapa pelaku aksi kekerasan itu tertangkap, dengan enteng mereka berdalih: saya hanya beramar makruf nahi munkar, mengajak kebaikan dan mencegah kemunkaran. Saya tidak habis pikir, satu misal ketika melihat di televisi, salah satu tersangka peledakan bom di Bali, Imam Samudra alias Abdul Aziz, dengan tangan diborgol dan dijaga dengan ketat dia senyam-senyum di depan kamera dengan mengumbar jargon Allahu Akbar.. Allahu Akbar.., Allah Maha Besar, dan juga mengatakan jihad fi sabilillah, berjuang di jalan Allah. Ironis sekali, nama kebesaran Tuhan dieksploitir menjadi martir penebar teror dan pencabut nyawa.

Kelompok-kelompok ini, di Indonesia, biasa disebut-sebut sebagai kelompok Islam fundamental atau radikal. Mereka memang sering kali mengeksploitasi doktrin-doktrin agama, baik dari al-Qur’an atau Hadis, sebagai pembenar langkah. Karenanya, belakangan ini, banyak orang-orang di luar Islam yang takut atau ngeri melihat masyarakat Islam. Jamaknya kita kenal dengan istilah ‘Islamphobia’, ketakutan kepada Islam.

Untung saja presiden SBY memahami ini. “Kita harus berbuat lebih cermat dan tegas untuk memerangi gelombang Islamophobia yang tampaknya sedang berkembang,” begitu katanya pada forum ICIS II di Hotel Borobudur, Jakarta, tanggal 20 Juni lalu.

***

Kelompok-kelompok tersebut diwadahi oleh organisasi kemasyarakatan (ormas) yang beragam. Titik temunya adalah ihwal penyelesaian masalah. Jalan yang acap ditempuh adalah jalur kekerasan. Ormas yang disebut-sebut presiden SBY sebagai penebar kekerasan adalah Front Pembela Islam (FPI), Front Betawi Rempug (FBR), dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Demikian seperti dikutip oleh Sekjen Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Sonny T. Danaparamita usai bertemu presiden di istana negara kepada wartawan.

Gara-gara tindakan yang selalu main hakim sendiri itu, ketua umum FPI Habib Rizieq kena getahnya. Tahun 2003, ia divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dengan hukuman tujuh bulan penjara. Bukti kuat kesalahan Rizieq adalah adanya surat tertanggal 5 Mei 2000 yang ditandatanganinya selaku ketua umum. Dalam surat itu, tertulis instruksi yang ditujukan pada seluruh anggota FPI untuk melakukan gerakan anti maksiat dengan menutup dan memusnahkan tempat maksiat.

Tapi, nampaknya Rizieq tidak pernah kapok. Begitu keluar, ia meneruskan kebiasaan lamanya itu, hingga kini. Misal, dua tahun silam, Lasykar FPI menyerbu dan merusakkan pintu gerbang depan pekarangan Sekolah Katolik Sang Timur Tangerang Banten. Mereka datang sambil mengacung-acungkan senjata, berteriak-teriak, dan memerintahkan para Suster yang dianggap kafir itu agar menutup sekolah Sang Timur. Baru-baru ini, akhir Mei lalu lasykar FPI Bekasi merusak warung remang-remang di Kampung Kresek Jatisampurna Bekasi. Dengan modal senjata pentungan kayu, mereka mengobrak-abrik sebelas warung. Saat petugas keamanan setempat berusaha menghadang penyerangan itu, mereka malah ditantang.

Nasib sama juga dialami amir Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) Abu Bakar Ba’asyir. Tanggal 3 Maret tahun kemarin, ia dinyatakan bersalah atas konspirasi serangan bom tahun 2002 di Bali, yang memakan korban sedikitnya 202 orang meninggal dan 209 orang cedera. Ia didakwa sebagai pemimpin besar Jama’ah Islamiyah (JI) yang memotivasi sejumlah pemboman di tanah air. Karena itu, ia dijatuhi hukuman dua tahun enam bulan (30 bulan) penjara. Dan baru tanggal 14 Juni lalu, ia dibebaskan.

Jama’ah Islamiyah ini berdiri sekitar Januari 1993, setelah organisasi Negara Islam Indonesia (NII) atau Darul Islam (DI)/Tentara Islam Indonesia (TII) pecah. Tokoh gerakan NII Abdullah Sungkar bersama Ba’asyir pernah melarikan diri ke Malaysia, Februari 1985. Pada saat itulah mereka mulai merintis JI. Menurut pengakuan salah seorang mantan pimpinan JI Nasir Abbas yang juga veteran pejuang Afganistan, Sungkar adalah pemimpin besar JI sebelum Abu Bakar Ba'asyir.

Hingga kini, keberadaan organisasi ini terbilang masih misterius. Orang-orang JI disinyalir punya hubungan dekat dengan kelompok Al-Qaeda pimpinan Osamah bin Laden di Afganistan.

Selain FPI dan MMI, seperti yang disebut-sebut presiden di atas, ada juga Forum betawi Rempug (FBR). Belum lama ini, Pebruari tahun lalu, puluhan orang berseragam FBR mengkroyok pedagang Pasar Senen Jakarta Pusat. Korbannya bernama Waridin, salah seorang pedagang. Insiden ini bermula dari salah paham urusan jual beli. Terus berkembang pada cekcok dan adu fisik. Adu jotos itu terjadi pagi hari antara pedagang dengan tiga anggota FBR.

Dan pada 10 Mei lalu, ratusan massa dari FBR bentrok dengan warga suku Madura. Tepatnya di Jembatan Dempet, perbatasan Kelurahan Sunter Jaya, Jakarta Utara, dengan Sumur Batu, Jakarta Pusat. Tawuran ini dipicu oleh perselisihan sepele terkait perebutan ‘timer’ angkutan umum. Massa Madura yang bersenjata tajam dan kayu balok itu tawur dengan massa FBR yang bersenjata samurai dan balok kayu.

Ada lagi kejadian di bulan Mei. Tanggal 23, mantan presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid diusir oleh ormas Islam yang mengatasnamakan dirinya dari FPI, MMI, FUI (Forum Ulama Islam) dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Saat itu, Gus Dur, panggilan akrabnya, menghadiri acara “Dialog Lintas Agama dan Etnis” di Purwakarta Jawa Tengah. Mereka menolak kehadiran Gus Dur, karena dianggap telah menistakan agama.

