Thursday, July 13, 2006

Menembus Sekat-sekat Islam dan Hindu

Dunia sufi adalah dunia keseimbangan. Spiritualisme dan intelektualisme merupakan perantara ampuh untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dara Sikhoh telah membuktikan itu.


Oleh Abdullah Ubaid Matraji

“Siapakah nanti yang akan menggantikan singgasanaku ini?” pikir Shah Jehan suatu ketika. Ia adalah raja kesohor penguasa kerajaan Mughal di India. Hingga kini, peninggalannya menjadi salah satu keajaiban dunia, Taj Mahal. Wajar jika ia berpikiran demikian, ia memang belum dikaruniai anak dari istri tercinta Mumtaz Mahal.

Karena itu, ia berkeinginan dikaruniai Allah seorang putra sebagai penerus kerajaan. Hasrat yang menggebu-gebu itu mendorongnya untuk aktif berziarah serta berdoa, bertawasul mencari berkah, ke makam seorang sufi besar Hazrat Moinuddin Christi di Ajmer India.

Usaha keras itu akhirnya berbuntut sukses. Tahun 1615 M ia dikarunia seorang putra. Hari itu adalah hari yang paling bahagia dalam hidup Sheh Jehan. Ia sengaja membagi kebahagiaan itu kepada pegawai kerajaan dan rakyat-rakyatnya. Di Delhi ibu kota kerajaan, raja secara spesial menggelar acara perayaan atau tasyakuran akbar untuk menyambut kelahiran putranya.

Sang pangeran itu adalah Dara Shikoh. Nama ini berasal dari bahasa Persia Dârâ Syikûh, artinya penguasa kemuliaan. Sejak kecil, ia dikenal sebagai putra raja yang alim. Cocok dengan namanya. Ia pun belajar agama dari tokoh-tokoh agama yang tersohor di negara itu. Pelajaran yang ditekuni adalah al-Quran, sastra Persia, dan sejarah. Dari sekian guru-gurunya, yang paling berpengaruh yaitu Mullah Abdul Latif Saharanpuri. Dialah yang mengantarkan Dara berkenalan dengan khazanah sufisme dalam tradisi agama-agama.

Bagi Dara, Abdul Latif adalah guru yang membetot kesadaran dan memompa adrenalinnya untuk terus belajar dan bersemangat dalam mengarungi samudra ilmu pengetahuan. Hingga akhirnya ia jatuh cinta dan menaruh perhatian pada kajian-kajian sufistik, bahkan banyak berhubungan secara langsung dengan pakar-pakar ilmu tasawuf dari agama Islam dan Hindu.

Antara lain: Shah Muhibullah, Shah Dilruba, Shah Muhammad Lisanullah Rostaki, Baba Lal Das Bairaqi, dan Jagannath Mishra. Diantara tokoh-tokoh ini, yang paling digandrunginya adalah Hazrat Miyan Mir, seorang sufi Qadiriyah dari Lahore India. Tokoh ini dikenal sebagai pembangun pondasi The Golden Temple atau Kuil Emas di Amritsar Punjab India.

Kuil ini adalah kuil terbesar milik kaum Sikh di India. Kaum Sikh adalah kaum yang menganut agama Sikh, agama yang muncul sekitar lima abad lalu. Berbeda dengan agama Hindu, Sikh tidak mempercayai banyak dewa, melainkan hanya satu Tuhan yang ucapan-ucapan-Nya disampaikan oleh orang suci yang disebut sebagai Guru.

Bersentuhan dengan Miyan Mir, membuat Dara kian ketagihan dengan ilmu tasawuf. Ia pun kemudian bergabung dengan kelompok sufi tarekat Qadiriyah. Tarekat ini dikembangkan, bahkan ada yang berpendapat didirikan, oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani (w. 1166 M). Komunitas ini adalah kawah candradimuka atau tempat pergulatan intelektual Dara Shikoh. Ia tumbuh dan berkembang menjadi sosok sufi yang tidak hanya terlena dengan keagungan Tuhan, ia menjadi pemikir yang haus ilmu pengetahuan.

