Sunday, February 18, 2007

Rebutan Masjid atawa Rebutan Ideologi?

Istilah "rebutan masjid" berawal dari pernyataan Hasyim Muzadi, Ketum PBNU, saat mengisi workshop yang digelar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, di Jakarta, Senin 12 Februari. Kemudian, menyeruak di masyarakat dan di kalangan penggede ormas keagamaan. Apa benar ada perebutan masjid? Atau jangan-jangan malah perebutan ideologi? Simak saja pantauan syirahonline berikut ini selama sepekan.


Masjid NU dan Muhammadiyah Direbut Organisasi Lain
Oleh : FATHURI/SYIRAH/12-2-2007

Mengenai sikut-sikutan di antara umat Islam yang disinggung Hasyim Muzadi dalam Workshop Pengkaderan Nasional yang diadakan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) memang bukan hal yang asing. Di antara yang cukup meresahkan adalah perebutan masjid oleh beberapa organisasi berbeda.

Hasyim sendiri punya cerita. “Kemarin saya ketemu Pak Din Syamsudin (Ketua Umum Muhammadiyah). Dia bilang, ‘Bagaimana nih masjid saya kok banyak diambil organisasi lain’. Saya bilang, ‘NU lebih dulu’,” ujar Hasyim.

Berdasarkan informasi dari salah seorang pengurus LDNU perebutan masjid ini terjadi di banyak wilayah, terutama di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. “Di Jatinegara (Jakarta Timur) itu ada masjid namanya al-Bahri. Masjid ini didirikan guru Marzuki, pendiri pesantren pertama di Betawi. Masjid itu sekarang sudah dikuasai oleh kelompok lain,” tandasnya.

Imbasnya, kalau ada orang main qasidahan di masjid langsung direspon dengan memasang pamflet yang isinya, “Maaf Masjid Bukan Tempat Main Ondel-Ondel.”

Lain lagi kasus yang terjadi di luar Jawa, di antaranya di daerah Sumatra Barat. Menurut salah seorang peserta workshop perebutan itu bukan dilakukan oleh organisasi, tapi perseorangan yang memegang kekuasaan politik. “Ada oknum yang tidak pernah ke masjid tapi dengan seenaknya mengganti pengurus masjid, ” tandasnya. []



Ketua DMI: Bukan Perebutan Masjid, Tapi Pergantian Pengurus
Oleh : ABDULLAH UBAID/SYIRAH/14-2-2007


Pernyataan Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) soal perebutan masjid (12/2) ternyata memantik komentar dari beberapa kalangan. Saat dihubungi Syir`ah, Fauzan Al Anshari, Ketua Departeman Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia, tak mau tahu dengan soal tersebut. “Itu hanya mengada-ada,” katanya enteng.

Zakky Mubarak, Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi DKI Jakarta, juga angkat bicara. Berbeda dengan Fauzan, Mubarak sependapat dengan Hasyim. Tapi, ia tidak setuju dengan istilah yang digunakan Ketua Umum PBNU itu. “Bukan perebutan masjid, tapi pergantian pengurus,” tukasnya.

Pergantian pengurus adalah masjid yang dulu cara beribadahnya ala NU atau Muhammadiyah, tiba-tiba berganti model lain. “Dulu ada tradisi salaman setelah shalat sekarang tidak diperbolehkan, dulu ada wiridan bareng setelah sholat kini tak ada, dulu setelah sholat ada doa bersama sekarang dihapus,” tuturnya. Inilah antara lain perubahan yang terjadi akibat pergantian pengurus.

Satu misal, orang di masjid itu banyak, tidak hanya NU atau Muhammadiyah saja. Ada juga dari organisasi di luar itu. Jika mereka dipilih masyarakat untuk menjadi ketua pengurus masjid, maka jadilah dia. Ia akan menerapkan cara beribadah di masjid sesuai keyakinannya.

“Biarkan saja mereka, kalau masyarakat tidak menerima, pasti akan diganti dengan sendirinya. Ini akan terjadi secara alamiah,” kata kiai yang acap mengisi ceramah di masjid agung Sunda Kelapa ini.

Seberapa besar fenomena perebutan ini? “Ada tapi sangat kecil,” katanya. Siapa pelakunya? “Ada lah tapi tidak mungkin saya sebut.” Mereka adalah kelompok minoritas tapi vokal. “Jangan salahkan masyarakat memilih orang dari kelompok ini sebagai pengurus, karena dia memang aktif di masjid,” kilahnya.

Di tengah perdebatan itu, Kepala Subdirektorat Kemasjidan Departemen Agama Hiemyar Jam’an saat dihubungi Syir’ah Online menyatakan belum tahu sama sekali soal ini. “Saya tidak paham. Saya belum tahu. Tiga hari saya tak baca koran,” katanya. [ ]



Ismail Yusanto: Memakmurkan Masjid itu Fastabiqul KhairĂ¢t
Oleh : NASRUL UMAM SYAFII/SYIRAH/
15-2-2007

Jakarta- Isu perebutan masjid milik kelompok tertentu oleh kelompok lain semakin marak dibicarakan. Kehadirannya menuai kontroversi.

Kali ini Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) bicara di Universitas Negeri Jakarta, Kamis (15/2) siang. Ia mengatakan bahwa istilah ‘perebutan’ itu tidak tepat. “Apa sih yang direbutkan,” tegasnya.

Tapi Ismail mengakui ada beberapa masjid yang mengalami perubahan tradisinya. Tidak ada jawaban jelas keluarkan dari Ismail ketika ditanya masjid apa. Lalu siapa yang merubah tradisi itu?

“Mungkin dari kelompok Salafi, Jamaah Tabligh atau PKS. Dari HTI tidak ada,” jawabnya tegas.

Fenomena itu bagi Ismail, bisa jadi karena masjidnya sepi sehingga perlu dimakmurkan (diramaikan). Kalau masjid sudah ramai, lanjut Ismail, timbul kecemburuan dari kalangan yang merasa dilangkahi.

“Itu tidak masalah. Karena itu bagian dari fastabiqul khairĂ¢t (berlomba-lomba dalam kebaikan),” tukasnya.[ ]

[Sumber:
www.syirah.com]

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger by Pemuda - Premium Blogger Themes