***

Atas aksi-aksi kekerasan yang marak itu, Presiden SBY menegaskan, bahwa pemerintah akan menindak tegas ormas yang bersikap anarkis. Di samping itu, pemerintah juga berniat untuk merevisi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan. (13/6).

Ismail Yusanto, juru bicara HTI, merespon keras pernyataan SBY. “Kami akan melawan sekuat tenaga kalau HTI dibubarkan. Kami punya hak untuk berpendapat dan berkumpul sebagai warga negara,” tegasnya kepada media. Pada kesempatan yang berbeda, ketua umum FPI Habib Riziq menyatakan, “Sebelum dibubarkan, sebaiknya pemerintah mengajak dialog terhadap ormas-ormas yang dianggap anarkis.”

Bahkan, Rizieq balik menuduh. Ia justru khawatir dan merasa terancam dengan munculnya kelompok yang disebutnya sebagai ‘komparador Amerika Serikat’ melalui LSM-LSM yang ada di Indonesia. Menurutnya, LSM-LSM itu dibiayai oleh Amerika Serikat dan malah sudah akan dilatih sebagai milisi sipil. “Mereka ini sangat berbahaya karena menjual negara ke asing. Sedangkan ormas-ormas Islam meski radikal tidak akan pernah menjual negara ini,” paparnya.

Ya.. begitulah dilema religiusitas di Indonesia. Hingga artikel ini ditulis, pemerintah Indonesia masih menakar persoalan ini. Belum ada langkah kongkrit yang sudah dijalankan untuk keluar dari soal ini. Semuanya masih dalam proses. Semoga saja perdamaian dan toleransi tersemai (kembali) di bumi merah putih. Amiin.[]

Friday, June 02, 2006

Geger Fatwa Bola

Oleh Abdullah Ubaid Matraji

Jika dibanding panahan dan pacuan kuda, sepak bola tergolong olah raga yang masih berusia muda. Karena itu, banyak ditemukan perbedaan pandangan dari para ahli agama, tergantung dari sudut mana mereka memandang.


Tahun lalu, masyarakat Saudi Arabia geger gara-gara fatwa tak bertuan. Fatwa itu intinya mengharamkan sepak bola, olah raga yang paling diminati dan digilai oleh orang seantero jagad itu. Mengapa kok diharamkan? Sebab, sepak bola adalah olah raga atau permainan orang-orang kafir.

“Man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum”, siapapun yang menyerupai orang-orang kafir maka ia adalah bagian dari mereka. Hadis inilah yang dibuat dasar pelarangan sepak bola. Memang, sebelum mendunia, konon olah raga ini berasal dari negara Inggris. Berarti, sama sekali tidak terkait dengan Islam atau orang-orang Arab dulu kala. Terbukti, dalam kitab-kitab klasik tidak pernah disebutkan jenis olah raga ini. Karena itu, sepak bola dihukumi haram.

Daripada main sepak bola mending berjihad di Irak. Begitu yang tertulis di harian Al-Watan, salah satu media massa di Saudi Arabia, tanggal 22 Agustus 2005. Menurut pengakuan Ja’far ‘Attas, kapten kesebelasan Al-Rasyid yang bermarkas di wilayah al-Taif, fatwa tersebut sangat berpengaruh bagi timnya. Tiga dari sebelas orang dalam timnya langsung mengundurkan diri, yaitu Tamer al-Thamali, Majid al-Sawad, dan Dayf Allah al-Harithi.

Jika dihitung satu persatu, fatwa itu berjumlah 15 poin. Semuanya seakan ingin menegaskan, boleh-boleh saja bermain sepak bola tapi dengan gaya dan nama yang berbeda. Pokoknya tidak boleh meniru atau mencontoh, harus bikin sendiri yang tidak sama. Misalnya, soal jumlah pemain: kurang atau lebih dari sebelas orang, menciptakan istilah-istilah baru dalam pertandingan: tidak boleh menggunakan istilah semacam pinalty, hand, off-side, tapi harus menggunakan istilah sendiri, sampai waktu pertandingan pun juga tidak boleh disamakan 90 menit.

Melihat kegegeran itu, selang beberapa hari mufti Saudi Arabia Syaikh Abd Al-Aziz Ibnu Abdallah angkat bicara. Ia menolak keras fatwa tersebut. Menurutnya, sepak bola boleh saja dilakukan, tidak diharamkan oleh agama. Sebab, ini adalah bagian dari olah raga untuk kesehatan jasmani. “Jadi, tidak ada hubungannya dengan menyerupai atau tidak menyerupai orang kafir,” tegasnya. Makanya, ia mengimbau kepada umat Islam agar tidak terpengaruh fatwa itu.

Bahkan, untuk membuktikan kebenaran fatwa itu, Abd Al-Aziz memanggil pihak-pihak yang terkait. Siapakah sebenarnya orang yang berfatwa itu, apakah dia memenuhi syarat sebagai seorang mufti, orang yang memberi fatwa? Jangan-jangan dia hanya asal-asalan. Betul, itu perlu dipertanyakan, sebab Al-Watan memang tidak menyebutkan siapa yang mengutarakan fatwa itu.

Pendapat senada juga datang dari Syeikh Abdul Al-Muhsin Al-Abikan, penasehat Departemen Kehakiman Saudi Arabia. Baginya, Islam tidak melarang sepak bola. Pertandingan ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Soal istilah-istilah yang tidak berbahasa Arab dalam sepak bola itu tidak perlu dipermasalahkan. Nabi juga sering menggunakan istilah-istilah non-Arab dalam hadist-hadisnya. Allah juga demikian. Allah sering menggunakan kata-kata yang tidak berasal dari bahasa Arab (‘ajam) dalam al-Qur’an. Misalnya, Jibril, Ibrahim, Mikail, dan sebagainya.

Menurut analisis Husein Muhammad, pengasuh pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon, pemicu utama perdebatan ini adalah soal interpretasi atau penafsiran hadis yang dijadikan dasar. Hasil analisis hadis yang berujung pada pelarangan sepak bola adalah bukan semata-mata beda tafsir, tapi orang yang menafsiri memang tidak tahu konteks. Jadi, hukum itu harus disesuaikan dengan ‘illat-nya, sebab atau alasan.