Sufi yang Produktif
Menginjak usia 25 tahun, Dara meluncurkan buku Safînah al-Auliyâ, perahu para wali. Dalam buku perdananya itu, ia menekankan pentingnya ‘petunjuk’ dalam lelakon ajaran-ajaran sufi.

Ia meyakini, seseorang itu dapat memperoleh pengetahuan tasawuf hanya lewat bimbingan guru spiritual. “Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya tanpa pembimbing. Karenanya, setelah Nabi, tidak ada lagi orang yang dekat dengan Tuhan kecuali para wali.”

Buku kedua karyanya adalah Sakînah al-Auliyâ, ketentraman para wali. Di sini ia banyak berbicara seputar kelompok tarekat Qadiriyah di India. “Tidak ada yang menarik saya melibihi Qadiriyah, yang memenuhi semua aspirasi spiritual saya,” katanya. Karya ini dirampungkan Dara saat berusia 28 tahun.

Ia juga menulis Hasanah al-‘Ârifîn, aforisme atau teladan para mistikus. Dara mengupas 107 tokoh sufi dari berbagai kelompok spiritual. Pada sisi lain, ia mengkritik ulama-ulama egois yang hanya fokus pada ritual yang formalis. Para ulama saat itu banyak yang mempolitisasi agama demi kepentingan diri sendiri, kepentingan duniawi.

Lewat buku ini, dara ingin membuka kedok ‘kebohongan’ orang-orang yang berjubah agama, serta mereka yang kerap menjual-belikan fatwa untuk kepentingan kelompok tertentu atas nama agama. Dara menulis:
Semoga dunia terbebas dari kebisingan para ‘ulama’,
Tak ada seorangpun yang harus membayar untuk setiap fatwa!

Salah satu karyanya yang mengejutkan adalah koleksi puisi, yang berjudul Iksîr al-`Azam, eliksir atau obat ketetapan hati. Sajak-sajak berikut ini setidaknya menggambarkan pemikirannya tentang Tauhid, keesaan Tuhan.
Lihatlah di mana pun kamu melihat, semuanya adalah Dia
Wajah Tuhan ada di mana pun wajahmu kau hadapkan.

Apapun yang kau miliki, selain diriNya adalah obyek semata
Apapun selain dirinya memiliki keberadaan yang fana
Keberadaan Tuhan sebagaimana Lautan tak bertepi
Manusia ibarat busa dan gelombang di airNya

Pertemuan ‘Dua Lautan’
Pemikiran Dara yang cukup berpengaruh dan menyedot perhatian khalayak adalah tentang confluence of the two oceans, pertemuan ‘dua lautan’, Islam dan Hindu. Sebelum mengkaji agama Hindu, ia mempelajari bahasa Sanskerta, bahasa kitab suci agama Hindu Weda. Garis demarkasi atau jurang pemisah antara Islam dan Hindu, kala itu, memang begitu mencolok. Keduanya merasa paling benar sendiri dan menyalahkan satu sama lain. Itulah ibarat dari dua lautan yang dimaksud.

Ia menerjemahkan kitab-kitab induk agama Hindu, yaitu Bhagavad-Gita, Yoga Vasishtha, dan Upanisad. Terjemahan ini merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi pengembangan kajian-kajian spiritualitas dan filsafat Hindu di hari kemudian. Di antara ketiga kitab tersebut, Dara banyak menemukan hal-hal menarik di Upanishad.
Upanisad yaitu intisari filosofi dari kitab Weda. Suatu tema yang menonjol dalam kitab ini adalah ajaran tentang hubungan Atman dan Brahman. Atman adalah segi subyektif dari kenyataan, diri manusia. Brahman adalah segi obyektif, makro-kosmos atau alam semesta. Upanisad mengajar bahwa manusia mencapai keselamatan (moksa atau mukti) kalau ia menyadari identitas Atman dan Brahman. Konon, di masa silam diperkirakan ada 1008 karya Upanishad ini, namun kini tinggal beberapa saja.
Minat Dara untuk meneliti agama Hindu tidak tanggung-tanggung, ia menerjemahkan 52 Upanishad ke dalam Bahasa Persia. Ia menjelaskan, rahasia terbesar dalam Upanishad adalah pesan ke-esa-an Tuhan (monoteisme), yang identic dengan ajaran tauhid dalam al-Quran.

