Friday, February 16, 2007

Macan-Macan Betina Muslim Indonesia


Tidak hanya Kartini. Banyak tokoh perempuan yang punya andil besar dalam perkembangan Islam Indonesia. Tapi sayang, nama mereka tak dikenal.

Oleh Abdullah Ubaid Matraji


Menelisik sejarah perempuan bukan perkara mudah. Apalagi, lebih khusus, ihwal perempuan yang berperan dalam gerakan dan pemikiran Islam. Penulisan sejarah di Indonesia masih dilingkupi hegemoni tradisi patriarkhi, laki-laki berkuasa atas perempuan.

Maka tak salah lagi, jika penyebutan peran kaum perempuan dalam buku-buku sejarah sekadar kosmetik belaka. Kalaupun ada, mereka hanya berkecimpung dalam wilayah domestik, seperti dapur umum para gerilyawan, dan tenaga medis luka ringan saat perang melawan penjajah. Tak lebih dari itu.

Bagaimana dengan “ibu kita” Kartini, bukankah punya kiprah besar? Ya, Kartini tak hanya dikenal publik, tapi juga diperingati saban tahun sebagai tokoh emansipasi, pejuang kesetaraan.

Kalau ditilik, banyak juga pejuang perempuan selain Kartini. Umumnya mereka bergerak di organisasi. Tahun 1912 berdiri organisasi perempuan Poetri Mardika. Ada juga Pawiyatan Wanito di Magelang tahun 1915, Aisyiah di Yogyakarta tahun 1917, Percintaan Ibu kepada Anak Temurun (PIKAT) di Manado tahun 1917, Wanito Hadi di Jepara tahun 1919, Poeteri Boedi Sedjati di Surabaya tahun 1919, Serikat Kaoem Iboe Soematra di Bukit Tinggi tahun 1920.

Di antara para aktivis perempuan itu, Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946) adalah salah satu aktivis Islam yang menonjol. Ia dari organisasi Aisyiah. Sebelum organisasi perempuan Muhammadiyah ini terbentuk tahun 1917, Nyai Dahlan, sapaan akrabnya, bergiat untuk memberdayakan perempuan sejak tahun 1914. Kala itu, istri pendiri ormas Muhammadiyah ini membangun perkumpulan Sopo Tresno (siapa suka), khusus untuk perempuan.

Baru pada tahun 1917, nama perkumpulan itu, berubah menjadi Aisyiah. Masyarakat Kauman, Yogyakarta, adalah sasaran pemberdayaan Nyai Dahlan. Waktu itu masyarakat di sana beranggapan, perempuan di bawah laki-laki dalam segala hal, baik urusan publik maupun domesik. Ini senada dengan adagium masyarakat jawa waktu itu, “Wong wadon iku suwargo nunut, nerakane katut wong lanang”, perempuan itu masuk surga karena mengikuti orang laki-laki, begitu juga masuk neraka secara otomatis ikut orang laki-laki.

Adagium ini ditentang Sopo Tresno yang dipelopori Nyai Dahlan. Menurutnya, perempuan adalah patner kaum lelaki. Mereka sendirilah yang harus menentukan dan mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah kelak, bukan malah ngekor kepada kaum lelaki. Metode pemberdayaan yang dilakukan adalah melalui forum-forum pengajian.

Perempuan yang bernama asli Siti Walidah ini juga menaruh perhatian pada pendidikan. Ia mencetuskan istilah “catur pusat”, yaitu pendidikan di empat pusat: lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan tempat ibadah. Gagasan inilah yang kemudian, pada tahun 1912, ia ejawantahkan dalam bentuk sekolah, yang bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, dengan menggunakan sistem pembelajaran ala Belanda.

Memang diakui, perjuangan Nyai Dahlan tak lepas dari ormas Muhammadiyah. Inilah yang membedakannya dengan Rahmah el-Yunusiah. Perempuan kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat, tahun 1900 ini bergerak atas inisiatif pribadi. Tak terkait organisasi apapun.

Ia bercita-cita mendirikan sekolah khusus kaum perempuan. Karena idenya itu, Rahmah kerap dicibir masyarakat. ”Mana pula orang perempuan akan mengajar, akan menjadi guru... mengepit buku... tidak ke dapur. Daripada buang-buang waktu, akhirnya akan ke dapur juga. Lebih baik dari kini ke dapur.”

Meski dicemooh, putri seorang kadi (hakim) di Padang Panjang ini tetap kekeh pada pendirian. Ia lalu mengutarakan keinginannya itu kepada Zaenuddin Labay, kakaknya. Untuk menguji kegigihan adiknya itu, Labay bertanya.