Ia berkisah. Hadis di atas juga pernah di terapkan di Indonesia, saat penjajahan Belanda. Waktu itu, kiai-kiai di Indonesia mengharamkan orang pakai dasi. Mengapa? Karena menyerupai wong londo, orang belanda. Tujuannya agar rakyat Indonesia semakin gigih dan bersemangat melawan Belanda. Tapi di kemudian hari, fatwa itu dicabut, karena illatnya sudah hilang: belanda sudah hengkang.

Nah, jika konteknya adalah jihad maka harus diteliti dulu. Apa benar mending berjihad daripada main bola? Konteks sekarang, jihad melawan orang-orang kafir atau Barat tidak seperti dulu, secara fisik. Penjajahan saat ini adalah penjajahan ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Maka, harus dilawan dengan hal yang sepadan. “Jangan malah melarang mengikuti pertandingan sepak bola, terus kita rame-rame berangkat berjihad di medan perang. Illat-nya jadinya tidak sesuai,” kata kiai yang mengaku kagum dengan pemain kesebelasan Brazil Ronaldinho ini.

“Kalau saya ya mendukung penuh sepak bola,” imbuhnya. Nabi pernah bersabda, “‘allimu auladakum assibah, warramyu, wa al-sibaq”, ajarilah anak-anakmu dengan keterampilan renang, panahan, dan pacuan kuda. Dalam Faidl al-Qadir (limpahan kemampuan) karya Abdul Ra’uf al-Manawi, anjuran ini juga pernah diutarakan oleh Umat bin Khattab. Secara tektual, anjuran itu hanya meliputi tiga macam olah raga. Tapi, kita tidak boleh memahami luarnya saja, teks hadis. Kita harus menggali, apa substansi hadis itu?

Bagi Husein, substansi hadis itu adalah olah raga yang menyehatkan, bukan jenis-jenisnya. Berarti, jika sepak bola adalah olah raga yang bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran, maka tidak ada larangan untuk melakukan itu. Bukankah ajaran Islam juga mengenal prinsip al-aqlu al-salim fi jismi al-salim, tubuh yang sehat itu terdapat dalam jiwa yang sehat?

Argumen Husein itu tidak sepenuhnya disetujui oleh Ahmad Damanhuri, pengasuh pesantren Al-Karimiyah Sawangan Depok. Dalam menyikapi persoalan ini, Damanhuri melihat dari dua segi.

Yang pertama, dari sudut pandang olah raga. Sepak bola adalah aktivitas yang sangat dianjurkan oleh Islam, karena bagian dari olah raga yang dapat menyehatkan, sama seperti panahan, renang, atau pacuan kuda. Segi kedua adalah sudut pandang Syariat, yaitu soal aurat. Berarti, sasarannya adalah kostum yang dikenakan oleh para pemain. Syaratnya: harus menutup aurat. Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syuthan dalam I’anatu al-Thalibin (pertolongan bagi para pelajar) berpendapat, aurat laki-laki—sebagaimana sabda Nabi—adalah ma baina surratih wa rukbatih, area dari pusar sampai lutut.

Jika konsisten dengan syariat, maka kostum yang dikenakan para pemain sepak bola itu jelas-jelas membuka aurat. Celana pendek itu tidak menutupi lutut. Di sinilah letak sisi buruk dari sepak bola. Karena itu, kiai yang menjagokan Argentina di piala dunia 2006 ini mengajak umat Islam untuk mempelopori menggunakan kostum sepak bola sesuai dengan batasan-batasan aurat. “Bagaimana kalau kita mempelopori sepak bola dengan menggunakan kostum yang menutupi lutut,” ajaknya dengan penuh semangat.

Husein Muhammad ganti membantah. Soal aurat adalah ikhtilaf, banyak perbedaan pendapat. Misal, Al-Tabari dalam tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Qur’an (kumpulan keterangan dalam tafsiran ayat al-Qur’an) mengemukakan: ada lima pendapat tentang batasan aurat laki-laki, satu sama lain berbeda. Kok bisa begitu? “Iya, karena batasan aurat itu harus diukur dari kaca mata kesopanan, kepatutan, dan konteks budaya. Jadi tidak bisa digeneralisir begitu,” ujarnya. []

Syir'ah, Edisi 54, Juni 2006.

Kiai-kiai Gila Bola

Oleh Abdullah Ubaid Matraji

Kalau santri suka bola itu kan uda biasa, tak jarang mereka sampai dihukum gara-gara ulahnya itu. Tapi bagaimana jika kiai yang nonton bola, siapa yang berani menghukum hayo...? Ikuti juga prediksi piala dunia 2006 versi kiai-kiai gibol.



Waktu telah menunjukkan pukul 03.00 WITA dini hari. Suasana rumah di sepanjang jalan Tuan Guru Ibrahim al-Khalidi Pelulan Kuritan Utara kecamatan Kuritan kabupaten Lombok Barat Nusa Tenggara Barat itu nampak sunyi senyap. Hanya suara hening malam yang terdengar.

Tapi… ada suara samar-samar lirih dari rumah di sekitar komplek pesantren Al-Madani. Aneh, ada suara tapi tak satu pun terdengar orang bercakap-cakap di rumah pengasuh pesanten yang berdiri sejak tahun 2001 itu.

Tiba-tiba, “Aaaaa....aaa..ah!!!,” pekik suara itu memecah hening dan mengagetkan seisi rumah. Seketika rumah itu menjadi gemuruh. Para penghuninya spontan terjaga dari tidur. Karena kaget, mereka berhamburan keluar kamar. “Ada apa ada apa?” tanya mereka satu sama lain. Mereka berjalan menuju ruang tengah. Dan… begitu melihat ada TV menyala di tempat itu mereka baru sadar, ternyata suara itu adalah jerit histeris Buya Subki saat nonton pertandingan sepak bola. “Oh... bola..,” gumamnya secara berbarengan. Pertandingan waktu itu antara Brazil versus Paraguay, saat seleksi 32 negara untuk masuk ke piala dunia 2006.