Pencarian pesan monoteisme dalam agama Hindu ini berawal dari keyakinan Dara pada al-Quran yang menyatakan, “Tuhan telah mengutus para Nabi sejak dahulu kepada setiap bangsa untuk menyembah hanya kepada-Nya.” (QS. 13: 7). Maka tak heran jika—dalam Sirr al-Akbar, rahasia agung—dia melihat kemungkinan, adanya tokoh Hindu yang sesungguhnya dia adalah Nabi, begitu pula dengan kitab suci Hindu juga berasal dari wahyu Tuhan.

Nah, hasil kajiannya ini ia tuangkan dalam buku berjudul Majma al-Bahrain, himpunan dua lautan. Tepatnya, saat ia berusia 42 tahun. Buku yang terdiri dari 22 bab ini merupakan klimaks dari pergolakan pemikiran sufistik di benak Dara.

Ia menemukan kesamaan konsep antara Hindu dan Islam dalam bingkai sufistik. Misal, Istilah Hindu tentang ‘mukti’, identik dengan konsep sufi Islam tentang ‘peleburan diri’ dalam Tuhan. Juga, konsep sufisme Islam tentang `isyq (Cinta), identik dengan maya pada monotheisme Hindu. Menurut Dara, dari cinta lahirlah Jiwa Agung: dalam tradisi Sufi dikenal sebagai Muhammad, dan dalam Hindu dikenal nama Mahatma atau Hiranyagarba.“Mistisme dalam Islam dan Hindu adalah seimbang,” tulisnya.

Jelas, Dara ingin menunjukkan keindentikan doktrin-doktrin Hindu dan Islam tentang tawhîd dalam buku tersebut. Ia juga memandang, bahwa kebijaksanaan terdalam dalam Upanisad dan al-Quran adalah sama, karena berasal dari sumber yang sama, yaitu Tuhan. Baginya, Upanisad adalah kitab yang oleh al-Quran disebut sebagai sebuah kitab yang tersembunyi (Q 56: 78). Jadi ia adalah salah satu kitab suci yang harus diketahui oleh seorang Muslim, sebagaimana ia harus mengetahui Taurat, Zabur, dan Injil.
Dara Shikoh menulis, “Semua kitab suci, termasuk Weda, berasal dari satu sumber. Kitab-kitab suci itu adalah suatu komentar terhadap satu sama lain. Bahkan, kedatangan Islam tidak membatalkan kebenaran keagamaan yang terkandung dalam Weda atau menggantikan pencapaian-pencapaian orang-orang Hindu.”
Sayang sekali. Pada puncak perkembangan intelektualnya ia justru menjumpai batu sandungan. Tahun 1657 ayahnya terjangkit penyakit serius, sehingga tampuk kekuasaan harus segera berganti. Ini menjadi pemicu sengketa perebutan kekuasaan antara putra-putra Shah Jehan, Dara Shikoh dan adiknya, Aurangzeb.

Pertikaian ini berujung pada 8 Juni 1658, dan kemenangan ada di pihak Aurangzeb. Setelah berkuasa, Aurangzeb memfitnah kakak tertuanya itu, dengan tuduhan kafir dan pelaku bid`ah, akibat pikira-pikirannya yang dinilai nyeleneh atau ngawur itu. Dara akhirnya dieksekusi mati melalui keputusan pengadilan yang dikeluarkan adiknya sendiri tahun 1659, dan dikubur di komplek pemakaman kerajaan di Humayun Delhi India. [Dari berbagai sumber].

Syir'ah, Edisi 55, Juli 2006.

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger by Pemuda - Premium Blogger Themes