”Apakah Amah benar-benar siap mendirikan sekolah putri? Tidak takut dengan tantangan kaum perempuan yang masih memegang teguh adat?”
”Insya Allah Amah siap dan sanggup. Saya akan menghadapi mereka. Saya harus memulainya meski memerlukan banyak pengorbanan.”

Pada akhir perbincangan, Amah, panggilan akrabnya, mempertegas, ”Jika kakanda bisa, kenapa saya tidak bisa. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa.” Melihat keseriusan itu, Labay akhirnya mendukung cita-cita adiknya. Tanggal 1 November 1923 berdirilah Madrasah Diniyah li al-Banat atau juga dikenal Diniyah School Putri.

Sekolah yang mulanya bertempat di masjid Pasar Usang, Padang Panjang itu, kini berkembang pesat menjadi perguruan besar yang memiliki kampus modern. Bagi Rahmah, pendidikan adalah nomor satu. Karena itu, sekolah harus independen, bebas dari afiliasi ormas atau aliran politik. Politik untuk murid adalah kecintaan pada tanah air, anti penjajah, dan dilandasi dengan iman.

Rasuna Said tidak sejalan dengan pendapat ini. Perempuan kelahiran Maninjau 14 September 1910 itu adalah tenaga pengajar Diniyah School Putri. Kawan seperjuangan Rahmah. Menurutnya, murid-murid itu perlu berpolitik dan mengambil jalur perjuangan lewat situ. Karena itu ia meninggalkan dunia pendidikan dan terjun ke dunia politik, dan meninggalkan Diniyah School Putri, pada tahun 1930

Ia dijuluki ”singa betina” karena keberaniannya mengkritik pemerintah Belanda. Juga, tercatat sebagai wanita pertama yang terkena speek delict, hukum Kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun bisa ditangkap karena omongan yang merugikan pemerintah.

Rasuna juga berguru pada Haji Rasul alias H. Abdul Karim Amrullah, ulama terkemuka di Minangkabau. Di sinilah ia memahami pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berfikir.

Pro kontra poligami pernah ramai dan kontroversi di tanah Minang tahun 1930-an. Ini berakibat pada meningkatnya angka kawin cerai. Rasuna menganggap, kelakuan ini bagian dari pelecehan kaum perempuan.

Tidak hanya dengan orasi mulut, ia juga berjuang dengan pena. Tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi majalah Raya. Dalam waktu singkat, tulisan-tulisannya mampu mengobarkan obor pergerakan dan api perlawanan rakyat Minangkabau terhadap penjajah. Ia juga menerbitkan majalah Menara Putri, yang khusus membahas seputar kewanitaan dan keislaman.

Perempuan dalam kultur pesantren juga tak mau kalah. Sholihah A. Wahid Hasyim adalah salah satunya. Ia adalah ibu Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ia hidup dalam lingkungan pesantren di Jombang, sebagai menantu Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (1926). Ia juga putri Bisri Syamsuri, pemangku salah satu pesantren di Jombang, Jawa Timur.

Sholihah ingin mendobrak tradisi perempuan-perempuan pesantren yang apatis dengan politik dan dunia luar. Dan juga menepis stigma-stigma miring seputar peran perempuan pesantren. Sepeninggal suaminya, tahun 1953, ia kian aktif di berbagai organisasi. Antara lain, menjadi pengurus Nahdlatul Oelama Muslimat (NOM), kini Muslimat.

Tahun 1955 ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta. Tak lama kemudian, ia terpilih sebagai anggota DPR gotong royong, tahun 1958. Dan pada tahun 1960, ia mendirikan Yayasan Bunga Kamboja. Melalui aktivitasnya tersebut, ia ingin menyadarkan kepada khalayak, ”Ini lho bukti bahwa perempuan pesantren tak kalah saing dengan perempuan kota ataupun laki-laki.”

Perempuan yang meninggal tahun 1994 ini juga pernah mendorong Pengurus Besar NU agar bersikap tegas dalam kasus tragedi 30 September 1965. Selaku ketua pusat Muslimat, ia adalah orang pertama yang membubuhkan tanda tangan di atas surat pernyataan yang berisi kecaman terhadap aksi kekerasan tersebut. Bahkan, ada yang mengatakan, ”Andai Sholihah tidak mengawali tanda tangan, sangat mungkin PBNU tidak mengeluarkan pernyataan sikap.”

Tokoh-tokoh di atas sebagai bukti, perempuan Islam Indonesia punya andil sejarah dalam pembentukan wacana keislaman, pendidikan, dan politik Sayangnya meraka tak dikenal, bahkan tak disebut dalam buku-buku sejarah di sekolah. []


Syirah/Edisi 62/Februari 2007.

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger by Pemuda - Premium Blogger Themes