Buya Subki adalah panggilan akrab Subki Sasaki. Kiai yang lahir 30 tahun silam ini pendiri sekaligus pengasuh pesantren Al-Madani. Ia gemar dengan olah raga ini sejak SD, saat masih nyantri di pesantren Al-Islahuddini Kediri Mataram Lombok.

Karena sudah menjadi hobi, dulu saat di pesantren Buya Subki sengaja mengatur jadwal khusus untuk main bola. Pagi sampai siang digunakan untuk belajar. Sedang sore hari sekitar jam 17.00 ia manfaatkan untuk main sepak bola. Tempat yang biasa digunakan main bola adalah lapangan dekat sungai. Kurang lebih dari pondok jaraknya 200 meter, dan panjang lapangan 80 meter. Selain sore hari, Buya Subki juga memanfaatkan hari libur Jum’at.

Gara-gara main bola, pria yang kini juga menjadi penasehat Komite Rakyat Anti Kekerasan di Lombok ini mengaku sering ketinggalan khotbah saat shalat Jum’at. Biasanya, pertandingan tak kan berhenti jika belum terdengar iqamat khutbah kedua dari corong masjid dekat lapangan.“Pas khutbah saya dan teman-teman masih asyik main bola, ketika iqamat langsung lari terbirit-terbirit menuju masjid,” kenangnya saat dihubungi Syir’ah via telpon.

Hingga kini, Buya Subki masih tidak mau ketinggalan dengan perkembangan mutakhir sepakbola dunia. Bedanya, kalau dulu ia bisa nonton dan main, sekarang tinggal nonton di TV saja. Jika siarannya dini hari, Buya Subki biasanya tidur dulu, kemudian bangun dan shalat tahajud plus witir, baru nonton bola.

Saat nonton bola, ia memang mempunyai kebiasaan teriak-teriak. Apalagi saat tim kesayangannya berhasil menjebol pertahanan lawan. Karena itu, ia lebih gemar nonton bola di rumahnya sendiri, biar tidak mengganggu orang lain. Ia juga lebih suka nonton bareng dengan orang banyak daripada sendirian. Kalau sendirian tidak asyik. “Kalau banyak orang kan kita bisa saling diskusi, berkomentar, dan dukung-mendukung,” tandas pengasuh pondok yang juga koordinator kajian budaya dan Islam di Pembayun dan Pengemban Adat Sasak (Pembasak) ini.

Kalau Buya Sasaki kini hanya bisa menjadi penikmat bola alias jadi penonton, maka berbeda dengan KH. Agoes Ali Masyhuri, pengasuh pesantren Bumi Shalawat Tulangan Sidoarjo Jawa Timur. Ia tidak hanya nonton, tapi ia juga masih sering merumput, bahkan menjadi pelatih.

Kiai yang nge-fans dengan Chelsea di liga Inggris itu punya stadion khusus sepakbola yang letaknya tidak jauh dari lokasi pesantrten, sekitar 200 meter. Di tempat itulah Gus Ali, sapaan akrabnya, kerap merumput dengan club-club Liga Sepakbola Utama (Galatama) Indonesia yang sedang uji coba. Bahkan ia juga mengajari teknik-teknik permaianan bola dan berstategi melawan tim lawan.

Di pesantren yang dipimpinnya itu, Gus Ali juga mempunyai tim kesebelasan. Namanya Persatuan Sepakbola Bumi Shalawat. Dari pembinaan intensif yang dikelola oleh pihak pesantren banyak pemain-pemain handal lahir dari sini. Santri-santri hasil besutan Gus Ali itu banyak yang bergabung di Persebaya Surabaya.

Antara lain, Uston Nawawi gelandang serang, Mursyid Effendi gelandang bertahan, Mat Chalil bek sayap, dan Bejo Sugiantoro bek tengah. “Mereka itu semuanya pernah ngaji di Pesantren Bumi Solawat ini,” ujarnya dengan berapi-api. Selain tim kesebelasan, pesantren ini juga punya tim Bulu Tangkis, namanya Persatuan Bulu Tangkis Bumi Shalawat.

ِِِKiai yang pernah mengenyam pendidikan di IAIN Sunan Ampel Surabaya ini punya keunikan saat nonton bola. Ghalibnya, orang kalau nonton bola itu ditemani kopi, rokok, kacang, atau jajan cemilan yang lain. Tidak bagi Gus Ali. Untuk mengusir rasa ngantuk ia terbiasa dengan membaca buku-buku ringan sembari nonton bola.

Sama halnya dengan Buya Subki, Gus Ali juga shalat tahajjud dulu sebelum nonton bola. Sungguh tradisi unik yang jarang ditemukan di luar kalangan pesantren.

Pesantren Bumi Shalawat berdiri tahun 1976, diririkan langsung oleh KH. Agoes Ali Masyhuri. Namun, kiprah pesantren ini baru bisa dirasakan oleh masyarakat luas sejak tahun 1981.

Gus Ali sengaja menerapkan konsep dakwah dan pendidikan tidak hanya dengan membaca kitab di majlis-majlis taklim atau ceramah agama. Ia menyadari dan memahami, ada orang-orang yang harus disentuh secara persuasif di luar ruang-ruang itu. “Salah satu tempat dakwah yang juga harus disentuh ya lapangan sepakbola,” tegasnya.

Soal cara berdakwah kepada masyarakat pecinta bola ini memang beragam fariasi. Salah satu pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Tegal Rejo Magelang Jateng KH. Muhammad Yusuf Chudlori punya cara lain.

Di pesantrennya, Gus Yus, sapaan sehari-hari, punya studio radio. Namanya Fast Fm. Lokasi studio radio yang mengudara di frekuensi 96.4 MHz ini sekitar 100 meter dari kompleks pondok. Hampir tiap even perhelatan sepak bola, radio ini mengadakan program acara “Nonbar” nonton bareng masyarakat. Acara yang baru saja selesai digelar adalah Nonbar final piala Champion: Barselona vs Arsenal. Begitu juga dengan even piala dunia 2006 nanti. “Kalau berminat silahkan datang saja ke mari,” ajak kiai yang juga pimpinan radio itu.

Tahun 2002, Gus Yus membuat kafe piala dunia di studio itu. Dalam sekejap, studio yang bermotto smart, care, and religious itu disulap menjadi kafe non-alkohol alakadarnya. Lantai pertama dijadikan kafe, dan lantai dua ditempati oleh pengelola radio. Pada even-even tertentu, kiai yang juga ketua tanfidziyah DPC PKB kabupaten Magelang itu juga terkadang mengadakan acara nonton bola di layar lebar.

Di tempat tersebut, masyarakat tidak hanya sekedar disuguhi tontonan. Tapi ada pernak-pernik acara. Misalnya, kuis, musik dari pengamen jalanan, dan ada pula pakar-pakar sepak bola lokal yang sengaja diundang sebagai komentator. Tak heran, apa yang dilakoni Gus Yus sekarang ini adalah bagian dari penyaluran hobi nonton sepak bola, plus dakwah.

Cintanya kepada sepakbola ini terbentuk sejak kecil dimulai dari lingkungan keluarga. Dulu kiai Khudlori (alm.), bapaknya yang juga pendiri dan pengasuh pertama API, juga suka bola. “Mengajak masyarakat kepada kebaikan ya harus dengan bahasa yang dimengerti mereka. Jika mereka suka bola ya kita suguhi bola,” ujarnya.

Sejak tahun 2001, kiai muda yang baru berusia 32 tahun itu diberikan kepercayaan masyarakat untuk mengelola klub sepakbola di kampungnya, namanya Persatuan Sepakbola Tegal Rejo. Klub ini berdiri tahun 1963, dan pernah menggondol juara satu pertandingan se-jawa tengah yang diadakan PSSI jawa tengah, tahun 1999.

Di daerah Sulawesi Selatan, ada kiai gila bola yang tak kalah menariknya. Tepatnya di daerah Benteng Baranti kabupaten Sidrap. Ia adalah Imran Muin Yusuf, pengasuh pesantren Al-Urwatul Wutsqa. Di daerahnya ia akrab disapa dengan ‘tuan guru’, yang maksudnya kurang lebih sama dengan ‘kiai’ kalau di daerah jawa.

Sejak umur 17 tahun, tuan guru Imran sudah tertarik dengan olah raga ini. Saat itu dunia padang rumput sedang dirajai oleh Belanda, dengan trio pemainnya: Marco Van Basten penyerang, Ruud Gullit gelandang serang, dan Frank Rijkard gelandang bertahan.

Yang bikin berbeda dengan kiai-kiai yang lain adalah kebiasaan tuan guru Imran. Jika yang lain hanya menikmati bola di lapangan atau lewat televisi, tidak hanya itu bagi tuan guru Imran. Ia juga dapat menyalurkan hobi sepakbolanya itu via internet.

Ia menyadari bahwa jangkauan siaran televisi sangat terbatas. Yang sering ditampilkan hanya pertempuran liga-liga yang sudah kondang, seperti Liga Inggris, Itali, dan Spanyol. Bagaimana dengan liga yang digelar oleh negara-negara Islam, maksudnya negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam? Tak mungkin jika hanya mengandalkan televisi.

Jalan satu-satunya yang mudah ditempuh untuk memuaskan hobinya itu adalah internet. “Untuk mengikuti perkembangan gelegar sepakbola di negara-negara Islam biasanya saya buka situs-situs koran Arab,” tukasnya. Situs-situs yang biasa dikunjungi oleh pengasuh pesantren yang berdiri sejak 1 april 1974 itu antara lain, www.ahram.org.eg, www.alhayat.com, dan www.arabo.com.

Dalam situs ahram dan alhayat ada banyak menu yang disajikan, tinggal klik menu al-riyadhah kita bisa berselancar sepuasnya menikmati berbagai perkembagan semua jenis olah raga di negara-negara Islam. Sementara situs arabo cara penyajian beritanya agak berbeda. Sebelum meng-klik menu al-riyadhah, kita harus memilih negara mana yang akan kita kunjungi. Terdapat sekitar 22 negara, antara lain: Saudi Arabia, Tunisia, Maroko, Mesir, dan Algeria. Semua berita di situs-situs itu menyajikan dua pilihan bahasa: Arab dan Inggris.

Di ajang piala dunia 2006, pengasuh generasi kedua pesantren Al-Urwatul Wutsqa yang juga penggemar Rud Van Nistelrooy striker Mancester United, menjagokan Belanda sebagai Sang Juara. “Meski belum pernah menggondol juara, saya percaya Belanda akan menang dengan total football-nya,” terangnya.

Total football adalah strategi sepakbola modern yang ditelurkan Rinus Michels, mantan pemain sekaligus timnas Belanda. Konsep dan strategi permain ini kali pertama diperkenalkan saat Piala Dunia 1974 di Jerman. Konsep stategi ini intinya: ‘menyerang merupakan pertahanan terbaik’.

Jelas, dengan empat belas kali masuk babak utama putaran final piala dunia, serta tujuh kali menjadi finalis, tim Oranye Belanda pantas diunggulkan sebagai salah satu tim yang diperhitungkan bisa menjadi batu sandungan bagi tim favorit juara di putaran final Piala Dunia 2006 Jerman.

Tidaklah demikian bagi Buya Subki. Kiai yang menjagokan Brazil ini punya pengamatan lain. Ia mantab bahwa Brazil akan juara lagi di tahun ini. Sebab Brazil masih dipenuhi oleh pemain-pemian bintang yang diakui dunia, seperti Roberto Carlos bek sayap, Ronaldinho gelandang serang, dan Ronaldo striker andalan.

Menurut analisanya, saat final nanti, Brazil tak bakal ketemu dengan Belanda, karena tim Oranye ini bakal keok di semi final. Brazil justru akan berebut juara dengan Argentina. Mengapa demikian? Nampaknya Buya Subki agak ketar-ketir dengan para menain Argentina. “Pemain-pemainnya berkualitas dan regenerasinya juga bagus,” ungkapnya.

Tahun 1994 Argentina melahirkan Gabriel Omar Batistuta, 1998 melahirkan Sbastian Veron, 2002 melahirkan Javier Saviola, dan tahun ini Argentina akan melahirkan Leonal Messi, striker muda yang baru saja membawa Barcelona menjadi juara piala Champion di Eropa mengalahkan Arsenal, dengan skor 2-1. Maka, wajar saja jika Buya Subki menghawatirkan Argentina, negara yang dijagokan oleh Gus Yus sebagai Sang Juara. Gus Yus memilih argentina karena ia tak meragukan kemampuan Leonal Messi dan Hernan Crespo dalam mencetak gol-gol kemenangan.

Lalu bagaimana dengan Gus Ali, ia dukung negara mana? Ketika ditanya soal itu Gus Ali berkelit. Di mata kiai yang lihai berdakwah dengan lisan dan tulisan ini, Sepakbola bukanlah soal dukung mendukung atau siapa yang menang dan siapa yang salah. Tapi, dalam sepakbola itu ada teknik, skill, speed, menajemen, dan juga ada seninya. “Saya ini kan pengamat bola, jadi harus obyektif serta tidak boleh memihak,” jelasnya dengan nada agak melengking. []


Syir'ah, Edisi 54, Juni 2006.

Sufi yang Jago Mengkritik Pemerintah

Banyak anggapan, sufi adalah orang yang selalu sujud beribadah dan mengasingkan diri di tampat sunyi. Tidak sepenuhnya benar. Tokoh sufi terkenal Hasan al-Bashri justru meneriakkan keadilan dan menentang kedzaliman penguasa layaknya para aktivis berdiplomasi dan berkoar-koar di jalanan.


Oleh Abdullah Ubaid Matraji

Suatu ketika di tahun 21 H/642 M, istri Rasulullah saw. Ummu Salamah menerima kabar, pembantunya yang bernama Khairoh baru saja melahirkan seorang putra. Raut yang berbunga-bunga begitu nampak di wajahnya. Seketika, Ummu Salamah mengutus seseorang untuk memanggil Khairoh agar membawa anak yang baru lahir itu ke rumahnya.

Tak lama, Khairoh dan putranya pun tiba. Dengan penuh penasaran dan perasaan yang berbunga-bunga, istri Nabi yang dikenal jago membaca dan menulis sejak zaman jahiliyah itu segera menatap wajah bayi yang masih merah merona di dekapan ibunya itu.

Lalu, Ummu Salamah ganti mengarahkan pandangannya ke Khairoh dan bertanya:
“Apakah kamu telah memberi nama putramu yang mungil ini, ya Khairoh?”
“Belum bunda. Kami serahkan bayi ini kepada bunda untuk menamainya,” jawab Khairoh.
Mendengar jawaban ini, wajah Ummu Salamah nampak berseri-seri, seraya berujar: “Sembari mengharap berkah Allah, bayi ini kita beri nama Al-Hasan.”
Maka, istri Nabi mengangkat kedua tangannya dan berdoa memohon kebaikan dari penyematan nama itu.

Bayi itu adalah Hasan al-Bashri, nama lengkapnya: Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Abu Sa’id. Dikenal sebagai tokoh sufi terkemuka pada masa tabi’in, generasi setelah Sahabat. Lahir di Madinah dari pasangan Khairoh dan Zaid bin Tsabit, sahabat Nabi Muhammad yang bertugas mencatat wahyu.

Sejak kecil, pendidikannya terjamin. Ia dididik secara langsung oleh salah satu istri Rasulullah, Hindun binti Abi Umayyah bin al-Mughirah atau biasa disebut dengan nama Ummu Salamah. Istri nabi yang satu ini dikenal sebagai seorang wanita cerdik dan bijaksana. Dalam Musnad Ibn Hanbal saja, ia meriwayatkan 378 hadis. Ini belum termasuk hadis-hadis yang diriwayatkannya dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Ummu Salamah mengasuh anak pembantunya itu cukup lama, kurang lebih 14 tahun. Hasan banyak menghabiskan masa kecilnya dengan berguru kepada pembesar-pembesar sahabat Nabi di masjid Nabawi Madinah. Antara lain: Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy'ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, dan Jabir bin Abdullah.

Setelah itu, bersama orang tuanya ia pindah ke kota Basrah Irak dan menetap di sana. Menurut beberapa riwayat, kata al-Bashri dibelakang namanya disinyalir memang dinisbatkan pada kota Bashrah. Di kota ini ia masih saja haus dengan ilmu. Ia kerap mengikuti halaqah atau pengajian yang digelar oleh para sahabat. Salah satu guru yang paling mempengaruhinya adalah Ibnu Abbas. Dari sahabat Nabi yang dilahirkan tiga tahun sebelum Nabi hijrah ini, Hasan banyak mereguk berbagai khazanah ilmu: tafsir, hadist, qiro’at, fiqih, bahasa, sastra dan lain-lain.

Etos belajar yang tinggi dan semangat yang menggebu-gebu dalam mereguk ilmu adalah tradisi yang tertanam dalam diri Hasan sejak kecil. Tradisi yang ditanam sejak lama itu akhirnya berbuah juga. Atas ketekunan dan kedalaman ilmunya itu, ia mulai dikenal oleh publik. Ini diakui sendiri oleh Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah.

Saat Ali berkunjung ke Bashrah, ia mendapati Hasan sedang berbicara di hadapan umum. Sahabat Nabi yang dijuluki babu al-ilmi, pintunya ilmu, ini mendekat dan berkata:
“Hai anak muda, saya hendak bertanya kepadamu tentang dua perkara. Jika engkau mampu menjawabnya, silahkan engkau meneruskan pembicaraanmu itu.”
“Silahkan bertanya ya amir al-mukminin tentang dua perkara itu,” ujar Hasan dengan penuh hormat sembari mendekati Ali.
“Coba jelaskan apa yang dapat menyelamatkan agama dan apa pula yang dapat merusaknya,” tanyanya.
“Yang menyelamatkan agama adalah wara’ dan yang merusak agama adalah tama’,” papar anak muda itu. Wara’ adalah sikap menjaga diri dan berhati-hati dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Sedang tama’ adalah rakus, yaitu sikap gemar terhadap dunia dan semua lini kehidupan diukur berdasarkan materi atau harta.
Mendengar jawaban itu, Ali tampak sumringah dan berkata: “Penjelasanmu benar dan silahkan malanjutkan pembicaraanmu. Orang macam kamu memang layak berbicara di depan umum.”

Sejak itu, Hasan al-Bashri semakin kondang dan juga dikenal masyarakat sebagai sosok yang tegas dan pemberani. Tegas dalam pendirian dan sikap, berani dalam menegakkan kebenaran. Maka, tak jarang para pejabat masa itu terkena tamparan kritik-kritik pedas. Salah satunya adalah khalifah Harun al-Rasyid.

Konon, menjelang hari pelantikan Harun al-Rasyid menjadi khalifah, semua kerabat, jawatan, dan teman-temannya diundang untuk ikut merayakan pelantikan khalifah dinasti Abbasyiah yang baru itu. Mereka dijamu dengan hidangan yang serba nikmat, lezat, dan serba wah.

Acara pelantikan sebentar lagi dimulai, sementara para menteri masih sibuk mengecek para undangan.
“Apakah masih ada undangan yang belum hadir?” tanya Harun.
“Ada tuan,” jawab menteri.
“Siapakah itu?”
“Hasan al-Bashri tuan...”
“Kalau begitu saya akan menulis surat dan tolong sampaikan langsung kepadanya,” titah Harun.

Menteri itu seketika bertandang untuk menyampikan surat kepada Hasan al-Bashri. Dan ternyata, Hasan sedang sibuk mengajar murid-muridnya di madrasah. Begitu tahu yang datang adalah menteri utusan khalifah, Hasan kian asyik mengajar, seakan tidak tahu kalau ada menteri datang. Menteri itu mengucap salam berkali-kali tapi Hasan tetap tidak menghiraukan. Lalu, salah satu muridnya memberi tahu kalau ada tamu.
“Salam,” jawabnya singkat dengan nada tinggi. “Untuk apa kau ke mari?” imbuhnya dengan ketus.
“Saya membawa surat dari khalifah untuk tuan,” jawab menteri.

Surat itu kemudian dibacakan oleh muridnya. Inti surat itu adalah khalifah sangat mengharap kehadiran Hasan al-Bashri di hajatan yang digelarnya itu. Hasan menampik dengan tegas, dan membalas surat kepada khalifah. Berikut ini penggalan isi suratnya.

Harun,
Apakah kau sangka dengan menjamuku dengan hidangan yang serba enak dan lazat, serta kau anugerahkan kepadaku hadiah yang mahal, kau mampu membujukku agar aku menjadi penyokong perbuatan mungkarmu?

Tahukah kamu, uang yang digunakan untuk merayakan acaramu adalah bersumber dari Baitul Mal, kas negara untuk kesejahteraan rakyat. Berarti, kau telah menggunakannya untuk kepentingan dirimu sendiri. Kau telah mencampakkan hak-hak rakyatmu yang fakir miskin, anak yatim, janda, dan sebagainya. ...

Belum genap sehari kau menjadi khalifah, sudah banyak dosa yang telah kau lakukan. Amanah rakyat telah kau khianati. Apalagi jika kian lama kau memerintah, maka semakin banyaklah dosa dan kemungkaran yang bakal kau lakukan. ...

“Ambillah surat ini lalu sampaikan kepada Tuan mu,” pinta Hasan.

Begitu surat itu sampai di tangan khalifah, khalifah pun langsung membuka dan membacanya. Kata demi kata dan baris demi baris surat itu diresapi oleh khalifah. Dan... kata-kata dalam surat itu telah menyebabkan Harun al-Rasyid menangis tersedu-sedu. Sebuah tangis keinsafan dan pertobatan.

Selepas peristiwa itu, Harun al-Rasyid selalu meletakkan surat itu di sebelahnya kala sembahyang. Ia menjadikan surat itu sebagai peringatan kepada dirinya agar tidak tergelincir dalam kedzaliman dan ketidakadilan. Maka tak heran, Harun al-Rasyid merupakan salah seorang khalifah Abbasiyah yang yang dikenali wara’, arif, dan bijaksana.

Kritik Hasan al-Basri juga pernah menimpa al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, salah satu gubernur di Irak. Sudah menjadi rahasia umum waktu itu, Al-Hajjaj adalah sosok pemimpin yang kejam, otoriter, dan suka memeras rakyat.

Suatu hari, al-Hajjaj sedang membangun istana megah di pinggiran kota Basrah untuk kepentingan pribadinya. Begitu proyek pembangunan selesai, al-Hajjaj mengajak rakyat berkumpul untuk bersenang-senang bersamanya.

Di sela-sela orang banyak yang sedang berkumpul itu, Hasan berdiri di depan khalayak dan berorasi dengan lantang. “Kita telah melihat apa yang dibangun oleh manusia paling keji ini. Ia tak ubahnya Fir’aun yang telah membangun bangunan yang besar dan tinggi, kemudian Allah membinasakannya, akibat kedzaliman dan kecongkakan yang telah diperbuat.”

Mendengar ucapan itu, al-Hajjaj berang. Hasan seketika dipanggil al-Hajjaj untuk dieksekusi mati karena telah menghina gubernur. Lalu, datanglah Hasan dengan tenang dan penuh percaya diri. Seluruh pandangan mata tertuju padanya. Dan jantung orang-orang pun berdenyut kencang dag.. dig.. dug..

Melihat ketegasan dan sikap jentelmen yang ditampilkan Hasan, seketika al-Hajjaj menjadi gentar dan berubah pikiran. “Kemarilah wahai Hasan! Kemarilah!” pintanya. Begitu Hasan duduk, al-Hajjaj menoleh ke arahnya, dan mengurungkan niat buruknya itu. Bahkan, al-Hajjaj malah berkonsultasi tentang berbagai permasalahan agama kepadanya. Dan akhirnya al-Hajjaj insaf.

Begitulah sepak terjang yang dilakoni Hasan al-Bashri. Baginya, sufi yang wara’ dan zuhud bukan berarti masa bodoh dengan dunia, tapi harus peka terhadap realitas sosial di sekelilingnya. Membela yang tertindas dan melawan tirani yang dzalim. Di usia 80 tahun ia memenuhi panggilan Tuhannya. Tepatnya di Basrah Irak, pada Hari Jum’at awal Rajab tahun 110 H/728 M. []

Syir'ah, Edisi 54, Juni 2006.

26 Juni 1936, Orientalis Belanda Tutup Usia

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Orientalis yang satu ini memang bikin ‘gemes’ umat Islam di Indonesia, khususnya rakyat Aceh. Entah karena kagum atau saking bencinya.

Ia adalah sosok yang cerdas. Hanya dalam waktu yang relatif singkat, ia mampu mengkaji sisi-sisi kehidupan masyarakat Aceh secara menyeluruh: mulai tradisi keagamaan, adat istiadat, sampai pemikiran politik. Hasil penelitian ini kemudian digunakan Belanda sebagai senjata ampuh untuk menundukkan Aceh, tahun 1905.

Tak lain, ia adalah Abdul Ghaffar alias Snouck Hurgronje. Ia lahir pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Ia juga dikenal sebagai salah satu pencetus sekaligus konseptor ‘politik etis’, politik balas budi, yang diterapkan bangsa Belanda untuk pribumi.

Selepas tamat dengan predikat cum laude dari jurusan ilmu teologi dan sastra Arab Universitas Leiden Belanda, ia melanjutnya studinya ke Mekkah, tahun 1884. Di sini, ia memperdalam Islam dari para ulama setempat. Tak lama kemudian, ia pun pindah agama, dari Kristen ke Islam. Berbarengan dengan itu, nama aslinya, Christian Snouck Hurgronje, diubah menjadi Abdul Ghaffar (hamba yang gemar memaafkan).

Orientalis yang cerdik nan licik ini pertama menginjakkan kakinya di Indonesia saat era pemerintahan Hindia-Belanda, tahun1889. Tepatnya selepas ia merampungkan studinya di tanah suci Mekkah. Dan selang setahun setelah Aceh dikuasai Belanda, ia kembali ke Leiden hingga tutup usia, 26 Juni 1936.

Bagi Belanda, ia adalah pahlawan yang patut dibanggakan. Ia berhasil membongkar jaringan sekaligus memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Ini sangat membantu Belanda sebagai upaya melumpuhkan Aceh.

Sementara bagi kaum orientalis, dia adalah sarjana yang hebat. Ia berhasil memahami Islam tidak hanya dari teks-teks buku dan tumpukan dokumen, tapi juga lihai dalam menggali informasi dan berinteraksi dengan masyarakat.

Tapi, bagi rakyat Aceh, ia tak ubahnya musuh dalam selimut. Ia menyelinap dan menyatu dengan rakyat Aceh, lalu membeberkan seluruh seluk-beluk yang terkait dengan Aceh kepada kolonial Belanda.

Terlepas dari itu, kita dapat belajar dari prilaku politik Hurgronje. Untuk menghancurkan lawan kita tidak harus mengumbar amarah, anti pati, bahkan permusuhan, tapi bisa juga dengan menjadikan dia sebagai sahabat atau partner. Inilah yang dinamakan strategi menikam dari belakang. (AUM/WP).

Syir'ah, Edisi 54, Juni 2006.

Gara-gara Buruh, Pengusaha Lolos dari Maut

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Penghargaan terhadap buruh di Indonesia patut dipertanyakan. Entah mengapa kok bisa begini. Padahal, agama jelas-jelas mengajarkan kita untuk memenuhi hak-hak buruh.

Mari kita simak cerita kuno pra-Islam yang pernah dikisahkan Nabi, sebagaimana dilansir oleh Imam Bukhari.

Alkisah, ada tiga orang yang sedang berkelana. Sebut saja, Umar, Zaid, dan Ahmad (bukan nama asli). Di tengah-tengah perjalanan, mereka mampir ke goa untuk sekedar melepas lelah.

Namun, tiba-tiba terdengar gemuruh dari atas. Semakin lama semakin mendekat dan mengeras suara itu. Dan.... gludeg.. gludeg.. gludeg.. drep.. drep!! Seketika goa menjadi gelap. Ternyata.. mulut goa yang satu-satunya itu tertutup oleh batu besar yang menggelinding dari atas gunung.

Mereka berunding dan memutar otak, bagaimana caranya agar batu itu bisa disingkirkan.Entah dapat wangsit dari mana, akhirnya mereka sepakat untuk berdoa mengharap pertolongan Allah, dengan mengandalkan amal “terbaik” yang pernah dilakoni.

Kali pertama, Umar berdoa. Ya Allah, saya punya ibu dan bapak yang sudah tua renta. Suatu ketika, saya bermaksud membawakan susu dalam gelas untuk makan malam. Eh... ternyata mereka sudah terlelap tidur. Karena saya tidak berani membangunkan, saya terus memegangi gelas itu sepanjang malam sampai fajar tiba. Begitu mereka bangun, baru saya mempersilahkan minum.

“Ya Allah. Jika perbuatan saya itu engkau terima di sisi-Mu, maka bukakanlah pintu goa yang tertutup ini,” panjatnya. Lalu, batu itu hanya bergeser sedikit.

Karena belum berhasil, giliran Zaid berdoa. Ya Allah, saya pernah hampir berzina dengan sepupuku. Saya menjanjikan uang 120 dinar untuknya. Untung, saya teringat Engkau. Saya langsung meninggalkan wanita itu, dan saya tetap memberi uang yang telah saya janjikan.

Lalu Zaid memohon, “Ya Allah, jika perbuatan saya itu engkau terima di sisi-Mu, maka bukakanlah pintu goa yang tertutup ini.” Tak lama kemudian, batu itu bergeser sedikit. Tapi, mereka pun masih belum bisa keluar.

Nah, kini giliran terakhir, Ahmad. Ya Allah, saya ini seorang pengusaha yang punya banyak buruh (karyawan). Semuanya saya kasih gaji. Tapi, ada satu buruh yang belum saya gaji, karena dia keburu pergi. Maka, uang gajinya saya belikan hewan ternak.

Nah, selang beberapa masa, dia datang.
“Boss.. mana gaji saya?” tanyanya.
“Semua hewan ternak yang kamu lihat ini adalah gajimu,” jawab Ahmad.
“Hah... jangan menghina saya gitu dong.”
“Sungguh saya tidak menghina kamu,” Ahmad kembali menegaskan.

Setelah itu, buruh tadi memboyong hewan-hewan tersebut, tanpa sisa satu pun.

“Ya Allah. Jika perbuatan saya itu engkau terima, maka bukakanlah pintu goa yang tertutup itu,” begitu Ahmad menutup doanya.

Tak diduga, batu itu bergeser dan pintu goa kembali terbuka. Mereka pun akhirnya berhamburan keluar. []

Syir'ah, Edisi 54, Juni 2006.

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger by Pemuda - Premium Blogger Themes